Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 65


__ADS_3

Keesokan harinya pukul 08:00.


Mama Sarah yang sedang di dapur menoleh ketika mendengar langkah kaki terburu-buru. "Ini hari libur kamu mau kemana?." Pertanyaan sang mama membuat langkah Nao berhenti.


"Jangan bilang kamu mau nyusul Ares ke Jepang juga!." Selidiknya penuh tatapan mengintimidasi.


Nao memutar mata malas. "Ayolah ma kita sudah tak terikat lagi."


"Terus mau kemana?."


"Aku merindukan Lucy, apa mau ikut?."


Sarah terdiam akan berabe jadinya jika ia menemui putri kecilnya itu. "Tunggu sebentar!." Sarah berlari ke arah kamar, tidak lama ia kembali dengan sebuah kotak yang cukup besar. "Berikan ini padanya, bukan mama tak merindukan Lucy yang ada ayahmu akan mengusir mama."


Nao menghela nafas kasar seraya menerima kotak itu. "Baiklah, perceraian memang menyusahkan anak."


Setelah pamit Nao berlalu pergi, Sarah diam dengan perasaan sedih, ya benar keegoisan orang tua, anak yang jadi korbannya.


Nao memulai perjalanannya menuju kota B, ada rasa resah dan takut juga saat nanti bertemu dengan Ishak. Nao pasti akan diintrogasi habis-habisan oleh ayah galaknya itu.


Hampir satu jam di perjalanan kini Nao semakin dekat dengan rumah ayahnya, Nao melirik saham Ares ketika lewat di sana tampak pembangunan gedung sudah selesai 100%.



"Bisakah kau pergi dari pikiranku Ares Leonardgo?." Jengkel Nao.


Nao kini tiba di halaman rumah Ishak, ia pun turun ketika melihat Lucy sudah menyambutnya.


"Kakak!."


"Lulu sayang.."


Adik dan kakak itu berpelukan, Nao langsung menyerahkan pemberian Sarah. "Ini dari mama, dia juga sangat merindukanmu."


"Woah! thanks you mama." Lucy antusias.


Tak lama Maya keluar dari dalam rumah, ia terdiam melihat kedatangan anak tirinya. Nao yang menyadari itu menghela nafas panjang. "Bagaimana kabarmu bu?."

__ADS_1


"Tak sebaik yang kau bayangkan Nao." Lirih Maya. "Masuklah."


Nao masuk ke dalam, sebelumnya ia menyerahkan oleh-oleh untuk keluarga itu.


"Ayah dimana?." Tanya Nao.


Maya menyodorkan jamuan. "Dia pergi memantau bisnisnya sejak malam."


"Ah oke."


Lucy masuk ke dalam kamar untuk membuka hadiah dari mamanya, sementara Nao duduk berhadapan di ruang tamu dengan Maya.


"Ibu ingin marah kepadamu tapi itu tak bisa Nao, ulah Angel membuat ibu malu juga."


"Bu apa Ares mengatakan sesuatu kepada kalian?." Ujar Nao serius.


Sambil menghela nafas panjang Maya menceritakan semuanya, dari mulai mereka menemui Ares hingga pertengkaran sampai rumah.


Nao terdiam tak menyangka jika Ares akan memberikan keringanan terhadap Angel asal hubungan mereka direstui.


"Ibu sakit hati dan benci dengan ucapan ayahmu, tapi ibu tak bisa apa, makanya melihat dia tak memihak Angel lebih sakit." Ujar Maya yang terus terang saja blak-blakan.


"Ini diluar kendaliku, Ares yang menggenggam semuanya." Timpal Nao tak bisa apa untuk merubah keringanan pada Angel.


Maya menghela nafas berat.


.


.


Hingga tak terasa malam pun tiba..


Di atas balkon Nao duduk bersama Lucy menikmati indahnya malam.


"Ayah!?." Ujar Lucy seketika menoleh saat mendapati bayangan Ishak mendekati mereka.


Nao balik badan, benar saja Ishak pulang.

__ADS_1


Anak dan ayah itu saling tatap, Nao dapat melihat raut wajah lelah dari Ishak.


"Kau kesini?."


"Ya."


Lucy peka jika akan ada yang mereka obrolkan, gadis kecil itu berlalu pergi meninggalkan kakak dan ayahnya.


Di atas balkon kini hanya ada papa Ishak dan Nao, mereka memandangi suasana malam dari atas sana.


"Jangan terlalu keras sama ibu yah, bukan dia yang bersalah tapi Angel." Ujar Nao.


Ishak menghela nafas kasar. "Lupakan, bukan urusanmu."


"Jadi itu benar?." Tanya Ishak tanpa menoleh. "Kau dan Ares menjalin kisah percintaan."


Nao meremas ujung bajunya. "Iya, namun kita sudah berakhir karena melihat kondisi keluarga yang tidak mendukung."


"Ayah kecewa sama kamu, sangat kecewa! dari banyak sekian lelaki di dunia ini kenapa harus Ares?." Ujar Ishak.


"Apa kau pikir ayah akan merestui hubunganmu dengan anak dari perebut kebahagiaan ayah sendiri? tidak Nao."


Nao diam tak langsung menjawab.


"Kau benar-benar mencintainya?."


Nao menunduk. "Perasaan ini muncul begitu saja, sangat menyebalkan memang karena sebelumnya aku tak pernah seperti ini ayah."


Ishak menghela nafas kasar. "Ayah capek sedang tidak mau membahasnya, pertandingan anak itu sebentar lagi di mulai ayah mau nonton karena bagaimanapun juga dia atlet idola ayah."


"Memang sangat menjengkelkan!." Lirih Ishak seraya masuk ke dalam rumah meninggalkan putrinya yang melongo tak menduga setelah mengetahui itu.


"What!? Atlet idola ayah Ares?."


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2