
Di rasa tak benar Ishak membawa Ares ke tempat yang agak jauh, tidak dapat melihat teras depan dimana Nao dan Daniel berada. "Fokuslah Ares coba kau lihat ikan salmon yang masih kecil itu."
Ares menghela nafas kasar mencoba konsentrasi, ia ganti posisi. "Setelah dilihat di apakan ayah?."
"Jangan cuma dilihat kasih mereka makan, mereka tidak akan kenyang dengan hanya melihat pesonamu." Timpal Ishak sengaja.
Ares yang masih tak bergairah hanya patuh saja, memberi makan ikan dengan arahan Ishak.
"Sekarang lihatlah kolam sebelah, jika kau benar membudidayakan ikan kecil ini, maka mereka akan sebesar yang itu." Lanjut Ishak menunjukkan.
Ares merasa kagum dengan kemampuan Ishak dalam mengelola bisnisnya.
"Jangan cemberut begitu kau terlihat menjengkelkan lupakan Nao dan Daniel." Timpal Ishak yang menyadari mood Ares, pria paruh baya itu menarik celananya selutut lalu turun ke dalam kolam.
"Lihat dan perhatikan bagaimana cara menangkap ikan yang benar!." Sewot Ishak layaknya menggurui anak kecil.
Ares terkesima saat dengan mudah Ishak menangkap ikan besar itu. "Kenapa tidak dikejar-kejar sepertiku ayah?."
Ishak menghela nafas kasar, ternyata tidak semuanya ilmu calon direktur utama tahu. "Ya kau kemarin salah, bisa mati ikan ku dikejar-kejar kayak begitu."
Ares menggaruk kepala tak gatal.
Dilepasnya kembali ikan tangkapan Ishak barusan, lalu ia naik kembali ke permukaan. "Nah sekarang kau coba lah lakukan seperti arahanku."
Ares akan menunjukkannya dengan baik, ia pun melilitkan celananya lalu mendekati kolam.
Tubuh Ares kembali merinding ketika turun ke dalam kolam, namun ia berusaha untuk menghilangkan perasaan itu.
Kali ini ikan-ikannya lebih besar dari waktu itu, dengan penuh aba-aba Ares menargetkan satu ikan untuk ditangkap. Bayangan ikan itu seketika dalam benak Ares berubah jadi wajah Daniel.
"Kau!." Dengan meniru cara Ishak menangkap, akhirnya ikan besar itu dapat Ares tangkap dengan baik.
"Oke bagus, om kasih nilai 8/10."
Ares puas seraya menjitak kepala ikan itu sebelum dilepaskan kembali.
__ADS_1
"Ikut om ada hal serius yang ingin dibicarakan." Lanjut Ishak melangkah ke dalam rumah kembali.
"Oke."
Ares mengerutkan keningnya, mungkinkah Ishak akan membahas hubungan dia dengan Nao?.
Di ruang kerja Ishak, mereka duduk berhadapan membahas hal serius.
.
Pukul 22:00 malam.
Nao masuk ke dalam untuk istirahat, setelah mengobrol dengan Lucy Nao memilih masuk kamarnya yang sudah lama ia tinggalkan.
"Kemana kakak angkuh itu?." Gumam Nao menatap wajahnya dari pantulan cermin hendak cuci muka. "Ah biarkan saja dia pasti begitu marah padaku."
Sementara itu..
"Kau akan menginap?." Tanya Ishak memastikan pada Daniel.
"Iya om."
"Oke karena kamar tamu yang satu diisi kolegaku, jadi kalian tidur bersama saja." Ujar Ishak yang membuat mata tajam Ares hampir keluar.
"Tidak ada bantahan, jika kalian menolak pulang saja jangan menginap!." Tegas Ishak seraya berlalu menuju kamarnya.
Daniel kini menatap Ares, ada rasa segan dalam diri pria itu. "Kenapa kau tampak membenciku? aku tak merasa mengganggumu."
"Jangan berinteraksi terlalu berlebihan dengan Nao!." Datar Ares.
"Apa karena Nao kau begini?." Timpal Daniel. "Ayolah bro aku menyukainya sudah bertahun-tahun, ah apa mungkin aku belum meminta izin kepadamu? sehingga kau seperti ini?."
Bukannya makin lega, Daniel malah semakin ditatap penuh kebencian oleh Ares.
Mendapati itu Daniel merasa tertekan, ia memilih mengalah saja walaupun masih bingung, Ares bukan orang sembarangan.
__ADS_1
Kini mereka sudah berada dalam satu kamar yang sama, Daniel tidur duluan sementara Ares masih duduk di atas sofa fokus pada handphone.
Sebelum tidur Nao mengganti pakaiannya, ia pun menarik selimut menutupi tubuh indahnya itu.
Beberapa menit setelah terlelap sekitar 20 menitan, Nao dapat merasakan sebuah tangan kekar memeluk perutnya dari samping mengelus dengan lembut.
"Mimpi?." Batin Nao dengan mata yang masih terpejam.
Namun seketika Nao terbelalak tat kala menyadari sesuatu, ia menoleh ke belakang tampak Ares sudah berada di sana memeluk tubuh Nao dengan erat. "A-Ares!???."
Dengan perlahan Ares membuka matanya menatap lekat wajah cantik yang tampak panik juga keheranan itu. "Hmmm?."
"Dari mana kau masuk?." Tanya Nao.
"Sebelum kau masuk kamar ini aku lebih dulu mengambil kuncinya." Balas Ares santai dengan suara seraknya yang sexy.
"What?." Nao tak habis pikir. "Bagaimana jika ayah tahu? kau harus pindah atau nanti habis kena marah."
Ares menggeleng, tampak wajah tampannya cemberut. "Apa kau tidak merasa bersalah, setelah menyakiti hatiku bertubi-tubi?."
Nao peka arah pembicaraan Ares. "Ah itu, kau juga tahu Daniel bukan siapa-siapa..."
"Kau harus menerima hukuman! aku tidak pernah membuatmu cemburu dengan berdekatan bersama wanita lain." Timpal Ares merajuk.
"Kata siapa?." Melihat itu Nao merasa gemas, kenapa jika seperti ini Ares tampak lucu sekali?.
"Ck!."
Ares menyelipkan tangannya ia angkat tubuh Nao agar tak bisa kemana-mana. "Kau harus menerima hukuman ini." Lirih Ares dengan tatapan berat seraya mencium leher jenjang Nao hingga area dada.
Nao meremas rambut Ares. "Ahh pelan-pelan itu geli sekali.."
...(Ilustrasi)...
__ADS_1
.
TBC