Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 92


__ADS_3

1 hari berlalu...


Ishak dan Lucy yang ditangani dokter berangsur-angsur pulih walaupun belum sepenuhnya bisa jalan, masih dalam kursi roda.


Interaksi Sarah juga Maya sudah tak tegang seperti dulu, mereka mendekatkan diri demi Lucy dan Nao.


"Bagaimana dengan bujang Francis itu? apa keadaannya sudah membaik?." Tanya Ishak penasaran, ia belum melihat Ares sejak ia siuman.


Nao menyodorkan buah-buahan untuk di makan sang ayah. "Ares sudah mendingan yah, hanya saja ia masih dilarang dokter untuk menggerakkan tubuh."


"Kenapa? kau merindukan putraku?." Celoteh Agam yang tiba di sana.


Ishak hanya menatap kesal. "Tidak ada yang salah jika aku menghawatirkan nya juga bukan?."


"Sudah-sudah." Timpal Sarah yang sudah bosan melihat mantan suami dan suaminya terus berseteru layaknya tikus dan kucing.


Agam dan Ishak sama-sama acuh seperti biasa, interaksi seperti itu sudah melekat bagi mereka.


Maya dan Nao hanya menggelengkan kepala saja.


Di ruang sebelah..


Dirasa tubuhnya tak se-lemas kemarin Ares mulai jalan karena bosan dengan instruksi dokter.


"Apa tidak merasakan sesuatu?." Tanya seorang suster wanita.


Ares menggeleng. "Tak usah khawatir."


"Oke selama 3 hari ke depan minum terus vitaminnya tuan."

__ADS_1


"Ya."


Setelahnya suster berlalu pergi meninggalkan ruang rawat inap Ares.


Pria tampan itu menggerakkan seluruh anggota tubuhnya, Ares loncat-loncat mengembalikan kebugaran setelah kejadian kemarin.


Ares melangkah untuk keluar menemui Ishak, namun dalam waktu bersamaan saat ia hendak keluar seseorang masuk. Tampak Andrew dan Ben datang.


"Bro!?." Antusias Ben melihat Ares yang tampak bugar seperti biasa.


"Jangan memaksakan diri lagi." Potong Andrew dengan tatapan intimidasi, takut jika Ares tak mempedulikan tubuhnya lagi demi Ishak.


"Don't worry aku benar-benar sudah sembuh, tak ada yang bermasalah." Balas Ares mengerti kekhawatiran kakaknya.


"Syukurlah." Andrew menepuk pundak Ares. "Ada yang harus dibicarakan, duduk dulu sebentar."


Tiga pria itu duduk di ruang tunggu khusus.


Tampak Andrew menghela nafas berat. "Malam itu kau menginap ya di rumah Ishak?."


"Ya."


"Kau tidak curiga dengan apapun?."


Ares mengerutkan kening mencoba menelaah maksud kakaknya. "Daniel?."


Andrew tak langsung menjawab, Ben mengeluarkan iPad menunjukkan sesuatu pada Ares.


Tampak di sana tayangan cctv diputar, tepat rekaman di ambil dari sudut halaman rumah Ishak yang tertuju pada parkiran mobil yang di mana saat itu ada 4 mobil berjajar. Mobil Ares, Daniel, Ishak dan Nao bersebelahan.

__ADS_1


Sekitar jam 1 malam, dua orang pria berbaju hitam dengan wajah tertutup mengendap masuk mengelilingi mobil Nao, bahkan salah satunya masuk ke dalam bawah mobil.


Namun tak lama mereka panik dan langsung bersembunyi saat Ares muncul loncat dari dalam jendela kamar Nao.


Mereka terlihat tak melanjutkan aksinya karena Ares lari mengelilingi rumah itu, dan dari tayangan cctv mereka melanjutkan aksinya pada mobil Ishak hingga sabotase itu selesai dilakukan.


"Seharusnya yang kecelakaan maut kemarin Nao, namun karena panik kau masih berada di halaman, mereka lupa dan menyabotase mobil yang salah yaitu mobil Ishak." Jelas Andrew.


Rahang Ares mengeras amarahnya memuncak, bagaimana jika saat itu Nao yang kecelakaan? melihat Ishak saja ia sudah tak terima apalagi jika terjadi pada wanita yang dicintainya. "Apa mereka sudah ditangkap!?."


"Sudah ku amankan." Timpal Ben.


"Jadi siapa dalangnya?."


Andrew menepuk pundak Ares. "Mereka sama sekali tak mengaku, hanya pebisnis yang merasa tersaingi dengan Ishak itu alasannya."


"Datanglah, sepertinya mereka ingin kau mainkan atau bisa dibilang uang yang diberikan dalang sangat besar sehingga mereka susah mengaku." Lanjut Andrew.


Ares memberikan kembali iPad itu pada Ben. "Oke kau menyuruhku untuk bermain?."


"Ya, aku tak mau ikut campur ini umpan-mu dik." Balas santai Andrew.


"Ben siapkan pisau yang ku maksud, aku menemui ayah mertua dulu." Lanjut Ares dengan aura dinginnya yang begitu kuat.


"Oke."


Ares pun melangkah keluar dari ruangan itu menuju tempat dimana Ishak dan Lucy dirawat.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2