
"Sayang tak seharusnya kamu begitu ini akan menyakiti mereka berdua, dan kita berpisah apa maksudnya itu? jangan dulu mengambil keputusan kamu butuh waktu karena ini begitu mengejutkan." Ujar Agam kepada Sarah yang dari tadi berdiri di atas balkon.
"Tidak, keputusanku sudah tepat. Anakku dan anakmu tidak akan pernah bisa menjadi pasangan mereka tetaplah saudara Agam." Potong Sarah. "Ini mungkin tampak egois tapi itu yang terbaik."
Agam mengangkat tangannya tak tahu harus bagaimana lagi. "Sepertinya kau memang butuh waktu, jangan terburu-buru jangan sampai anak-anak melakukan hal nekat yang membuat keluarga ini di ujung tanduk aku sangat tak mau!."
Tidak ada jawaban dari Sarah ia masih mematung, sementara Agam memasuki ruang kerjanya.
.
Pagi datang...
Nao menatap penampilannya dari pantulan cermin besar, ia akan berangkat ke kampus dengan mata sembab. Ya karena semalam Nao menangis.
"Apa aku terlalu cengeng?."
"No!." Jawab Nao sendiri seraya keluar kamar menuju meja makan untuk sarapan.
Di sana hanya ada papa Agam juga Andrew yang datang.
"Hai adik." Sapa Andrew ia tak mau bertanya lebih dengan mata sembab Nao karena sudah menduganya.
"Hai kak, sejak kapan?."
"Pagi buta sekali karena ada urusan di kantor papa."
Nao menganggukkan kepala dan ikut duduk bergabung, wanita cantik itu melihat sekeliling mencari keberadaan sang mama juga Ares.
"Mama kemana pah?."
"Katanya ada urusan dia sudah berangkat lebih dulu." Balas Agam.
__ADS_1
Tatapan mata Nao tertuju pada kamar Ares yang tertutup, kekasihnya itu sejak berpisah semalam tak mengirimkan pesan dan itu bukan Ares seperti biasanya. "Ares?."
Papa Agam menghentikan sarapannya, ia tak langsung menjawab membuat Nao merasakan sesuatu yang tak enak.
"Dia memutuskan untuk tinggal di apartemennya, Ares hanya memiliki waktu satu minggu di Indonesia setelah itu ia akan ke Jepang cukup lama karena club bola volly nya mengikuti kompetisi internasional."
"Sebagai atlet juga kapten ia ikut andil papa juga melarang tak bisa berbuat apa-apa dia yang memutuskan." Lanjut Agam. "Untuk perannya di perusahaan Ares juga mengambil cuti."
Nao terdiam, kenapa Ares tak bilang semalam kepadanya?
Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benak Nao, ia pun menyelesaikan sarapan setelahnya pamit berlalu pergi menuju kampus.
"Mama dan papa tidak berpisah kan?." Tanya Andrew setelah Nao hilang dari pandangan.
Agam menggeleng. "Itu tidak akan pernah terjadi."
Andrew menghela nafas berat mendapati itu, ia berharap ada jalan keluar yang tidak membebankan salah satu dari mereka.
.
Dua sahabat itu kembali bertemu setelah sekian lama, Anna dan Nao berpelukan.
"Mama di operasi sekarang masih di rumah sakit, tapi don't worry semuanya aman." Balas Anna ia masih memeluk sahabatnya karena rindu.
"Aku pernah dengar dari Rony, kapan-kapan aku ke sana mau jenguk tante."
"Of course."
Anna melihat raut wajah cantik Nao yang tampak berbeda. "Ada apa dengan matamu?."
"Hubunganku dengan Ares orang rumah sudah tahu, dan ya kita ditentang An." Ujar Nao menceritakan semuanya. "Dan sekarang pria angkuh ini belum juga menghubungiku, lihat saja nanti!."
__ADS_1
Anna terdiam tentunya ia terkejut. "Oh my good kau harus bicara empat mata dengan tante Sarah, mungkin ada alasannya yang tak ia sebutkan."
"Ya akan ku lakukan."
"Atau kalo misalkan masih menentang aku punya rekomendasi dukun untuk meluluhkan hati tante di kampung." Serius Anna.
"Jangan becanda An." Timpal Nao yang saat ini tak mau neko-neko.
"Serius lah, pernah dengar juga dukun itu diminta untuk membunuh incaran kliennya."
"Lalu meninggal?."
"Enggak masih hidup."
Nao terkekeh sekilas dengan celotehan sahabatnya.
Anna tersenyum menepuk-nepuk punggung Nao. "Kayak gini sesekali jangan sampai dipikirin terus-terusan."
"Iya-iya kakak ipar bawel!."
Tampak Anna mematung raut wajahnya berubah pucat mendengar sebutan itu keluar dari mulut Nao.
"Aku sudah tahu kok hubungan kalian."
"Nao aku tak bermaksud untuk....
"It's oke aku tak masalah malah senang." Potong Nao, ia memiliki teman untuk memperjuangkan cinta mereka masing-masing dengan dua putra dari keturunan Leonardgo sekaligus.
.
TBC
__ADS_1