Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 55


__ADS_3

Di atas ranjang itu keduanya saling cumbu dengan perasaan campur aduk, Nao menanggalkan pakaiannya begitupun dengan Ares yang dengan satu tarikan merobek tanktop Nao.


Nafas keduanya terengah-engah dengan tatapan mata yang tak bisa diartikan.


Ares maupun Nao sendiri menyalurkan gairahnya sama-sama liar, sehingga sentuhan kulit mereka saat ini terasa berbeda.


Cup...


Nao mengecup luka bekas tikaman pada punggung Ares. "Apa ini tidak mengganggu?."


"No."


Tanpa berucap lagi Ares menarik tubuh setengah telanjang Nao, ia tindih dengan tubuh besarnya. Pria tampan itu kembali melahap rakus bibir Nao dengan tangan sudah bergerilya di area dada kencangnya yang menggoda iman.


Setelah mata keduanya bertemu tatapan mereka sama-sama kosong akan gairah yang menguasai diri.


Bibir Ares semakin turun ke bawah mencium lembut area pusar, Nao memejamkan mata akan sentuhan pria itu.


Ditariknya penutup aset berharga Nao, tangan Ares membuka lebar sel*ngk*ngan-nya menenggelamkan wajah tampan itu di sana bermain lihai dengan lidah membuat tubuh Nao menggelinjang tak karuan. "A-Aresshhh s-stop ahh!.."


Ares tak peduli ia semakin liar dengan aksinya mengobrak-abrik hingga sesuatu yang basah keluar. "You like it baby?."


Dengan nafas terengah-engah Nao mengangguk. "Yeah.."


Nao bangun menyentuh milik Ares yang sudah berdiri, dilepasnya celana itu. Nao kembali dapat melihat sesuatu yang besar juga berurat siap menggetarkan jiwanya.


Masih saja ada rasa ngilu dan takut pada diri Nao walaupun pernah sebelumnya.

__ADS_1


Ares menuntun miliknya menggesekkan pada milik Nao yang indah tanpa cela itu, desiran dingin Nao rasakan ia meremas rambut Ares yang mencumbu dada montoknya bak bayi kehausan.


Sudut mata Nao melirik nakas ia melihat pengaman lalu meraihnya. "Ini, pakai ini."


Ares mengambilnya namun dengan wajah tak peduli pria itu melemparkan kond*m enggan memakainya hingga jatuh ke lantai.


"No Ares!! kenapa kau??." Potong Nao merasa panik.


Tanpa berucap lagi ditariknya paha mulus Nao, dengan perlahan Ares memasukkan rudalnya hingga tertanam sempurna.


Nao meremas sprei kuat saat miliknya terasa penuh. Bukannya menjawab pertanyaan Nao, Ares memulai aksi liarnya penuh gairah hingga ranjang ikut berderet.


"K-kenapa kau tak memakainya, aku akan sangat membencimu Ares!." Timpal Nao terbata.


Ares mencium dagu Nao menahan tubuh sexy yang terguncang akan pacuannya itu. "Bukankah aku lebih pantas untuk membencimu setelah semua ini itik?."


"K-kauhh!.."


Tubuh sexy Nao terguncang ia mencengkram punggung kekarnya, Ares mempercepat ritme tanpa melepas cumbuan pada dua gundukan montok yang ikut naik turun dengan indah itu.


"A-Aaaaakhh!.." Erang mereka bersamaan saat mencapai klim*ks.


Nao dibuat terbang melayang dengan kenikmatan yang diberikan Ares.


Dengan nafas terengah-engah Nao dapat merasakan miliknya hangat, merasakan sesuatu masuk saat dengan sengaja Ares mengeluarkannya di dalam.


"Oh damn it baby!." Lirih Ares seraya mencium kembali bibir ranum yang sudah jadi candunya.

__ADS_1


Tak menunggu waktu lama, keduanya kembali menggoyangkan ranjang dengan posisi yang berbeda. Nao benar-benar terguncang, mereka sama-sama mendominasi dengan tubuh yang sudah berkeringat.


"Aaaakkhh!." D*sah keduanya entah untuk yang ke berapa kali.


Nao jatuh di atas tubuh bidang pria tampan itu, ia kelelahan mengimbangi permainan liar kakak tirinya.


Dengan perlahan Ares merebahkan tubuh polos Nao, dengan nafas yang masih terengah-engah juga Ares mengelus wajah cantik itu.


"Maaf jika aku mengacaukan-mu, aku terlalu ingin sayang aku benar-benar tak sanggup." Lirih Ares lamat-lamat suaranya serak nan sexy, ia mengakui hasrat brutalnya kepada Nao.


"Apa kita benar-benar berakhir?." Tanya Ares berharap Nao membantah.


"Ya, kita berakhir tidak memiliki hubungan apapun selain saudara." Balas Nao, berat sekali untuk mengatakan itu.


"I hate you!.." Lirih Ares dengan tatapan penuh kecewa seraya merubah posisi membelakangi Nao. "Ingat itu, sampai kapanpun aku akan membencimu."


Nao tak bersuara ia memilih membelakangi Ares juga, tak terasa sebutir air bening jatuh dari sudut matanya. "Awalnya kita juga tak akur, mari saling membenci kembali."


"Cih!."


.


07:03 pagi hari...


Ares mengerjapkan mata saat sinar mentari menyapanya dari celah jendela, ia raba bantal di samping yang ternyata sudah kosong.


Pria tampan itu merubah posisi ia menyender menatap sekeliling, Ares terdiam menyadari Nao sudah pergi meninggalkan ia sendirian. Diusapnya kasar wajah tampan itu. "Aaaarrgh Fu*k!!."

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2