
Berita penikaman Ares banyak yang sampai di perusahaan, tak sedikit dari mereka mengkhawatirkan calon pemimpin perusahaan besar itu.
Ares tak menggubris setiap karyawan maupun staf yang bertanya keadaannya, hanya dijawab Ben saja Ares acuh tak acuh tak peduli.
"Sepertinya mood tuan Ares sedang buruk."
"Tak seperti biasanya, sikap dingin itu melekat kembali." Timpal yang lain.
"Sudah-sudah kita kembali bekerja."
"Iya."
Sesampainya di ruang pribadi Ares mendapati Tessa sudah ada menunggunya. "Ares!."
Tessa langsung berhambur memeluk tubuh bidangnya. "Aku dengar kau ditikam orang jahat, bagaimana dengan lukanya? aku begitu mengkhawatirkan-mu."
Ben yang melihat memutar mata malas gatal sendiri. "Kau jangan memeluknya, luka itu masih belum sembuh dengan sempurna!."
"Ares tak melarang ku kenapa kau yang sewot Ben?." Tak mau kalah Tessa.
"Lepas." Datar Ares.
Tessa cemberut mau tak mau ia melepas pelukannya karena menyadari mood Ares, dari pada dibanting pikirnya mending mengalah. "Oke sorry."
Tanpa berucap Ares duduk di kursi kebesaran, ia melihat jadwalnya yang cukup padat.
Kerjasama perusahaannya dengan papa Tessa masih memiliki kontrak dua minggu lagi. "Tessa kau bisa membahas pekerjaan yang tersisa bersama Ben, aku sudah menandatangani berkasnya."
Ben yang mendengarnya malas sekali, Tessa terkejut tak mengerti.
"Kau akan ke Jepang kan untuk pertandingan itu? gak papa aku ikut juga sekalian mendukungmu." Timpal Tessa.
__ADS_1
Ares menatapnya tajam. "Kau niat bekerja atau untuk membuntuti ku Tessa!?."
"Ares..." Tessa tersinggung dengan ucapannya.
"Pekerjaan ini bukan main-main jangan sampai papamu menegurku hanya karena kau tak becus, kau sudah dewasa jangan kekanak-kanakan!." Lanjut Ares tegas.
"Apa salahnya jika aku ingin mendekatimu?." Tessa tak mau kalah ia sudah lelah menyimpan perasaannya. "Oke aku kekanak-kanakan, tapi setidaknya aku juga tak membebani-mu terus-terusan aku hanya ingin terus bersamamu."
Ben memilih mundur tak mau ikut campur, ia masuk ruangannya memilih mulai pekerjaan meninggalkan mereka berdua.
"Kau tahu aku sudah memiliki seorang kekasih?." Timpal Ares penuh penekanan.
"Selagi kau tak menunjukannya aku tak percaya."
Mendengar jawaban itu Ares merasa tertampar, mau ditunjukkan bagaimana hubungannya dengan Nao juga sudah berakhir. "Mulai bekerjalah dan jangan menggangguku!." Ares mengalihkan pembicaraan.
Tessa menghela nafas berat. "Oke, namun karena kita terikat kontrak kita juga pasti akan sering bertemu." Tessa tak mau Ares lupa.
Mendapati reaksi itu Tessa kesal menghentakkan kakinya melangkah pergi dari sana.
.
Bu Fara memicingkan mata mendapati Nao terlambat. "Kita sebentar lagi ada meeting, apa ada sesuatu di jalan Nao?."
Nao meletakkan tasnya ia mencari-cari dokumen yang akan di cetak. "Ya ada masalah di rumah bu, tak apa aku akan segera menyelesaikannya."
Bu Fara menggelengkan kepala melihat Nao berlari menuju mesin cetak. "Untungnya masih ada waktu 10 menit lagi."
"Ibu tunggu di ruang meeting ya." Lanjut Bu Fara untuk mempersiapkan semuanya.
"Iya bu." Balas Nao yang sibuk mencetak dokumen.
__ADS_1
Nao memijit keningnya. "Semoga saja kak Ben yang memimpin meeting proyek hari ini."
Dan duarrrr!!!..
Setibanya di ruang meeting orang yang Nao hindari duduk di depan sebagai pimpinan mereka, Ares menatap datar Nao yang mematung dengan dokumen di tangan.
"Nao apa ada masalah lagi?." Bisik bu Fara. "Sekarang mulai presentasinya."
"Ah i-iya baik bu."
Nao mengatur nafas agar tenang, ia pun berjalan menuju layar monitor memulai presentasi dengan lugas menjelaskan peningkatan saham pada proyek sebelumnya dan rencana yang akan segera dilangsungkan beberapa hari ke depan.
"Ubah!." Tegas Ares dingin, setelah mendengar presentasi itu.
Nao dan bu Fara juga timnya saling tatap, padahal itu rencana terbaik yang sudah didiskusikan.
Nao menekan remot mengganti presentasi dengan planning B.
"Ubah!." Potong Ares lagi padahal belum sempat Nao selesai bicara.
"Bisa katakan poin mana saja yang tidak memenuhi syarat?." Tanya Nao merasa capek karena Ares tak biasanya seperti ini.
"Semuanya."
"Hah!!???." Pekik Nao tak terima, orang-orang di sana panik saat Nao meninggikan suaranya.
.
TBC
Tinggalkan jejaknya ya sebagai dukungan!✨
__ADS_1