Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 70


__ADS_3

Hari berikutnya.


Sore itu pukul 16:00 WIB.


Nao lari terbirit-birit saat mengetahui Anna yang dari tadi menunggunya lama di lantai utama perusahaan. "Sorry An ada masalah dalam pertemuan kali ini." Ujar Nao ngos-ngosan dengan wajah cantiknya yang tampak lelah, ia terlihat sedikit frustasi dengan pekerjaannya barusan.


"Tenang, atur nafas." Lirih Anna yang diangguki Nao. "Jadi bagaimana mau menemui pak Indra bareng aku sekarang?."


Nao mengangguk, ia sudah mempersiapkan beberapa dokumen dalam flashdisk-nya untuk diserahkan pada dosen pembimbingnya yaitu pak Indra. "Bentar ku cari dulu flashdisk itu."


Anna mengangguk. "Katanya pak Indra bisa ditemui sore ini dan besok sekitar jam 8 an."


"Dosen galak itu memang sibuk An."


Anna terkekeh.


Setelah dicari dalam tasnya berkali-kali tetap saja Nao tak menemukan flashdisk, ia mulai resah perasaan benda itu tidak jauh dari tas yang dikenakan saat ini.


"Bagaimana?."


"Gak ada An." Lirih Nao kembali mengobrak-abrik isi tas.


"Gak mungkin hilang kan?."


Nao terdiam tampak mengingat sesuatu. "Sepertinya bukan di tas ini deh."


"Terus?."


Nao memijit keningnya saat mengingat flashdisk itu disimpan pada tas hitam waktu terakhir kali pergi ke apartemen Ares, dan ya tas hitam itu masih ketinggalan di sana.


"Temui lah pak Indra duluan jika sempat aku menyusul An." Ujar Nao.


"Yakin?."


"Ya, tak apa no problem."


"Oke baiklah aku duluan kalau begitu." Sebelum masuk mobil mereka berpelukan. "Hati-hati."

__ADS_1


Anna berlalu sementara Nao sendiri langsung masuk mobilnya menancap gas membelah jalanan raya. Tujuan Nao saat ini yaitu apartemen Ares untuk mengambil tasnya yang ketinggalan. "Semoga saja kata sandinya belum diganti."


Akan rumit jadinya jika kata sandi pintu apartemen berubah, sedangkan saat ini Ares masih di Jepang.


Dalam perjalanan menuju apartemen Ares, Nao melewati restoran cabang ke 2 ayahnya.


Mata Nao melotot saat mendapati sesuatu tepat di halaman restoran itu, tanpa pikir panjang Nao memutar balik setir mobil untuk mampir ke sana dulu.


Tampak tangan Lucy sedang diperebutkan oleh Ishak juga Sarah yang adu mulut, tak sedikit pengunjung restoran menyaksikan mereka dari dalam.


"Mam! ayah! stop!." Ucap Nao membuat mereka menoleh. "Apa yang kalian lakukan? lihat Lucy kasihan!."


Lucy meringis karena tangannya terasa sakit.


"Apa salah jika mama mau mengajak putri mama jalan!?." Lirih Sarah dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ishak, Lucy juga anakku!."


"Tak butuh! aku bisa membeli apa yang dia inginkan tanpa uang darimu, sekarang pergilah bawa mamamu pulang Nao!." Tegas Ishak dengan amarahnya.


"Apa kalian tidak malu?." Tinpal Nao mulai emosi seraya menarik Lucy.


"Kakak." Lucy memeluk paha Nao bersembunyi di baliknya.


"Kau sudah ada Nao tidak cukupkah mengambilnya dariku juga ha? harus berapa lagi sakit yang ku rasakan setelah semua ini!?." Potong Ishak dengan suara gemetar ia kecewa. "Lucy kemari kita pulang, Nao lepaskan Lucy atau kalian tak ku izinkan untuk melihatnya lagi!."


Nao terdiam mematung mendengar itu hatinya sesak, tanpa berucap lagi Sarah yang sudah berlinang air mata memilih pergi masuk mobil berlalu dari sana.


"Kakak." Lirih Lucy yang juga menangis.


"Ayo..." Ishak mengambil putri bungsunya itu dari genggaman Nao.


Nao hanya bisa diam dengan rasa sesak di dada saat kini hanya dirinya sendirian di sana.


Wanita cantik itu kembali masuk mobil menancap gas dengan kecepatan tinggi untuk melampiaskan amarah. "Sakit sekali ya tuhan..." Lirihnya dengan bibir yang sudah gemetar.


Sekitar 10 menit di perjalanan, akhirnya Nao tiba di apartemen Ares.


Nao menatap pintu apartemen itu dengan perasaan yang sudah tak karuan ia ingin segera pulang dan menangis. Ditekannya tombol sandi satu-satu yang dimana merupakan tanggal pertemuannya dengan Ares, hingga...

__ADS_1


Trek..


Pintu pun terbuka, Nao masih tak menyangka jika Ares belum menggantinya setelah semua yang terjadi.


Wanita itu pun masuk ke dalam menatap sekeliling apartemen yang membuat hatinya bergemuruh, karena tak ingin lama-lama Nao segera mencari tasnya di kamar 1.


Benar saja tas hitamnya itu masih ada di atas nakas, Nao langsung mengambilnya. Sebelum keluar Nao menatap sekeliling kamar yang dimana banyak sekali momen yang dilewati bersama Ares. "Ah sudahlah.."


Nao keluar dari kamar 1 ia berjalan menuju ruang tamu untuk pulang, bukan Nao tak bisa menahan emosinya tapi setelah memasuki apartemen Ares hati Nao semakin sesak juga sakit.


Akhirnya air mata itu pun jatuh Nao tak bisa menahannya lagi ia terisak duduk di kursi ruang tamu.


Setelah semua yang terjadi mental Nao cukup hancur.


Tanpa Nao sadari seorang pria menatapnya dari kamar 2, pria itu berjalan mendekat hingga tepat berada di hadapan Nao.


Nao yang menunduk terisak, seketika memicingkan mata saat mendapati sebuah kaki berdiri tepat di hadapannya.


Deg!


Dengan perlahan Nao menengadah, seketika jantungnya bak berhenti sejenak tat kala mendapati Ares berdiri tepat di hadapannya yang sedang menangis. "K-kak???."


Nao memicingkan mata mencoba meyakinkan pandangannya, seketika Nao menghapus air mata yang membasahi pipi. "Bukankah kau tidak akan pulang? maaf sebelumnya tak meminta izin dulu aku ingin mengambil tasku yang ketinggalan."


Ares tak bisa menahan diri melihat kondisi Nao saat ini, saat Nao hendak berdiri Ares menahan pundaknya. Tanpa berucap pria tampan itu duduk di samping Nao dengan menghadap ke arahnya.


"Jangan pulang dengan kondisi seperti ini."


Dada Nao semakin sesak, ia tak mau memperlihatkan sisi rapuhnya pada Ares.


"Kemari." Ares menarik paha Nao agar menghadap ke arahnya.


Mata keduanya saling tatap, Ares melepas kacamata yang Nao kenakan. Dengan penuh kelembutan Ares mengelus setiap air mata yang jatuh membasahi pipi Nao. "Untuk saat ini aku tak membencimu itik."


Direngkuhnya tubuh Nao ke dalam dekapan sangat erat sekali, membiarkan wanita itu membagi rasa sakit. Tentu saja isak Nao semakin menjadi. "Maaf, tapi aku juga merindukanmu kak."


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2