
Setelah keluar dari ruang meeting, Ben menyerahkan map besar untuk ditandatangani Ares. "Tiga hari lagi perusahaan ini akan resmi menjadi milikmu tuan muda."
Ares hanya tersenyum saja sambil menandatangani, naik pangkat memang suatu pencapaian yang luar biasa namun bagi Ares ia akan semakin disibukkan dengan pekerjaan barunya menggantikan sang papa.
"Keluarga Tessa meminta kau memberi keringanan terhadap hukuman penjaranya." Mulai Ben memberitahu informasi yang didapat.
"Aku tak mau mendengarnya, berapapun uang yang mereka berikan. Kejahatan harus dibalas dengan setimpal!." Tegas Ares.
"Oke baiklah kalau begitu, aku sangat setuju."
"Ada berapa jadwal lagi?." Lanjut Ares.
Ben mengeceknya. "Sudah selesai tidak ada pertemuan khusus, kau hanya perlu memeriksa semua dokumen penting ini."
Karena ingin segera pulang, Ares semangat melanjutkan pekerjaan.
"Gak heran pengantin baru." Lirih Ben dengan sengaja.
"Diam kau, suatu saat nanti pasti akan seperti ini juga." Balas Ares tak mau kalah.
"Iya-iya."
Ben hanya terkekeh saja seraya melangkah menuju ruangannya kembali melanjutkan pekerjaan.
.
Mansion Ares.
Ting tong ting tong!
Mendengar bel berbunyi si bibi langsung berlari kecil untuk melihat siapa yang datang.
"Non Anna kayaknya."
"Sebentar non.." Ucap bibi.
Cklek!...
__ADS_1
Pintu utama pun dibuka, seketika senyum si bibi menghilang lenyap akan keterkejutan setelah melihat siapa yang datang.
"N-nyonya Sarina!??."
Sudah hampir 5 tahun Sarina dan si bibi tak bertemu, Sarina merasa tertegun mengingat masa lalu namun ia tak bergeming mengingat tujuannya datang ke sana untuk apa.
"Banyak yang berubah, apa bibi tak akan membiarkan saya masuk?."
Si bibi seketika tersadar, ia sedih dan bahagia bisa bertemu lagi dengan majikannya dulu dari zaman Ares masih anak kecil. "Tentu saja, silahkan masuk nyonya den Ares juga pasti senang."
Sarina masuk ke dalam. "Dia tidak tahu jika saya datang ke sini."
Si bibi mengerutkan keningnya, ia ingin bertanya karena merasakan sesuatu yang aneh perasaannya juga tiba-tiba tak tenang.
Tapi ia tahu batasan tidak mungkin bertanya lebih, bibi memilih ke belakang untuk membawa jamuan.
Tak lama si bibi datang menyuguhkan jamuan.
"Dimana anak itu?." To the point Sarina.
"Den Ares nyonya?."
Feeling bibi ternyata benar, ia mulai deg-degan pasalnya tahu hubungan rumit orang tua Ares. "Duh jangan bilang..."
"Non Nao sepertinya sedang di halaman samping nyonya." Balas bibi.
Tanpa berucap lagi Sarina berdiri dari duduknya berjalan menuju halaman samping, si bibi kalang kabut ia langsung ke belakang untuk menghubungi Ares takut terjadi apa-apa.
.
Tampak Nao sedang menghirup angin segar di sana.
"Apa begitu menenangkan?."
Nao terhenyak saat mendengar suara yang begitu asing, ia menatap ke arah Sarina yang menatapnya tak jauh dari posisi berdiri.
__ADS_1
Tentunya terkejut bagi Nao, wanita paruh baya yang tampak seumuran dengan Sarah tiba-tiba ada di sana. "Anda siapa??."
Nao celingak-celinguk, kenapa si bibi memberi masuk orang yang tak ia kenal? tapi gak mungkin juga si bibi mempersilahkan sembarang jika orang itu tak penting.
Sarina menghela nafas kasar, ternyata putranya Ares sudah sejauh ini belum memperkenalkan dirinya kepada Nao.
"Saya ibu mertuamu!." Balas Sarina penuh penekanan.
Mata Nao terbelalak ia bahkan menutup mulutnya, mama Ares??.
"M-mama?."
"Jangan panggil mama aku bukan ibumu!."
Nao tak peduli, karena saking senangnya bisa mengetahui ibu kandung Ares.
"Sejak kapan ma? apa Ares tahu?." Nao mendekati Sarina hendak mencium tangannya, namun Sarina menolak dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Kau tak bersalah tapi saya tetap tak suka, jadi jangan mendekatkan diri saya tak merestui pernikahan kalian!." Lanjut Sarina.
Deg!
Hati Nao tentunya teriris mendengar itu, namun ia peka permasalahannya. Dan wajar saja jika Sarina kecewa, Nao sendiri pernah mendengar kisah masa lalu Agam dan Sarina yang perceraian mereka ada keterlibatannya dengan Sarah.
"Tak masalah respon mama mau bagaimana, tapi aku akan tetap memperlakukanmu lebih dari pada Ares."
Sarina tak suka dengan respon Nao, bukan ini yang ia inginkan. "Jangan dekat-dekat!."
Wajah cantik Nao seketika berubah memelas, Sarina mengerutkan keningnya tak mengerti. "Jangan kekanakan! ada apa kau ini?."
"Ma aku sedang hamil loh."
"HAAHHH!!????."
Pekikan Sarina mampu membuat burung-burung di sana berterbangan kesana-kemari.
.
__ADS_1
TBC