
Keesokan paginya di meja makan.
Di sana hanya Nao dan Sarah, sedangkan Ares juga Agam sudah berangkat pagi-pagi ke perusahaan mendadak ada urusan penting.
"Morning sweetie." Sarah mengecup kepala putrinya.
"Morning mom."
Mereka duduk berhadapan untuk sarapan.
"Kapan mata kuliahmu selesai?."
Nao melihat arloji-nya. "Sekitar jam 2 siang ma aku mungkin ke kantor agak sedikit telat."
"Em oke, jaga kesehatan jangan sampai terlintas di benakmu bahwa mama kini tak se-perhatian dulu mama gak mau."
"Ya aku mengerti ma." Jawab Nao seraya melanjutkan sarapan.
Sarah memicingkan mata saat melihat bekas merah yang terlihat namun tampak jelas pada leher belakang Nao. "Dengan siapa?."
"What?."
"Leher kamu."
Nao tersadar dan merapikan kemejanya. "Bukan apa-apa."
Sarah menghela nafas panjang. "Rony? mama sudah lama tak bertemu dengannya, apa hubungan kalian berdua baik-baik saja?."
"Kita sudah lama mengakhirinya ma." Jawab Nao jujur tak mau bertele-tele.
__ADS_1
"What?? apa kamu gonta-ganti pria lagi!? sejauh ini Ares bilang kamu lebih baik Nao tak pernah keluar malam lagi, siapa pria itu?." Timpal Sarah yang merasa putrinya sedang menutupi sesuatu. Tidak pernah kemana-mana selain kampus dan perusahaan, lantas bekas merah itu siapa jika bukan Rony?.
"Ma aku sudah dewasa."
"Iya mama tahu takutnya kamu berlebihan jangan membawa budaya New York ke sini!." Sarah takut jika Nao diam-diam kembali gonta-ganti pria, tak masalah dengan kekasihnya namun Sarah takut saja Nao menerapkan budaya barat walaupun memang itu negara asal mereka.
"Mama terlalu berlebihan aku tak seburuk itu." Potong Nao meyakinkan menggenggam tangan ibunya. "Hanya dengan satu pria, itu pun kekasihku dan aku mencintainya mam."
Sarah mencoba melihat kebohongan pada manik Nao, namun nihil itu tidak ada. "Siapa lagi kekasihmu? jika kau menerima hanya karna kasihan lebih baik jangan!."
Nao menggeleng. "Sebelum bersama Rony pun kita sudah bertemu, tapi sorry ma aku belum bisa mengatakannya."
"Mama tahu pria itu siapa!.." Potong Sarah yang membuat Nao merasa cukup panik.
"Gawat gak mungkin mama." Batin Nao berdebar.
"Ben! iya Ben bukan??."
Sarah menatap frustasi putrinya yang sudah pergi.
.
.
Airoo Company
Lagi-lagi para staf dan karyawan di sana diperlihatkan dengan Ares dan Tessa yang selalu bersama untuk mengurus projek kerjasama perusahaan mereka.
Tessa sangat senang saat mendengar banyak sekali rumor yang menganggap mereka memiliki hubungan spesial. Apalagi Agam tak segan-segan menyuruh Ares terus membimbingnya.
__ADS_1
Selagi Ares tak menunjukkan siapa kekasihnya saat ini, Tessa menganggap itu hanya bualan semata untuk menghindari rencana perjodohan mereka. Dan lagi Tessa tahu jika Ares mantan Casanova yang tak pernah serius menjalin hubungan.
Nao yang tiba di sana melihat kakaknya dengan Tessa, tak jarang rumor yang beredar juga Nao dengar membuat telinganya panas. Wanita cantik itu semakin kesal namun tak bisa berbuat apa-apa.
"Ya, mereka memang cocok!." Lirih Nao tak ikhlas saat melihatnya.
Nao kini sedang di lantai utama menunggu Anna untuk mengantar dokumen ke gedung B.
Melihat Nao yang banyak sekali membawa berkas, Mondy langsung merebutnya sebagian besar. "Kemari."
"Tak usah Mon its okay."
"Gak papa aku juga sekalian mau ke sana." Sungkan Mondy berdiri di samping Nao. "Kita tim."
Nao terkekeh sekilas mengalihkan pandangannya dari Tessa dan Ares.
"Kita tunggu Anna ya sekalian."
"Baiklah dengan senang hati." Balas Mondy yang tak lepas memandangi wajah cantik Nao.
Ares yang melihat menggertakan rahangnya, ini diluar kendali jika terus-terusan seperti itu.
Tessa sedikit terkejut saat tangannya ditepis. "Ares mau kemana?."
Karyawan yang berlalu lalang memberi salam hormat tak sedikit pun Ares gubris, ia melangkah dengan raut wajah penuh amarah hingga...
BUGH!!
"Akh!." Semua yang ada di lantai utama terkejut juga syok begitu juga dengan Nao, saat Mondy tersungkur ke lantai dengan dokumen berhamburan akan ulah kakak tirinya.
__ADS_1
"Sudah ku peringatkan berkali-kali jangan pernah mendekati adikku!." Bentaknya hilang kendali.
"Ares!!!." Nao emosi menghampiri Mondy yang tersungkur kesakitan.