
Kediaman Leonardgo..
Ruang tamu
Di sana seorang ibu dan dua orang anaknya sedang duduk menghabiskan waktu bersama dengan menonton televisi, sementara Agam dan Andrew tidak ada mereka sedang menyelesaikan masalah pembatalan pernikahan dengan Airin.
Mama Sarah duduk diantara Ares dan Nao.
"Apa hari-hari kalian baik-baik saja? mama harap seperti itu ya, masalah Andrew juga mengejutkan dengan berakhirnya hubungan mereka." Ujar Sarah.
"Hari-hari ku baik." Jawab Ares dan Nao bersamaan membuat keduanya saling lirik.
"Kita tunggu mereka pulang." Lanjut Sarah kembali menikmati acara televisi.
Nao membuka handphone saat sebuah pesan masuk.
"Kau pulang tidak memakai bra itik??." Isi pesan Ares.
Wanita cantik itu sedikit terkejut sambil menatap sinis Ares yang tampak acuh saja. Nao membalas pesan kakak tiri sekaligus kekasihnya. "Aku buru-buru mana sempat, apa kau menyimpannya?."
Selang dua menit Ares baru membuka pesan untuk menghindari rasa curiga Sarah.
"Ada di kamarku jika kau mau mengambilnya jangan memakai bra saat masuk." Balas Ares.
Nao melemparkan tatapan tajam pada Ares, pipi wanita itu tampak sedikit merona. "Why? justru itu akan berbahaya!."
Ares mengangkat sudut bibirnya, Namun ia memilih tidak membalas pesan Nao.
"Ada apa? kenapa tatapan-mu terhadap Ares masih seperti itu Nao? apa kalian belum akur sepenuhnya!?." Ujar mama Sarah.
__ADS_1
"Dia sangat menyebalkan ma apa itu salah jika aku sering emosi?." Timpal Nao yang baru saja dari belakang jari lentiknya dicubit Ares.
"Nao sendiri sering melanggar aturan perusahaan, apa aku tak boleh emosi juga ma?." Tak mau kalah Ares.
Sarah bingung harus memihak yang mana. "Kalian sudah dewasa ayolah jangan kekanak-kanakan atau mama kasih makan **** * sapi!."
"Ha!??." Ares juga Nao terkejut.
"Iya mau? dulu kata mendiang nenek Nao kalo ada adik kakak atau orang yang gak akur-akur kasih saja **** * sapi." Lanjut Sarah mengingat momen bersama mantan mertuanya yang sudah tiada. "Dan itu ampuh banget."
"No!." Tolak Ares mentah-mentah.
"Gak mam! sebenarnya kita juga sering akur kok." Potong Nao merasa mual saat membayangkannya.
"Kalo gak mau yaudah pada akur kalian." Lanjut Sarah tak mau dibantah.
"Hmmm." Balas singkat Ares memaafkan.
Karena ada beberapa email yang belum dibuka, Ares berlalu duluan ke kamarnya untuk melihat.
"Kenapa belum sampai juga ya?." Lirih Sarah melihat handphonenya, sudah cukup lama ia menunggu Agam dan Andrew pulang.
"Mungkin sebentar lagi." Ucap Nao.
"Kamu istirahat ya mama juga mau ke kamar sekarang."
"Baiklah ma."
Sarah mengecup kening putrinya setelah itu berlalu ke kamar begitupun dengan Nao.
__ADS_1
Mendapati Ares sibuk Nao memilih menghubungi sahabatnya Anna yang akhir-akhir tak menunjukkan batang hidungnya.
"Kemana saja kau An?." Gumam Nao saat panggilannya tak kunjung terhubung.
Wanita cantik itu memilih mengerjakan tugas kuliahnya saja yang belum tersentuh dari tadi siang, karena ingin fokus Nao sampai menonaktifkan handphone-nya.
Selang 25 menit...
Tok tok tok!
Nao beranjak dari duduknya untuk membuka pintu kamar. "Sebentar bi."
Pintu dibuka oleh Nao, tampak wanita cantik itu sedikit terkejut bukannya si bibi yang datang melainkan Ares. "Kak!?."
Ares mendorong tubuh Nao hingga keduanya masuk ke dalam, tangan Ares mengunci pintu kamar itu agar tak ada siapapun yang mengganggu. "Sedang apa? kenapa kau tak membalas pesanku ha?."
Nao menggaruk kepala tak gatal. "Aku ada tugas, dan handphone sengaja ku matikan sebentar."
"Kenapa kau kesini bagaimana jika ada yang melihat?."
"Tenang saja itik."
Ditatapnya Nao yang hanya mengenakan baju tidur sepaha dengan rambut di-kuncir juga kacamata terpasang, sangat cantik sekaligus sexy dan lucu di mata Ares.
Tanpa bicara lagi pria tampan itu duduk di kursi meja belajar Nao, menarik tubuh kekasihnya untuk duduk di atas pangkuan. "Tunjukan, akan ku bantu tugasnya." Bisik Ares dengan tangan yang melingkar pada perut rata Nao.
Nao merasa canggung dengan posisi keduanya saat ini, apalagi nafas berat Ares terasa hangat menerpa leher jenjang belakangnya. "Sebenarnya tinggal sedikit lagi hanya tugas PPT."
"Nao.." Lirih lembut Ares, perlahan tangan kekarnya naik menyentuh squishy kencang yang masih berbungkus itu. "Kenapa memakainya? akan ku lepas."
__ADS_1