
Anna datang membawa kopi di tangan, ia letakkan di meja tepat berhadapan dengan Andrew. Keduanya kini duduk di ruang tamu, entah kenapa rasanya kali ini benar-benar canggung bagi Anna yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Hubungan om dengan Airin bagaimana?." Tanya Anna memecah keheningan.
Andrew meletakkan kopi kembali setelah ia minum. "Kita sudah berakhir, dan ingat jangan panggil om lagi Anna apa umurku yang masih 30 ini begitu tua? Nao juga masih memanggilku kakak."
Anna menggaruk kepala tak gatal. "Iya juga, baiklah aku panggil kakak saja."
"Cukup Andrew, aku ingin kau memanggilku dengan sebutan itu."
"Oke."
Andrew memandangi Anna yang kali ini tak seperti biasanya, interaksi mereka terkesan canggung. "Kemana Anna-ku yang agresif?."
"Itu Anna yang kau kenal selama terikat kontrak, dan ini Anna yang sesungguhnya." Timpal Anna tersenyum manis menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
Andrew tahu kontrak diantara mereka sudah berakhir.
"Bagaimana dengan ibumu? operasinya lancar?."
"Ya lancar dan kini aku sangat lega." Balas Anna.
"Syukurlah.."
"Tapi Andrew apa maksudmu tidak akan membatalkan kontrak? kita sudah sepakat dan sudah saling membantu satu sama lain." Mulai Anna, ia sendiri ingin mengakhirinya karena merasa bersalah juga terhadap Nao.
"Aku hanya ingin kita tetap terikat tanpa kesepakatan seperti kemarin, kau bukan sugar baby-ku lagi begitupun aku bukan sugar daddy-mu." Timpal Andrew yang membuat Anna mengerutkan keningnya karena masih tak mengerti.
"Lantas kita terikat untuk apa?."
"Aku membutuhkanmu Anna, ini bukan diriku yang sebenarnya bisa saja aku gonta-ganti wanita tapi hati dan pikiranku memilihmu." Lanjut Andrew.
Tampak Anna terkekeh tak percaya. "Ini diluar dugaan."
"Benar! sangat diluar dugaan." Timpal Andrew mengiyakan, mungkin ia juga telah menyimpan perasaan pada gadis sederhana ini.
Rasa cinta Andrew terhadap Airin perlahan menghilang saat menciduk tunangannya selingkuh 5 bulan yang lalu, hingga ia bertemu dengan Anna dan menjadikannya sebagai sugar baby.
__ADS_1
"Oke mari kita memulai hubungan sehat tuan Leonardgo."
Sudut bibir Andrew terangkat. "Ya."
"Mau duduk di pangkuan Daddy lagi?." Sengaja Andrew yang membuat Anna mengalihkan pandangan karena malu.
"Cih.." Kesal Anna saat digoda.
Andrew berdiri beralih duduk di samping wanita cantik itu. "Kemari.."
"Andrew!." Anna terkejut saat tubuhnya tanpa izin diangkat ke atas pangkuan pria itu lalu dipeluknya dengan erat. "Hanya sebentar...."
"Kondisikan bibirmu, aww!." Ringis Anna dengan pipi merona.
.
Di sebuah gudang
Angel memberikan segepok uang kepada dua orang pria bertubuh tinggi juga botak. "Bawa adik tiri-ku dengan aman dan jika berontak atau ada yang menghalangi lawan saja!."
"Oke nona manis." Ujar dua orang itu seraya berlalu untuk menjalankan tugasnya.
Sementara itu di kediaman keluarga Leonardgo...
Nao keluar dari ruang gym pribadi dengan tubuh penuh keringat, sesampainya di kamar ia membuka handphone saat mendapat pesan masuk.
"Aku tahu hubungan rahasiamu dengan Ares, bahkan foto kalian bercinta waktu itu ada di tanganku. Temui aku dan ikutlah dengan orang suruhan yang menjemputmu di luar mansion! jika hubungan kalian tak ingin ku sebarkan sekarang juga." Isi pesan dari Angel.
Mendapat pesan itu tentunya Nao panik, tak masalah dengan dirinya namun jika disebarkan nama Ares sebagai calon direktur Airoo selanjutnya pasti akan tercoreng. "Fu*k! ada manusia dimuka bumi seperti ini!?."
Tanpa pikir panjang Nao keluar kamar untuk menemui dua orang suruhan Angel.
"Sayang mau kemana?." Tanya Sarah yang sedang bersantai di ruang tamu dengan Agam.
Tak sempat menjawab Nao sudah keluar dari rumah besar itu.
Sarah dan Agam saling tatap keduanya mengerutkan kening. "Ada apa ya?."
__ADS_1
Ares yang baru saja keluar kamar menatap langkah Nao hingga hilang dari pandangan.
Tok tok tok!
Nao mengetuk kaca mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari pelataran rumah itu. "Keluar!."
Tidak membuka kaca mobil, dua orang pria itu langsung turun menemui Nao. Nao sedikit panik dengan ukuran tubuh mereka.
"Masuk ke dalam mobil tanpa paksaan nona, dan kita tidak akan melukaimu." Ancam salah satu menatap lekat wanita cantik di hadapannya yang sudah berpikiran kotor untuk melakukannya nanti di jalan.
"Tidak perlu, akan ku temui Angel sekarang juga katakan dimana dia sekarang!." Tegas Nao.
"Biar kami antar nona jangan menolak." Pria botak itu menarik paksa tubuh Nao untuk masuk ke dalam mobil sebelum ketahuan.
Tentu saja tubuh Nao sangat ringan bagi mereka. "Lepas br*ngsek! kalian bisa beritahu Angel dimana jangan membawaku!."
Cuihh!!
Nao meludahi wajah pria yang membawanya untuk masuk ke dalam mobil.
"Sialan!!!." Pria botak itu tak terima mengambil pisaunya untuk melukai Nao.
CREKKK!
"Aaakkhh!!." Histeris Nao saat pisau itu menancap pada punggung Ares yang tiba di sana melindunginya.
Sekuat tenaga Ares menahan tikaman itu, tangan kirinya meraih pistol ia tembakan pada dua kaki orang suruhan hingga lumpuh jatuh tersungkur penuh darah.
"Ares!.." Panik Nao membopong tubuh pria itu.
Mendengar keributan di luar para penjaga merasa lengah ia kira Nao menemui temannya, penjaga itu langsung memborgol dua orang suruhan Angel, Agam dan Sarah panik lari menghampiri kedua anaknya.
Darah Ares menetes banyak ke tanah, Nao menangis panik namun pria itu tak peduli malah memeluk erat tubuh kekasihnya mencium pipi Nao berkali-kali. "Kau tidak apa-apa honey?." Lirih Ares.
Sarah dan Agam diam di tempat melihat pemandangan itu, perasaan keduanya tak menentu yang menyimpulkan jika anak mereka selama ini menjalin hubungan. "Kalian...."
.
__ADS_1
TBC