Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 113


__ADS_3

Mengetahui jika Nao ternyata telah hamil sebelum nikah membuat Ishak dan Sarah terdiam, begitu pun juga dengan Agam dan Maya.


Hal ini semakin membuat Nao panik, namun Ares diam-diam terus mengelus lembut tangannya seolah memberi isyarat tidak akan terjadi apa-apa.


"Agam."


Satu lontaran kata yang diucapkan Ishak membuat semua menatapnya.


Perasaan Agam mulai tak tenang, apa mungkin Ishak akan menendangnya karena telah membiarkan Ares melakukan itu?.


"Ayah jika kau marah, salahkan diriku saja jangan pada siapapun." Pinta Ares.


"Diamlah." Potong Agam.


Seketika di sana hening kembali, mereka berkecamuk dengan pikirannya masing-masing.


"Apa kau memaksa putriku Ares? ini mungkin agak vulgar tapi aku ingin mendengar kejujuran." Lantang Ishak.


"Tidak ayah, ini terjadi begitu saja dan bukan paksaan." Balas Nao.


Sarah menghela nafas panjang, jika dipikir-pikir keduanya sangat hebat menyembunyikan hubungan hingga sejauh itu.


"Ayah sih tak masalah, mau marah juga toh cucu ayah akan segera launching, tapi kenapa saat itu tak bilang saja? kami akan menikahkan segera." Timpal Ishak.


"Yang bener??." Potong Agam. "Mau bilang bagaimana, melihat kau masih seperti itu tentunya anak-anak takut Sak."


"Sak Sak Sak Sak! Aku bukan sirsak ya Gam." Kecam Ishak.


Maya dan Sarah menggelengkan kepala, di saat seperti ini pun dua bapak-bapak itu masih debat.


"Sudah-sudah!." Potong Sarah.


Nao dan Ares menggaruk kepala tak gatal dengan kelakuan papa mereka masing-masing.

__ADS_1


"Oke intinya papa tak marah hanya terkejut saja mendengar kenyataan ini, melihat background kalian juga yang sama-sama European, tapi Ares kau kini sudah jadi seorang suami dan sebentar lagi akan menjadi ayah jadi tolong bertanggungjawab lah buktikan bahwa kamu memang pantas untuk Nao." Ujar Agam serius.


Ares tersenyum lega seraya mengangguk, bayangan kemarahan dari para orang tua sudah tergambar dari dulu, namun ternyata mereka mengerti dan tak menekan satu sama lain. "Tentu saja! aku akan menjadi suami dan ayah yang paling terbaik."


"Oke, kita catat Ares." Timpal Ishak.


Barulah Nao merasa lega karena respon para orang tua yang tak menentang.


Setelah beberapa saat mengobrol mereka merayakan kehamilan Nao dengan bakar-bakar ikan di halaman, anak dalam kandungan Nao seolah berkah yang diberi tuhan, karena kehadirannya yang membuat orang-orang senang juga gembira.


.


.


Hari berganti bulan pun berlalu..


Beberapa fase sudah dilewati Nao, kini usia kandungannya memasuki 8 bulan.


Dan benar saja keluarga kecil itu tampak harmonis, Ares benar-benar membuktikan ucapannya dalam hal apapun terus bersama-sama saling melengkapi.


Plak!


"Aww.." Ringis Nao saat Ares menepuk dan meremas bokongnya dengan nakal penuh maksud.


Cup cup cup!


Dari belakang Ares menciumi leher jenjang Nao yang sedang sibuk menata pakaian bayi yang baru saja di beli.


"Bentar dulu ah aku lagi sibuk mas!." Lirih Nao berusaha menghindar, jika diciumi terus ia akan tak fokus.


"Aku butuh tenaga jangan nolak sayang, mas capek pulang kerja."


Nao hanya menghela nafas sekilas seraya mengelus wajah tampan Ares. Dikecupnya bibir pria tampan itu. "Mas capek?."

__ADS_1


Ares dengan manja mengangguk. "Iya."


Keduanya dengan mesra berciuman, namun seketika tangan Ares dapat merasakan perut Nao gerak. Mereka terkekeh saat si kecil bereaksi.


"Kamu marah gak dicium sama papa hmmm?." Lirih Ares mengelus lembut perut sang istri, menciumnya berkali-kali. "Iya papa di sini sayang, jangan terlalu kenceng nendang-nya kasihan mama ya."


Nao tersenyum hatinya selalu menghangat menikmati momen seperti ini, rasanya ia ingin segera melihat buah hati mereka hadir melengkapi kebahagiaan yang dinanti-nanti.


Walaupun kini posisi Ares tengah resmi sebagai pemimpin Airoo Company yang dimana kesibukannya semakin menjadi, namun Agam sigap ikut andil menggantikan tat kala Ares sedang menemani Nao.


Hingga hari dimana yang ditunggu-tunggu pun telah tiba..


Di sebuah rumah sakit besar ternama, Ares menemani sekaligus menguatkan Nao menjalankan proses persalinan.


"Tarik nafas lagiiiii..." Aba-aba dokter.


Nao mengikuti instruksi yang kesekian kalinya, keringat sudah bercucuran membasahi tubuh. Sakitnya melahirkan begitu luar biasa, Nao merasakan itu.


"Keluarkan perlahan...."


"Huuuuuuuuhhh..."


Melihat perjuangan sang istri Ares tak tega, ia ikut merasakan cemas dan khawatir tak henti mengecup tangan dan wajah Nao. Jika bisa, ada jasa melahirkan tanpa rasa sakit, sudah ia lakukan sejak awal.


Sementara para orang tua di luar mondar-mandir dengan perasaan yang tak menentu, kini mama Sarina dan Agam juga Sarah sudah tidak ada konflik lagi. Mereka sadar itu tidak ada ujungnya dan memilih damai demi anak mereka, apalagi sebentar lagi akan punya cucu.


Setelah melewati tahapan demi tahapan, pukul 21:00 malam ruang persalinan itu diisi suara tangis bayi yang menggema.


Pecah air mata Ares dan Nao, kini buah hati mereka tengah lahir menyapa dunia dengan jenis kelamin laki-laki begitu tampan tanpa kekurangan sedikitpun.


"Cucuku..." Lirih Ishak seraya menyeka air mata yang jatuh setelah samar-samar mendengar tangisan suara bayi dari dalam.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2