Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 109


__ADS_3

Jepang.


Seorang wanita paruh baya dengan rambut se-leher menatap layar iPad dengan raut wajah tanpa ekspresi, wanita itu walaupun hampir mendekati usia lima namun kecantikannya masih tak memudar.


"Dia menikah tak mengundangmu nyonya." Ujar seorang wanita tampak asistennya.


Masih ditatapnya lekat foto dalam iPad itu, dimana di sana terdapat foto pernikahan Ares dan Nao yang sudah dipublikasikan. Hubungan keduanya kini resmi.


"Dia mengakuiku tapi melihatnya menikahi anak dari Sarah tentunya aku kecewa!."


Asisten itu hanya bisa menunduk, ia tahu kekecewaan atasannya yang dimana pernikahan dua anak lelakinya ia sama sekali tak tahu dan tak diundang.


"Andrew dan Ares sepertinya tak mau anda berinteraksi dengan keluarga baru Agam, bisa dikatakan mereka menghindari ketidaknyamanan nyonya Sarina." Ujar asisten.


"Mereka bahagia, sedangkan aku sebagai ibunya?." Potong Sarina.


Asisten terdiam.


"Atur penerbangan, aku akan menemui Ares sekarang juga!." Lanjut Sarina penuh penekanan.


"Baik nyonya."


Sarina berdiri dari duduknya ia melangkah menuju kamar, rasa kecewanya benar-benar memuncak. Tak masalah jika ia tak diundang Sarina tahu kedua putranya tak ingin ada perseteruan.


Tapi setelah melihat Ares menikahi Nao? Sarina tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.


"Ares apa tidak ada lagi wanita lain?." Lirih Sarina, ia duduk di tepi ranjang dengan kekecewaan yang mendalam. "Kenapa harus dengan anak wanita itu!."


Tak terasa air matanya jatuh, ini bukan Sarina yang orang kenal. Ia wanita yang tegas penuh disiplin namun ketika putranya tak berkabar juga menyembunyikan pernikahan tentu ibu mana yang tak kecewa dan sakit hati.

__ADS_1


Sejauh ini Andrew dan Ares memang begitu menyayanginya meluangkan waktu.


"Nao merubah semuanya!!."


.


.


Mansion Ares


"Mulai sekarang kamu tidak boleh ke kantor lagi, cukup di rumah dan fokus pada perkembangan anak kita itik." Ujar Ares setelah mencium perut Nao yang masih tampak rata itu.


"Aku bosan, ikut kerja saja ya nanti kalau usia kandungan sudah memasuki 4-5 bulan baru aku rehat." Balas Nao dengan wajah cantiknya yang memelas.


Ares tak kuasa jika Nao sudah seperti ini, diraihnya wajah itu Ares mencium liar penuh agresif bibir sexy Nao.


"Tapi aku tak mau jauh dari kamu." Timpal Nao lagi, entah kenapa setelah mengandung ia tak bisa ditinggalkan Ares, ini tak seperti biasanya.


"Kalau deket-deket terus takutnya aku yang tak bisa tahan baby, sekarang aku tak bisa bermain dengan leluasa karena ada anak kita."


"Ya kamu-nya harus tahan dong." Timpal Nao.


"Susah, di bawah sana juga masih berdiri."


Pipi Nao merona. "Haish.."


"Yasudah aku berangkat dulu, kamu masih boleh ke kantor sayang tapi tidak untuk hari ini istirahatlah di rumah bersama si bibi." Lanjut Ares.


Nao menghela nafas panjang, ia sebenarnya tak mau namun karena Ares mengijinkannya di lain hari jadi tak masalah. "Oke baiklah, hati-hati."

__ADS_1


"Panggilan sayangnya mana?." Sengaja Ares dengan tatapan penuh intimidasi.


Nao terkekeh. "Iya hati-hati mas Ares."


"Bagus."


Sepasang suami istri itu saling cium juga berpelukan, Nao menyaksikan kepergian Ares hingga hilang dari pandangan.


Setelahnya Nao kembali masuk ke dalam rumah.


Si bibi yang sedang menyapu halaman tersenyum. "Duh non bibi masih tak menyangka jika kalian sudah menikah saja."


Nao tersenyum mendengar itu.


"Hubungannya sangat rapat bibi gak ngeh juga."


"Bibi bisa aja."


Keduanya terkekeh, Nao melanjutkan langkah untuk masuk ke dalam rumah.


Tanpa disadari mereka, tampak di luar gerbang mansion Ares terdapat mobil hitam asing terparkir.


"Sekarang nyonya?."


"Ya!.."


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2