
Depan aula gedung wisuda.
Agam dan Ishak serta yang lain masih menunggu kedatangan Nao dan Ares yang katanya mereka akan tiba di sana.
"Ini lama sekali, kita sudah dari tadi. Apa putramu membawa kabur putriku?." Sewot Ishak.
Agam menatap jengkel Ishak. " Kenapa kau selalu menyalahkan putraku?."
"Siapa lagi yang membawa Nao? kan Ares Gam, dan kau papanya." Lanjut Ishak tak mau kalah.
"Kau cocok sekali kalo jadi perempuan, cerewet galaknya minta ampun." Potong Agam.
Sarah menggelengkan kepalanya. "Sudah-sudah kalian ini udah pada tua, Nao juga sebentar lagi, mungkin terkena macet."
Tak ada yang bersuara lagi dua bapak-bapak itu diam kembali menunggu kedatangan anak masing-masing, dan benar saja tidak lama mobil Ares tiba di sana tak jauh dari posisi mereka.
"Darimana saja?." Tanya Agam kepada Nao dan Ares yang melangkah ke arah mereka.
"Ke suatu tempat yang indah dulu pah sebentar." Balas Ares sengaja.
"Oke baiklah, sekarang kita ambil foto untuk mengabadikan momen ini." Lanjut Agam.
"Iya."
Jika dilihat-lihat oleh Ishak, Nao dan Ares sangat berjarak. Namun ia tak akan menanyakan itu nanti saja setelah semuanya selesai.
Fotografer siap dengan tugasnya lalu mengabadikan momen mereka.
Tak terasa acara pun usai pada sore hari, semuanya bersiap untuk pulang.
Ishak dan Maya berpamitan dengan Nao.
"Kau tidak ada masalah dengan putriku Ares?." Bisik Ishak dengan tatapan penuh selidik, melihat Ares yang tiba-tiba hilang dan muncul bersama Nao namun malah berjarak.
Tentu saja Ares menggelengkan kepala. "Sama sekali tidak ada ayah, tidak mungkin di hadapan kalian kita berpelukan?."
"Ck! maksudku bukan begitu." Ujar Ishak. "Lupakanlah."
Ares menggaruk kepala tak gatal.
Setelah berpamitan Ishak dan Maya pun berlalu untuk pulang begitupun juga dengan keluarga Agam.
.
.
Keesokan harinya.
__ADS_1
Ares sudah dapat melihat beberapa dus undangan pernikahan siap disebarkan oleh para pegawai.
Di halaman samping kanan juga sudah disiapkan untuk resepsi pernikahan nanti, tadinya mau di gedung namun Ares berubah pikiran karena takut Nao kecapean karena lokasi lumayan jauh. Ia teringat Nao yang tengah mengandung, harus banyak istirahat jangan kecapean.
Sarah melihat orang-orang yang berlalu lalang untuk mempersiapkan pernikahan, ia terdiam.
Sebuah tangan mengejutkannya, Agam merangkul sang istri. "Kenapa kau melamun? apa yang ada dalam pikiranmu?."
"Kita akan jadi besan, lucu sekali bukan?." Lanjut Sarah dengan kekehan.
Agam mengecup kening istrinya. "Ya, sekaligus orang tua untuk anak-anak kita."
"Hmmm."
"Aku masih tak menyangka jika Ares dapat meluluhkan Ishak, ini di luar kendaliku namun ternyata dia bisa." Ucap Agam.
"Anak itu memang tak bisa ditebak dan aku bangga kepadanya."
Agam tersenyum. "Papa juga bangga karena mama sudah jadi ibu yang baik terhadap Andrew juga Ares."
"Cinta sama bapaknya sama anaknya juga harus sayang dong." Timpal Sarah.
Keduanya terkekeh.
"Mari kita berbahagia untuk Nao."
.
.
Hari itu tiba..
Area gedung pernikahan sudah diisi ratusan orang penting untuk menyaksikan acara pernikahan dari putra Agam Leonardgo.
Ishak berdampingan dengan Maya begitupun juga Agam dengan Sarah, mereka akan menyambut kedatangan Ares dan Nao.
Tak lama...
Seketika disana riuh saat Nao dan Ares muncul, pasangan yang begitu serasi dan cocok. Nao tampak begitu cantik memukau auranya benar-benar terpancar, sampai Ishak terharu jika putri sulungnya ini benar-benar akan ia lepas untuk memulai kehidupan baru.
Ares yang melihat wanita cantik itu berjalan ke arahnya dengan senyuman manis tak kuasa menahan air mata, ia menyeka air bening yang jatuh. Tak menyangka jika hubungan mereka sampai pada pernikahan.
Semua orang yang ada di sana terharu.
__ADS_1
"Ares tampak begitu mencintainya." Lirih salah satu merekam momen itu.
"Mereka begitu cocok, aku seperti melihat pasangan sempurna dalam dunia novel." Timpal yang lain terbawa suasana.
"Benar sekali."
Dengan lembut Nao menerima uluran tangan Ares untuk menggandengnya.
Di hadapan banyaknya tamu yang hadir, Ares dam Nao mengucapkan janji suci dan kini resmilah hubungan keduanya sebagai suami istri yang sah.
Ishak dan Sarah meneteskan air mata, mereka memeluk erat Nao sebelum menyerahkannya pada sang suami.
Agam dan Maya tak masalah dengan itu mereka tak peduli lagi karena masing-masing sudah memiliki keluarga.
"Selamat Ares, lakukan tugasmu yang pernah kau ucapkan pada ayah. Lindungi dan sayangilah putriku lebih dari apa yang telah ku lakukan padanya." Ujar Ishak.
Ayah dan mantu itu berpelukan.
"Tentu saja ayah jangan khawatir, dia istriku yang sangat ku cintai." Lirih Ares seraya menepuk-nepuk punggung Ishak.
"Bagus."
Setelah selesai sungkeman dengan para orang tua masing-masing, Ares dan Nao kini bersalaman dengan para tamu undangan yang hampir setengahnya orang-orang penting kenalan Agam juga Ishak.
"Selamat ya anak cantik dan ganteng."
"Iya."
"Selamat Ares juga Naomy berbahagialah kalian." Timpal yang lain.
"Terimakasih banyak."
Teruslah bergiliran seperti itu, hingga mata Nao dan Ares sedikit terbelalak saat mendapati dokter wanita yang kala itu pernah memeriksa kandungan Nao.
"Ares bukankah dia?." Bisik Nao merasa panik, mereka berdua di rumah sakit mengaku suami istri karena sudah hamil, namun kenyataannya bukan.
Dokter wanita itu kini tepat di hadapan mereka, di tatapnya lekat wajah Ares dan Nao bergantian. "Jadi kalian baru menikah sekarang?."
"Apa maksudnya?." Tanya Ishak merasa ada yang aneh.
"Jangan!...." Pelan Ares.
.
TBC
Thornim selalu mengusahakan untuk update ya jika memiliki waktu luang, ayoo tinggalkan jejaknya!..🤗🔥
__ADS_1