
.
.
Mendengar keributan dari lantai utama membuat Ares dan Nao segera berlari untuk melihat, takutnya ada apa-apa sedangkan Keenan di sana.
"Aku yang lebih dulu di sini, jadi aku dulu yang menggendong cucuku Gam!." Sewot Ishak.
"Ya tapi aku yang duluan meraihnya, siapa cepat dia dapat Sak!." Agam tak mau kalah.
Si bibi bingung juga tak enak melihat Keenan diperebutkan. "Aduh."
"Kau masih punya satu cucu Jeena, sedangkan aku baru Keenan jadi ayolah mengalah." Ujar Ishak lagi.
"Aku sedang berada di sini, berarti ingin bertemu dengan Keenan."
Keenan yang saat itu sudah 5 tahun hanya pasrah diperebutkan kedua kakeknya.
Melihat apa yang terjadi Ares dan Nao hanya menghela nafas panjang, kirain apa ternyata berebut cucu part ke sekian kalinya terulang lagi.
"Opah tubuh Keenan oleng, bisa berhenti?." Ujar Keenan dengan wajah gemasnya yang tampan.
Mendengar itu seketika Ishak dan Agam melepaskan genggaman.
"Ah baiklah maafkan opah-opah ini ya." Ishak mengelus tubuh Keenan.
"Kita mainnya barengan saja kalau begitu." Agam mengusulkan untuk adil.
Keenan mengangguk, ia bersorak ria saat dua opah-nya itu membawa berbagai mainan.
"Sejak kapan pah, yah?." Tanya Ares menyapa duduk diantara mereka, begitu pun dengan Nao.
"Belum lama, ayah langsung berlari menghampiri Keen tapi papamu tak mau mengalah." Balas Ishak.
"Harus adil!."
Nao dan Ares hanya terkekeh sembari menggelengkan kepala.
"Ada rencana membuat adik untuk Keenan?."
__ADS_1
Pertanyaan yang dilontarkan Ishak membuat Ares dan Nao saling tatap.
"Adik? Keenan mau adik opah." Timpal Keenan penuh semangat.
"Iya, kalian juga masih muda ini rentan waktu yang cocok Keenan sudah 5 tahun." Ujar Agam.
"Tentu saja ada pah, jika istriku tak keberatan aku menginginkan anak lebih dari dua." Balas Ares terus terang.
Nao yang mendengar tersipu sekaligus menepuk pelan paha Ares. "Semoga saja Tuhan memberi kepercayaan yang mulia lagi, biar Keenan gak terus-terusan direbutin."
Agam dan Ishak tertawa. "Hahaha benar, kami tunggu cucu selanjutnya launching."
"Kita buat terus sayang hingga hasilnya memuaskan." Bisik Ares.
"Haish kau ini, buatnya enak melahirkannya yang minta ampun." Balas Nao sengaja.
Ares menggaruk kepala tak gatal. "Iya ya aku terserah kamu sama Tuhan saja sayang." Waktu melahirkan Keenan saja Ares tak kuasa melihat Nao kesakitan, jadi itu kembali pada Nao sendiri karena ia yang memiliki tubuhnya.
Setelah hampir seharian berkunjung, Ishak dan Agam pamit untuk pulang. Agam sudah duluan karena ada hal mendesak.
"Kapan-kapan ke kota B lagi, kita bakar-bakar ikan di sana." Ucap Ishak yang diangguki Nao.
"Ah Ares ayah dengar kabar ada pertandingan volly internasional lagi yang melibatkan club-mu, apa kau akan ikut?."
"Mengenai itu aku belum bicara lagi dengan coach yah, bisa kemungkinan ikut bisa tidak, aku harus melihat jadwal juga." Jelas Ares.
Ishak manggut-manggut. "Oke kabari ayah jika kau ikut bertanding."
"Tentu saja."
Setelahnya Ishak pun berlalu untuk pulang, Nao dan Ares masuk ke dalam karena menjelang malam.
"Sampai kapan akan terus menjadi atlet mas?." Tanya Nao penasaran.
Ares merangkul pinggang ramping Nao. "Entahlah, karena ini hobi mas, jadi mungkin sampai nanti tua saja."
Nao mengerutkan kening. "Bagaimana dengan tugasmu di perusahaan?."
Karena gemas Ares mencolek hidung mancung Nao. "Mas tidak setiap hari bertanding sayang."
__ADS_1
"Oke, selagi kau nyaman apapun itu aku akan terus mendukungmu."
Much!
Ares mencium lembut bibir Nao sesekali m*lumatnya.
"Mama? papa?."
Seketika mata Ares dan Nao melotot tat kala menyadari jika Keenan di sana dan menatapnya, di dorongnya tubuh kekar Ares, Nao langsung duduk menghampiri sang putra. "Iya kenapa Keen?."
"Itukah yang dinamakan ciuman?." Tanya Keen polos.
Ares menggaruk kepala tak gatal, Nao merasa tak tenang karena anak dibawah umur melihatnya.
"Iya, ini cara mama dan papa menyampaikan rasa kasih sayang."
"Keen juga nanti kalau sudah besar pasti seperti itu." Timpal Ares.
"Keen kan sayang sama semua orang, apa boleh semuanya di makan bibirnya ma?." Lanjut Keen penasaran.
"Fffftt!." Ares menahan tawa karena kepolosan putranya.
"Enggak sayang mana ada begitu, ini khusus untuk orang yang kita cintai dan sayangi." Nao menjelaskan.
"Bisa kok Keen kamu cium semua gadis cantik nanti." Timpal Ares sengaja.
BUKH!!
Nao melemparkan bantal kursi pada sang suami. "Enak saja!."
Ares tertawa puas. "Enggak sayang becanda."
"Sebenarnya terciptanya Keen dulu dari ciuman juga loh." Lanjut Ares memberitahu.
Mata indah Nao semakin melotot, ia langsung melangkah menghampiri Ares naik ke atas pangkuannya untuk membalas perbuatannya barusan.
Keenan yang melihat tertawa terbahak-bahak, dimatanya mommy dan daddy-nya itu begitu lucu layaknya anak kecil.
.
__ADS_1
TBC