
"Leica jika sudah, kemari!." Panggil seseorang dari dalam.
Gadis cantik itu tanpa berucap kepada Keenan langsung berlalu pergi meninggalkannya.
"Leica??." Keenan mengulang nama gadis itu sambil menatapnya hingga hilang dari pandangan.
Tak berselang lama, Lucy yang kini sudah berusia 20 tahun dan sedang menyelesaikan S1 nya lewat di sana. "Ya ampun keponakan bibi ke sini?."
Keen ramah menyapa. "Iya bi apa kabar?."
"Baik sekali, kenapa kakak gak ikut? Helen mana?." Sewot Lucy.
"Mereka sibuk, aku kesini sendirian."
"Haish, lain kali semuanya bawa datang Keen." Timpal Lucy lagi.
"Oke-oke."
"Yasudah bibi ke dalam ya ada yang harus diselesaikan." Lanjut Lucy yang tampak baru pulang kuliah.
"Tunggu bi."
"Ada apa?."
"Em apa di sini ada tamu?." Penasaran Keen.
Lucy mengerutkan keningnya seraya celingak-celinguk. "Tamu? siapa? tidak ada tamu di sini, apa kamu melihat tante Angel?."
Keenan menggeleng karena ia tidak melihat kakak tiri dari ibunya itu.
"Apa ada sesuatu Keen?."
Keenan tak langsung menjawab ia tampak diam sejenak. "Tadi ada gadis kecil berambut pirang, seseorang memanggilnya Leica siapa dia? kenapa bisa ada di sini?."
Seketika Lucy ngeh maksud keponakannya itu. "Ah Leica? dia cucu bibi Monic dan sangat suka sekali ikut menemani neneknya bekerja Keen."
Bi Monic (Juru masak keluarga Ishak dan chef yang dibeli Ishak untuk restorannya).
Keen tak berucap lagi, Lucy memicingkan matanya. "Kenapa? apa kau terpana Keen dengan kecantikannya?."
"Sudahlah bibi masuk saja ke dalam." Timpal Keen tak suka digoda.
Lucy terkekeh. "Iya-iya."
__ADS_1
Lucy pun masuk ke dalam dan tak lama Ishak datang duduk kembali di samping sang cucu.
"Ini sudah malam kau tidurlah Keen besok harus sekolah bukan?." Ujar Ishak. "Opah tak mau jika papa mu marah-marah nanti karena kau tak disiplin waktu."
"Bukannya papa takut sama opah?."
"Jika bersangkutan dengan kebaikanmu opah tak masalah dia marah, asal kamu patuh saja."
Keen paham maksud kakeknya, ia pun berdiri seraya mengecup pipi Ishak yang tak lagi kencang itu. "Ya sudah selamat malam opah."
"Selamat malam juga Keen."
Mata Ishak menatap Keen yang masuk ke dalam hingga hilang dari pandangan, tak terasa dari sudut matanya jatuh air bening, Ishak meneteskan air mata. "Apa saat cucuku dewasa nanti umurku masih ada?."
"Semoga saja ya Tuhan."
.
.
Di tempat lain..
Sarina melotot mendengar permintaan dari Sarah. "Apa-apaan kamu ini!?."
"Apa aku se-menyedihkan itu? aku tak apa uang tabunganku banyak lagian sakit ini nanti juga akan sembuh, jika kau mau merawatku tak harus aku sampai menikah lagi dengan Agam." Timpal Sarina yang sudah nyaman dan bahagia sendiri, ia punya anak dan cucunya yang menggemaskan.
"Tidak, Sarina kau tahu maksudku ini baik, aku ingin kita sebagai orang tua anak-anak menghabiskan sisa waktu dengan kebersamaan yang bahagia, oke jika kau tak mau menikah dengan Agam tapi kau harus tinggal denganku di rumah utama." Lanjut Sarah serius.
Sarah sangat menyayangi Sarina, bisa dibilang keduanya saling melengkapi karena prinsip kuat untuk membahagiakan sang anak.
"Ares dan Andrew tak keberatan dengan ini mereka setuju dengan keputusanku, pindahlah ke sana demi anak-anak juga." Mohon Sarah sekali lagi.
Sarina masih diam tak mengeluarkan kata-kata, pikirannya menerawang kemana-mana. "Kau pandai sekali merayu Sarah. "
"Kau juga mama mertua yang disayangi putriku jadi tidak ada yang salah." Lantang Sarah.
Sarina menghela nafas panjang. "Akan ku pikirkan."
.
.
Airoo Company
__ADS_1
Nao terkejut tat kala masuk ke dalam ruangan direktur utama, dimana di sana sudah ada Tessa berhadapan dengan Ares.
"Nao..." Tessa berdiri dari duduknya menyapa.
Nao tak langsung menjawab ia hanya tersenyum sekilas dan duduk di samping Ares.
"Sudah lama sekali, perkenalkan ini suamiku Fredrik." Lanjut Tessa.
Mereka pun bersalaman.
Sebelum menyampaikan maksud kedatangan Tessa menghela nafas panjang. "Sudah bertahun-tahun aku terus mengumpulkan niat untuk mendatangi kalian, namun baru sekarang kami memberanikan karena begitu malu dengan ulahku dan papa di masa lalu yang hampir melenyapkan nyawa mu juga om Ishak Nao."
Tessa berdiri dan bersimpuh di hadapan Nao, Nao sendiri tentunya terkejut.
"Maaf, maafkan aku di masa lalu Naomy aku hanya ingin berserah dan mengakui kesalahan juga penyesalan, kau tak pantas memaafkanku." Ujar Tessa tak kuat menahan air matanya.
Nao tertegun ia langsung mengangkat tubuh Tessa. "Tak harus seperti ini, melihat kau kembali ke arah yang lebih baik jawaban maaf ku terletak di sana."
Ares tersenyum sangat bangga dengan istrinya.
"Kau memaafkanku?." Ulang Tessa dengan suara gemetar.
Nao mengangguk seraya menarik Tessa ke dalam pelukan. "Ya, aku memaafkanmu kejadian itu sudah 16 tahun yang lalu dan aku senang dengan dirimu yang sekarang."
Isak Tessa semakin menjadi, bagaimana bisa ia dulu pernah berbuat jahat pada Nao yang sebaik ini?.
Keduanya berpelukan, Ares memaafkan kejadian waktu itu ia tak mungkin tetap bengis setelah melihat tindakan sang istri Nao.
"Terimakasih sudah memaafkan istriku Ares Leonardgo." Ramah Fredrik.
"Terimakasih juga sudah membawa Tessa menjadi pribadi yang lebih baik." Balas Ares.
Keduanya kembali memulai persahabatan sehat yang akan terus terjalin hingga nanti.
"Bagaimana denganmu? katanya kau mempunyai seorang putri yang begitu cantik Tessa?." Penasaran Nao. "Siapa namanya?."
Tessa tersenyum. "Dia bernama Leica Bianca Liza, kapan-kapan aku akan membawanya untuk bertemu denganmu Na."
"Dengan senang hati."
.
TBC
__ADS_1