
Pertandingan berlangsung dengan meriah juga menegangkan, lawan Ares sepenuhnya murni dari Eropa dengan tubuh besar juga tinggi. Namun tim Ares tak kalah skill dengan mereka, sehingga setelah beberapa set pertandingan berlangsung, semua yang ada di sana menyoraki ketika tim Jepang kembali menang.
Agam juga Sarah berdiri, Ben heboh mengibarkan bendera kecil yang dibawanya sementara Nao tersenyum sambil tepuk tangan.
"Anakku memang hebat." Ujar Agam.
Tanpa sadar camera menyoroti wajah Nao karena kecantikannya yang memanjakan mata, sehingga layar monitor diisi olehnya.
Semua orang tertuju pada Nao tat kala Ares terciduk menatap layar monitor, hebohlah orang-orang.
"Tapi nona kalian terlihat cocok." Ujar seorang wanita asli sana yang duduk di samping Nao.
Nao hanya menggaruk kepala tak gatal. "Dia sebenarnya kakakku."
"Oh my good! bisakah nanti kita berfoto?." Antusias mereka.
Mau tak mau Nao menganggukinya. "Tentu saja."
"Ares itu selain tampan tampangnya, mainnya juga tampan." Ucap salah satu dari mereka. "Apa kakakmu sudah memiliki kekasih? sejauh ini media sosialnya tidak menunjukkan tanda-tanda, tapi kurasa orang seperti Ares tidak mungkin tak memiliki orang spesial."
"Karena ini bersifat privat aku tak akan buka suara." Ramah Nao.
Mereka tersadar. "Ah maaf aku terlalu berlebihan."
"No problem."
"Kena getahnya dari fans Ares ya?." Bisik Ben yang membuat Nao terkekeh.
__ADS_1
Setelah acara bubar Ares menyapa para penggemarnya sebelum kembali ke hotel, padahal ia bukan selebritis melainkan atlet tapi fansnya itu malah bertambah.
Beda hal dengan Agam juga istri dan anaknya mereka memilih duluan menunggu Ares di hotel yang ditempati.
Beberapa saat menunggu, Ares datang masuk ke dalam hotel ia sudah ganti pakaian dengan kaos yang memperlihatkan ketiak juga bahu kekarnya.
Agam langsung merangkul putranya itu. "Ini pasti melelahkan bagaimana lukamu nak?."
"Jangan khawatir, sudah sembuh." Balas Ares seraya meletakkan tas yang dibawanya sehabis bertanding.
Sesekali mata Ares dan Nao bertemu namun itu tak lama, Ares memilih acuh karena rasa bencinya masih menguasai diri sementara Nao fine-fine saja ia duduk dengan tenang menerima sikap Ares.
"Ini canggung sekali." Jerit batin Nao.
Sarah melirik keduanya secara bergantian, situasi ini sudah dapat ia tebak. "Ares apa setelah ini kau akan pulang?." Tanya Sarah menyairkan suasana.
"Pulanglah duluan ada sesuatu yang harus ku lakukan bersama coach, kemungkinan jika lama aku tak akan kembali." Balas Ares.
Agam menghela nafas panjang. "Baiklah papa sebenarnya membutuhkan peranmu dalam perusahaan, tapi jika seperti ini tak masalah demi tanggung jawabmu juga."
"Hmmm."
"Apa kalian tidak akan saling sapa?." Ujar Sarah sengaja dengan tatapan tertuju pada Nao juga Ares. "Setelah semua apa yang telah terjadi mama ingin kalian tetap akur, kita keluarga."
Mata Ares dan Nao bertemu.
Nao mengalah ia tak mau ribet cari masalah. "Hallo, senang bertemu kembali denganmu kak." Lirih Nao.
__ADS_1
"Ya." Balas singkat Ares seraya mengalihkan pandangan.
Ben yang menyaksikan merasa gemas sendiri, ingin rasanya ia berteriak.
Hanya itu interaksi mereka berdua, selebihnya Ares sibuk mengobrol dengan Agam juga Ben.
"Waktu penerbangan sebentar lagi, kita pamit." Ujar Agam yang diangguki Ares.
"See you Ares." Lirih mama Sarah menepuk pundak anaknya.
"Hmmm see you."
Mereka pamitan, sudut mata Nao melirik Ares rasanya ingin sekali menayangkan wanita yang ada di status namun itu bukan urusannya lagi, Nao memilih tak ikut campur.
"Apa kau tidak akan bicara kepadanya?." Bisik Ben menyarankan sebelum kembali berpisah.
"Kita butuh waktu Ben."
"Ya terserah kau saja."
Mereka pun berlalu pergi kini hanya tinggal Ares sendirian di hotel.
Pria tampan itu meraih rokok yang ada di atas nakas, menghisapnya kuat lalu ia tiupkan sembarang arah. Bayangan wajah cantik Nao mengisi seluruh benaknya. "Banyak sekali yang berubah, kenapa dia memotong rambut indahnya itu?." Lirih Ares merasa kecewa. "Ah damn it!."
.
TBC
__ADS_1