Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 90


__ADS_3

Hari berikutnya...


Dengan perawatan khusus Ishak dan Lucy di pindahkan ke tempat lain, perkembangan mereka bertahap mulai membaik.


Semua yang ada di sana lega.


"Dimana Nao?." Tanya Sarah yang tak melihat keberadaan putrinya.


"Dia di ruangan Ares dari semalam." Ujar Agam.


Sarah yang sudah menyuapi Lucy sarapan, segera keluar dari ruangan itu untuk menuju ruangan Ares.


Pintu dibukanya, dan tampak Nao masih tertidur lelap menggenggam tangan Ares yang masih tak sadarkan diri, Sarah menghela nafas panjang seraya menghampiri keduanya.


Di tatapnya lekat Ares dan Nao bergantian, Sarah elus lembut rambut Ares. "Kapan kau bangun? kita di sini sudah mengkhawatirkan-mu."


Mendengar suara sang mama Nao perlahan mengerjapkan mata. "Mama?."


"Ah maaf mama mengganggu tidurmu."


"No, no problem."


Nao merasakan sakit pada lehernya karena tidur semalaman dengan posisi seperti itu.


"Kau belum sarapan, sarapan lah dulu si bibi membawanya." Timpal Sarah seraya mengecup kening putrinya itu. "Cuci muka juga baru setelah itu temani Ares kembali."


Nao melirik Ares, wajah tampannya tampak tenang juga pucat. "Apa dia tidak akan meninggalkan kita ma?."


"Shuuut! kau ini bicara apa, kita tunggu saja Ares pasti bangun tubuhnya butuh waktu untuk menerima kestabilan zat besi yang telah dikeluarkan." Potong Sarah.


Nao mengangguk pelan, ia hanya sedih karena tidak pernah melihat Ares seperti ini sebelumnya. "Cepat bangun kakak angkuh, kau tidak merindukanku ya?."


Melihat interaksi itu Sarah hanya tersenyum sekilas.


"Oke ma aku keluar dulu."


"Ya."

__ADS_1


Nao berlalu dari sana untuk cuci muka juga sarapan.


Sementara di ruang sebelah.


Agam menatap Ishak yang disuapi Maya.


"Apa dalam kondisi seperti ini kau masih mau marah padaku?." Tanya Agam.


Dalam ketidakberdayaan Ishak masih bisa menatap jengkel pada Agam.


Maya yang melihat hanya menggelengkan kepala. "Mana mungkin dia membencimu pak Agam, semua kejadian juga fasilitas rumah sakit dan penolongan pertama dilakukan oleh Ares dan anda. Kalian begitu banyak membantu apalagi darah Ares yang kini banyak mengalir pada tubuh mas Ishak."


"Kau terlalu berlebihan Maya, Lucy juga putriku." Ujar Agam.


"Tidak pak Agam kami memiliki hutang budi." Sungkan Maya.


Sebenarnya Ishak sendiri memiliki kekuasaan namun ia tak berdaya ketika kecelakaan itu menimpa pada dirinya sendiri, sedangkan Maya tak tahu apa-apa.


Agam menyentuh pundak Ishak. "Cepat sembuh aku tidak punya teman untuk berdebat."


"Kau ini!.." Pelan Ishak masih terdengar yang membuat Agam tersenyum penuh maksud.


.


.


Andrew menghampiri Ben yang masih fokus mengotak-ngatik komputernya. "Bagaimana kabar Ares?."


Ben menggeleng. "Tubuhnya belum merespon."


Andrew menghela nafas panjang. "Oke, apa mendapatkan hasil?."


"Mobil Ishak disabotase anak buahku mengirimkan buktinya." Lapor Ben seraya memperlihatkan itu semua pada Andrew.


Tampak Andrew mengerutkan kening. "Apa dia memiliki musuh atau pebisnis lain yang merasa tersaingi?."


"Tidak, Ishak memiliki hubungan yang baik dengan pebisnis lainnya di sini beliau hanya tak akur dengan ayahmu sendiri kak Andrew." Lanjut Ben. "Tapi untuk lebih lanjut ini masih dalam penelitian."

__ADS_1


"Oke, pria yang bernama Daniel itu tandai dan berikan datanya padaku sekarang juga." Suruh Andrew yang diangguki Ben.


Andrew kembali ke ruangannya seraya menghubungi seseorang, ia murka karena kecelakaan ini sangat memilukan dan suatu keajaiban jika Ishak dan Lucy masih selamat yang kini sudah sadarkan diri dari komanya.


Rumah sakit..


Agam, Sarah dan Nao menatap resah Ares yang kembali di periksa dokter.


Suster menambah kembali infusan yang sudah habis.


"Seharusnya saat ini Ares sudah sadar, tapi tubuhnya belum merespon." Ujar dokter yang sejak awal ia sudah tahu akan aksi Ares yang mengandung resiko, namun sebisa mungkin dokter itu akan berusaha.


"Lakukan penanganan lain dok!." Ujar Agam.


"Sudah saya lakukan semuanya tuan, hanya tinggal menunggu Ares membuka mata." Jawabnya. "Kita lihat 1 jam kemudian jika Ares masih belum siuman, kami akan ambil tindakan."


Mereka menganggukinya. "Baiklah."


Dokter dan para suster itu berlalu meninggalkan ruangan Ares.


"Mama melihat Lucy lagi ya, ini waktunya makan siang." Ujar Sarah yang diangguki Nao.


"Baiklah."


Kini di sana hanya Nao, ia kembali duduk di samping pria itu yang tak kunjung membuka mata.


Di tatapnya lama wajah Ares, jantung Nao berdetak kencang ia takut bagaimana jika Ares tak akan membuka matanya lagi, rasa panik itu menguasai diri Nao.


Dengan perlahan Nao mengelus wajah Ares. "Jangan pergi bagaimana denganku yang tak mau kehilanganmu kakak angkuh?."


Tanpa terasa air mata Nao jatuh, ternyata ia sudah sedalam ini mencintai kakak tirinya itu. Dengan perlahan Nao mencium bibir Ares yang masih tampak pucat.


Nao dapat merasakan bibir lembut Ares terasa dingin, ia ingin menghangatkannya dengan ciuman itu. Setetes air bening Nao mengenai pipi Ares, tanpa melepas ciuman Nao menghapusnya namun lagi dan lagi air matanya terus jatuh membuat hati Nao semakin sakit.


Saat Nao hendak melepas ciuman, wanita itu terkejut saat merasakan lidah Ares merespon dan benar saja bibir pria tampan itu terbuka membeli celah. "Tunggu!..."


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2