
Anna diam ia bingung harus bicara apalagi.
"Sorry An aku terlalu berlebihan, ini bukan karena aku dan Ares berpisah hanya saja situasi saat ini yang ku alami benar-benar menguras tenaga." Lanjut Nao frustasi.
"Coba lihat status kakakmu itu." Ujar Anna.
Nao memperlihatkannya, tampak Anna mengerutkan kening banyak sekali yang terbesit dalam benaknya. "Jangan dulu menyimpulkan mungkin bukan kekasih barunya, aku rasa Ares tak seperti itu setelah semua apa yang telah terjadi."
"Entahlah, jika iya dia memiliki wanita baru itu haknya aku tak bisa apa, aku hanya menyakiti perasaan Ares An." Lirih Nao. "Dia pantas membenciku."
Tampak kini Nao mengembangkan senyum manisnya, ia tak mau terlalu memikirkan itu saat ini ia akan mendukung segala kegiatan Ares sebagai kakak saja. "Ayo kita masuk sebelum dosen pembimbing datang."
Anna ikut merasa resah, namun ia tahu Nao bukan tipe orang yang lama berlarut-larut dalam kesedihan. "Oke kau bisa melewatinya."
"Of course."
Keduanya pun masuk ke dalam ruangan dosen.
.
Airoo Company
"Ben coba cek jadwal om dari besok hingga lima hari yang akan datang." Perintah Agam pada putra dari sekretarisnya.
Ben menggaruk kepala tak gatal, ia tak biasa melayani pimpinan Airoo, itu tanggung jawab ayahnya yang saat ini sedang ada tugas di luar kota.
Agam melirik Ben yang belum juga menyentuh iPad ayahnya.
"Om apa ini tak masalah? takutnya aku membuka dokumen yang sifatnya privat." Ragu Ben.
__ADS_1
"Seperti pada orang lain saja Ben, lakukan saja itu juga pekerjaan ayahmu." Lirih Agam. "Dia besok sudah kembali."
"Baiklah." Ben meraih iPad berisi data penting itu, ia melihat dengan detail jadwal Agam.
"Bagaimana?."
"Ada beberapa pertemuan yang harus di pimpin langsung oleh om, tapi itu semua tidak ada yang di luar kota masih lingkup dalam perusahaan." Lapor Ben.
"Oke itu tak masalah, atur jadwal om untuk digantikan ayahmu. Kemungkinan om akan menemui Ares untuk menjenguk sekaligus men-support dia di pertandingan selanjutnya bersama yang lain." Ujar Agam dengan tangan yang masih fokus pada komputer.
"Iya om."
.
.
Setelah 3 hari berlalu luka itu berangsur pulih, Ares tak diam diri ia sebagai kapten kembali memimpin latihan di gedung olahraga bersama coach juga timnya yang terdiri dari dua tim yaitu tim A dan B.
Dengan kesibukan dalam hobinya ini pria tampan itu sedikit melupakan kisah percintaannya dengan Nao.
Waktu istirahat...
"Bagaimana kabarnya?." Tanya Ares penuh dengan keringat saat panggilan terhubung dengan seseorang di seberang sana.
"Padahal kau bisa bertanya langsung padanya bro."
"Mau ku bunuh?." Dingin Ares kesal ketika Ben sengaja menjawab seperti itu.
Terdengar gelak tawa yang pecah. "Hahaha itu mengerikan, tenang saja tidak ada pria yang mendekatinya, Nao sendiri tak kembali seperti dulu yang party-party dengan banyak pria namun.....
__ADS_1
Ben tak menyelesaikan ucapannya ia ragu untuk memberitahu sesuatu pada Ares.
Ares mengerutkan kening. "What!???."
"Dia saat ini sedang dekat dengan seorang pria, bahkan sering menghubunginya."
"Katakan jangan membuang waktuku!."
"Aku sendiri orangnya." Balas Ben.
"Ya, gaji-mu sudah ku potong 30%!." Timpal Ares seraya mengakhiri panggilan.
"Hey! hey!.." Ben terkekeh mendapati itu. "Syukurlah perasaannya masih masa, jika mereka tak bersama pun tak masalah akan ku gantikan posisi Ares."
Saat bicara seperti itu Ben sudah membayangkan masa depannya akan bagaimana. "Agak ngeri ya."
Hingga beberapa hari berlalu, pertandingan selanjutnya pun dimulai.
Sudut mata Ares dapat melihat jika Agam juga Sarah ternyata hadir bersama supporter yang lain duduk dibarisan penonton, Agam dan Sarah tak hanya sekali di sorot kamera karena media tahu jika mereka orang tua dari atlet profesional itu.
Hingga manik Ares bertemu dengan mata seseorang yang duduk tak jauh bersama orang tuanya, dia Nao yang ikut hadir duduk berdampingan dengan Ben.
Wanita cantik itu tersenyum menyapa kakaknya, namun tidak ada balasan dari Ares yang terkesan acuh, ia memulai pertandingan dengan perasaan tak menentu.
.
TBC
__ADS_1