Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 116


__ADS_3

Mendengar bahwa Agam berniat akan menikahi mama Sarina kembali, Nao terdiam membisu. Apa ini maksudnya? Sarah akan di poligami?


"Apa papa tidak salah mas sampai berpikiran ke sana?." Tanya Nao penuh penekanan.


Ares memijit pusing keningnya, ia sendiri tak habis pikir dengan pikiran papanya, apa karena Sarina sekarang banyak menghabiskan waktu bersama mereka sehingga Agam memiliki perasaan kembali layaknya dimasa lalu.


"Kamu jangan bimbang apalagi sampai dipikirkan, mas akan bicara terlebih dahulu kepada mama dan papa. Kabar ini jangan dulu sampai sama mama Sarah oke? kita ambil jalan tengah agar tidak ada yang tersakiti." Ujar Ares mengambil keputusan, yang dimana ia sendiri tak mau jika mamanya di poligami.


Nao pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah."


Sementara di ruangan lain.


Andrew mondar-mandir di hadapan Agam dan Sarina, sebagai putra pertama ia harus membereskan dengan baik.


"Apa yang papa katakan itu serius?."


"Kapan papa main-main Ndrew?." Timpal Agam.


Andrew melirik mamanya Sarina yang hanya menghela nafas berat.


"Aku lebih baik tak menikah lagi Agam jika harus seperti itu, kau mau menyakiti hati seorang istri untuk yang kedua kalinya?." Jelas Sarina. "Melihat kalian bahagia itu sudah cukup, jangan berkeinginan mengikut sertakan diriku diantara hubunganmu dengan Sarah."


"Aku hanya ingin melindungimu merangkul kembali agar kita bisa lebih leluasa, dan aku rasa Sarah tak akan keberatan melihat kalian akur saling melengkapi seperti sekarang." Timpal Agam.


"Tak perlu, lihat bagaimana reaksi anak-anak nanti jangan plin-plan!." Tegas Sarina.


Dalam waktu bersamaan Ares tiba di sana.


Agam menghela nafas panjang setelah mendengar jawaban Sarina, ia tahu ini membingungkan tapi dalam hati Agam tak bisa bohong ia ingin mengayomi dan menyayangi Sarina dan Sarah sekaligus.


"Apa mama setuju?." Tanya Ares.


Sarina menggelengkan kepalanya. "No, buat apa menikah dengan pria yang sudah beristri."


"Sekalipun itu ayah dari anak-anak mama sendiri?." Lanjut Ares.

__ADS_1


"Ya!." Balas Sarina sengaja sambil melirik Agam.


"Bagus!."


Mendengar jawaban dan keputusan mereka membuat Agam tak bisa memaksa. "Oke baiklah papa juga tidak akan melakukan itu tanpa persetujuan kalian, ini hanya rencanaku yang bisa terjadi jika Sarina setuju."


"Tunggu Agam, apa kau benar-benar mencintai Sarah?." Tanya Sarina terdengar serius.


"Kenapa kau bertanya? jawabannya tentu saja iya, dia istriku yang menemani disaat suka dan duka dan kau ibu dari anak-anakku tidak ada yang membedakan." Ucap Agam, setelah selesai berbicara ia berlalu dari ruangan itu untuk kembali bermain dengan cucu-cucunya.


Sarina kembali menghela nafas panjang, ditatapnya Andrew dan Ares bergantian. "Ini sisi lain Agam yang menjengkelkan sekaligus tak disukai mama, awas saja jika kalian mewarisi sifat ini dan berpikiran untuk berpoligami! mama tak mau mengakui anak lagi!."


Ares dan Andrew menelan salivanya, mereka berdua juga sudah membayangkan reaksi istri masing-masing yang tentu saja sangat mengerikan.


"Tidak akan ma, sama sekali dalam benakku tak tersirat demikian." Timpal Ares serius yang dibenarkan oleh Andrew.


"Bagus!."


"Ares jika ada secuil saja ada keinginan untuk berpoligami bayangkan ayah mertuamu itu!." Ujar Sarina mengingatkan.


"Dan Andrew jika sampai kamu pun demikian maka lihat saja balasan mama ketika kamu berani menyakiti perasaan Anna!."


"Iya ma kami tidak akan pernah berpikiran kesana apalagi sampai melakukannya!." Tegas Ares dan Andrew bersamaan.


"Oke, mama pegang kata-kata kalian!." Sarina pun berlalu dari sana.


Barulah Ares dan Andrew menghela nafas lega.


"Ini gara-gara papa kita kena getahnya diinterogasi Res." Ujar Andrew.


"Itu tidak akan terjadi."


"Benar."


Ares dan Andrew sama-sama berjanji.

__ADS_1


.


Setelah berkunjung ke rumah Agam, keluarga Ares dan Andrew pulang kembali ke rumah masing-masing, begitupun dengan Sarina yang tempat tinggalnya kini tidak di Jepang lagi, ia memilih dekat dengan anak-anaknya di Indonesia.


Malam itu..


Setelah membersihkan diri Ares mengacak-acak rambut basahnya, membiarkan tubuh kekarnya terekspos.


Tampak Nao tertidur pulas bersama baby Keenan yang tengah di beri ASI, melihat itu Ares tersenyum seraya menghampiri.



Dengan perlahan Ares memindahkan baby Keen ke atas ranjang miliknya yang disediakan khusus tak jauh dari posisi mereka berdua.


Sebelum beranjak Ares mengecup penuh kasih sayang pipi gembul Keenan. "Selamat tidur anak papa."


Setelahnya Ares naik ke atas ranjang membenarkan posisi tidur sang istri, Ares ikut masuk ke dalam selimut melingkarkan tangan kekarnya pada perut ramping Nao.


Nao yang merasakan sesuatu perlahan membuka matanya, ia sedikit terkejut tat kala Ares kini sudah ada di hadapannya bergerilya bermain nakal pada dua gundukan montok itu layaknya bayi kehausan.


"Bangun?." Tanya Ares seraya beralih naik ke atas untuk me*umat bibir ranum itu.


"Mmmhh!.." Nao melepaskan ciuman saat hendak kehabisan nafas. "Belum tidur mas?."


Ares menggelengkan kepala dengan tangannya yang sudah nakal kemana-mana. "Mas pengen sayang."


Pipi Nao merona, mau membantah bagaimana? ketika ia terbangun saja sudah ditelanjangi begini.


Belum sempat Nao menjawab, Ares sudah melancarkan aksinya membuat ranjang itu berderit dengan alunan juga tempo yang teratur.


"A-ah!.. Aaaaahh!.."


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2