Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 115


__ADS_3

Tak terasa waktu berlalu bulan pun berganti, kini baby Keenan sudah beranjak menuju usia satu tahun.


Bayi tampan dan menggemaskan itu tumbuh dengan baik, setelah satu tahun menjadi rebutan Ishak dan Agam kini sedikit mendingan karena putri pertama Andrew dan Anna telah lahir.


Agam telah memiliki dua cucu ia dan Sarina begitu menyayangi keduanya.


Hari ini mama Sarina datang ke rumah Agam, tat kala ia mengetahui jika Jeena putri Andrew dan Keenan ada di sana dibawa oleh Ares dan Andrew untuk bertemu nenek dan kakek.


Seperti biasa mereka riuh bahagia bermain meminang cucu.


Melihat Agam bermain manja terhadap Keenan, Sarina beralih menggendong Jeena yang masih bayi itu.


Pemandangan yang begitu menenangkan, namun Sarah yang tersenyum terdiam tat kala mengingat sesuatu.


Sarina dan Agam adalah mantan suami istri, melihat keduanya seperti ini Sarah merasa bersalah telah hadir mengganggu bahkan memisahkan keduanya.


Nao yang menyadari perubahan raut wajah sang mama langsung menghampiri. "Ada apa ma?."


"Mama merasa bukan siapa-siapa melihat mereka bahagia berkumpul dengan cucu-cucunya Nao." Lirih Sarah, hatinya seketika sakit. "Bagi cucu-cucu mama, mama ini hanya nenek tiri tidak seperti mereka."


Nao mengerutkan kening terkejut dengan ucapan Sarah. "Apa yang mama katakan?."


Tanpa berucap lagi Sarah pergi ke tempat lain, ia tak mau mengganggu momen Agam dan Sarina yang bahagia dengan cucu mereka.


"Aku ke belakang dulu mas." Bisik Nao pada Ares, setelahnya berlalu menyusul Sarah.


Sudut mata Ares mengikuti langkah Nao, namun ia tak berkomentar.


Di halaman belakang Nao melihat Sarah terisak, tentu saja perasaannya semakin tak menentu. "Ma ada apa? katakan? kenapa tiba-tiba seperti ini."

__ADS_1


"Mama hanya merasa mengganggu kebahagiaan mereka, mungkin orang-orang bisa bilang siapa Sarah yang tiba-tiba datang diantara Agam dan Sarina."Ujar Sarah terdengar memilukan.


Nao langsung meraih tubuh mamanya memeluk Sarah untuk menenangkan. "Kenapa bisa berpikiran seperti itu setelah semuanya baik-baik saja ma?."


"Cucu tiri dari mananya? Keenan anakku dan aku anakmu, ku mohon jangan berpikiran seperti itu karena itu tidak terjadi kita bahagia bersama-sama." Timpal Nao.


"Tidak Nao, mama tetap akan merasa bersalah sampai kapanpun karena mama telah melakukan kesalahan di masa lalu." Mulai Sarah.


Nao mengerutkan keningnya.


"Mama selama ini belum menceritakan apa-apa sama kamu."


Sarah menyeka air matanya dan beralih membalas tatapan Nao. "Mama yang waktu itu stres karena ayahmu tak pernah sedikitpun memperhatikan, mama memilih untuk selingkuh darinya dan bertemu dengan Agam yang dimana masalah kita sama, istrinya Sarina tak meluangkan waktu demi pekerjaan."


Sarah menceritakan semuanya dengan detail, yang dimana saat itu setelah diam-diam menjalin hubungan, keduanya benar-benar saling mencintai dan menyayangi dan memilih berpisah dari hubungan resmi masing-masing.


Setelah mendengar semua itu kini Nao mengerti seolah dapat merasakan bagaimana jika ada di posisi Sarah. "Tapi itu sudah lalu, mama Sarina juga tampak tak mempermasalahkan itu hanya di mama saja yang merasa bersalah."


Nao kembali memeluk Sarah. "Sudah, wajar kita merasa bersalah tapi jangan lupa ma semuanya ini telah diatur Tuhan."


"Duhh sejak kapan putri mama sudah dewasa?." Balas Sarah memeluk putrinya, kini ia merasa lega.


"Haish, sudah anak satu ma."


"Iya-iya."


Keduanya berpelukan saling menenangkan.


Sementara itu..

__ADS_1


Agam melirik Sarina yang asyik bermain dengan Jeena putri Andrew, entah apa yang dipikirkan pria paruh baya itu namun Agam tersenyum lebar melihat Sarina tampak bahagia.


Ares dan Andrew yang tengah mengobrol tidak jauh dari mereka, menyadari tatapan Agam.


"Sarina..."


Mendengar namanya dipanggil Sarina menoleh, nada panggilan yang sudah lama tak ia dengar kini terucap kembali.


"Ada apa Agam?."


Sebelum melanjutkan ucapan, Agam tampak menghela nafas sekilas. "Kenapa kau tidak menerima tawaran untuk menikah lagi? kau pantas bahagia lebih dari bersamaku tidak kemana-mana sendirian."


"Apa aku terlihat se-memprihatinkan itu?." Timpal Sarina.


Agam terkekeh sekilas. "Tidak yang benar saja! aku ingin melihat kau bahagia menuju masa tua."


"Sudahlah kau diam, aku bisa melakukan semuanya sendiri ini pilihanku apalagi dengan melihat cucu cantik dan tampanku ini, kebahagiaanku lengkap semakin tak terbendung." Balas Sarina.


Agam terdiam ia menatap lekat wajah Sarina.


Sarina memilih kembali bermain dengan Keenan, namun seketika pikirannya tertuju pada masa lalu. "Bahagia dan menikah dengan pria lain? Yang benar saja Agam! bahagia dan cintaku habis pergi bersamamu." Batinnya bersuara, namun Sarina tak menggubris itu membiarkan semuanya berjalan sesuai takdir Tuhan.


"Menikahlah kembali denganku Sarina." Lirih Agam.


Mata Andrew dan Ares hampir keluar mendengar apa yang dilontarkan papanya.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2