Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 72


__ADS_3

Lemah, itu isi benak Ares saat ia tak bisa menjaga batasan terhadap mantan kekasihnya itu.


Dengan perlahan Ares menyatukan bibir keduanya, ia kecup dengan dalam melepas rindu yang selama ini ia pendam. Di lum*tnya dengan lembut namun semakin ke sini luma*an itu berubah menjadi liar menyesap setiap inci manis bibir sexy Nao.


Di bawah sana milik Ares mulai tegang, telinga pria itu tampak merah karena hasratnya mulai naik.


Ares menggigit pelan bibir bawah Nao sebelum melepasnya, ciuman itu terkesan agresif namun Nao tak terbangun ia tidur dengan lelap seperti bayi. "Memang kebo." Lirih Ares dengan sudut bibir terangkat.


Dielusnya bibir sexy yang basah itu akan ulahnya, Ares berdiri takut kebablasan melihat sesuatu di balik handuknya yang kini tampak berontak siap tempur.


"Good night baby girl." Bisik Ares mengecup pipi Nao sekilas.


Setelah menyelimuti Nao, Ares berlalu dari kamar itu membiarkan Nao istirahat dengan tenang. Ia tahu akhir-akhir ini mantan kekasihnya itu lelah secara mental setelah semua masalah yang terjadi padanya.


Tanpa sepengetahuan Ares, Nao membuka matanya sontak merubah posisi menjadi duduk. Ia tampak syok dengan wajah merah bak kepiting rebus.


Disentuhnya bibir ranum itu yang kini terasa sedikit bengkak akan ciuman Ares yang liar juga kuat.


Nao tak bisa berkata-kata setelah kejadian barusan. "Dia menciumku!???."


Sebenarnya Nao sudah terbangun ketika pintu dibuka oleh Ares, ia sengaja pura-pura tidur karena ingin tahu apa yang akan dilakukan kakak tirinya.


Mengenai ciuman, itu diluar dugaan Nao, karena melihat sikap Ares yang memang berubah 180°.


Nao guling-guling di atas kasur dengan wajah merah. "Ya tuhan bukankah dia memiliki wanita baru???."


Sedetik kemudian Nao teringat ucapan Anna yang jangan dulu menyimpulkan. "Tapi.....


"Ah entahlah." Nao menghela nafas panjang.


Nao ragu malam ini akan bisa tidur dengan nyenyak setelah apa yang terjadi barusan, sikap Ares benar-benar membingungkan nya.

__ADS_1


Dan benar saja saat pagi tiba mata Nao berubah menjadi mata panda. "Haish!." Resah Nao saat melihat pantulan dirinya dari cermin ketika membasuh muka.


"Keluar dan sarapan-lah!." Ujar Ares dari luar terdengar memanggil.


"Ya, kali ini aku seperti anak kecil yang diurus pria itu." Lirih Nao pasrah.


Nao keluar kamar ia berjalan menuju meja makan. Ares mengerutkan kening melihat mata panda Nao. "Kau begadang?."


"Ya, aku terbangun setelah bermimpi digigit serangga." Ujar Nao. "Besar sekali."


Mendengar itu Ares hanya diam saja karena merasa tidak masuk akal.


Mereka pun mulai sarapan bersama.


"Kenapa kau memotong rambut?." Tanya Ares dengan tatapan yang tersorot sedikit tajam.


"Aku hanya melakukannya karena ini terasa ringan." Balas Nao bohong, padahal itu cara melampiaskan Nao ketika mentalnya down.


Selama bersama di sana, mereka tak membahas hubungan yang telah terjadi, Nao melirik Ares, banyak sekali yang ingin ia tanyakan. "Kak tentang hubungan kita....


"Jangan membahasnya!."


"Haish, padahal aku belum selesai bicara." Lirih Nao sedikit kesal.


Namun Ares tampak tak peduli acuh saja.


Hingga sarapan pun selesai.


Nao membawa tasnya ia akan pulang, lama-lama di apartemen Ares takutnya nanti Agam atau Sarah datang ke sana.


Melihat Ares sudah siap dengan jaketnya Nao mengerutkan kening. "Apa mau berangkat lagi ke Jepang?."

__ADS_1


"Kenapa? kau masih merindukanku?." Sengaja Ares, padahal ia sendiri sangat merindukan Nao hanya saja tembok gengsinya sengaja ditinggikan.


Nao menekuk wajah cantiknya. "Memangnya kau tidak merindukanku?."


Pertanyaan yang disengaja Nao membuat Ares menatap lekat mendekatinya hingga tidak ada jarak. Mata keduanya saling tatap cukup lama, perasaan Nao mulai tak menentu saat ibu jari Ares menyentuh bibirnya bahkan menuntun Nao untuk menggigit jari pria itu.


"Batin kita sepertinya terkoneksi itik." Lirih Ares dengan suara seraknya yang sexy.


Nao terdiam saat Ares menghisap jari bekas menyentuh bibir juga lidahnya, tanpa berucap lagi Ares meraih leher Nao menyatukan bibir mereka.


Ciuman itu tak bisa dihindari, mata Nao terbelalak saat benda kenyal dan lembut bergerilya pada bibir sexy-nya.


Perlahan Nao memejamkan mata membalas pagutan liar Ares, ia rindu sangat rindu dengan pria itu juga sentuhan lembutnya yang penuh kasih sayang.


Beberapa saat kemudian, Nao mendorong dada bidang Ares hingga ciuman terlepas tat kala membayangkan wanita baru Ares.


"Untuk seorang kakak bukankah berlebihan bukan?." Bisik Ares sengaja menyindir, ia mengacak-acak rambut Nao yang masih terdiam dengan ulahnya. "Lupakan, rem kakakmu blong."


"Ha?." Nao tak habis pikir.


Ares meraih kunci mobilnya menandakan ia akan pergi.


"Tunggu, sebenarnya kau mau kemana?." Timpal Nao.


"Menemui ayah mertua Ishak, kau pulanglah ke rumah jangan ikut!." Potong Ares.


"What!??." Nao terkejut bukan main.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2