
Dokter wanita itu bernama Tantriana merupakan sahabat dekat Ishak dan Maya yang sama suaminya bergerak dalam bisnis catering, bahkan mereka sering tukar pegawai.
Mengingat itu Nao menggigit bibir bawahnya, kenapa ia bisa lupa? mungkin efek dirinya yang sudah tak tinggal bersama ayahnya lagi.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? memang Ares dan Nao ini baru menikah sekarang." Lanjut Ishak.
Sedetik kemudian Tantri tersenyum ia menyadari sesuatu apalagi dengan tatapan tajam Ares. "Tidak ada, aku pernah melihat putrimu ini sering bersama Ares. Jadi anggapanku begitu Ishak."
Barulah Ares dan Nao menghela nafas berat, rahasia terbesar mereka ternyata bocor dan diketahui dokter wanita itu.
"Haish kau tahu aku belum menyebarkan undangan bukan? bisa saja kau ini Tan." Timpal Maya. "Terimakasih sudah datang.
"Tentu saja."
Nao juga Ares bersalaman dengan dokter ramah itu.
"Terimakasih dok akan ku transfer nanti." Bisik Ares sekilas.
"Tak usah Ares, anggap saja ini ucapan selamat tante buat kalian." Balas Tantri.
Ares menganggukinya namun ia akan tetap mentransfer, sebagai tanda terima kasih.
Acara berlangsung dengan meriah juga khidmat, banyak bintang tamu dari kalangan selebritis tampil menghibur banyaknya orang di sana.
Melihat Nao yang sudah kelelahan Ares mengajaknya untuk duduk.
"Apa masih lama?." Tanya Nao.
"Kenapa? apa kamu sudah tak sabar itik?." Sengaja Ares dengan tatapan nakalnya.
Mendapati itu Nao menepuk pelan paha Ares. "Acaranya, bukan malam pertamanya."
Ares terkekeh. "Iya iya, sepertinya sebentar lagi gandeng tanganku jika ada apa-apa."
"Hmmm."
Keluarga besar itu mengabadikan momen bahagia pernikahan Ares dan Naomy dengan foto-foto, Ishak menyeka air matanya antara bahagia dan sedih ia rasakan dalam waktu bersamaan.
Acara pun selesai pada jam 10 malam..
"Ayo kita masuk ke dalam kau tampak kelelahan itik." Lirih Ares.
Nao mengangguk karena benar saja setelah ada nyawa dalam perutnya ia mudah lelah.
Ishak dan Agam juga Maya dan Sarah masih sibuk mengobrol dengan kolega juga temannya yang hadir ke sana.
Digendongnya tubuh Nao oleh Ares untuk masuk ke dalam rumah, semua orang yang ada di sana bersorak gembira karena satu pemikiran.
__ADS_1
"Mereka pasti menyangka kita akan itu..." Bisik Nao dengan wajah tersipu.
"Ya memang."
"Ih kau ini ya." Kesal Nao karena Ares tak serius.
Ares tampak santai saja ia tak berhenti tersenyum karena begitu bahagia jika Nao kini miliknya sampai kapanpun.
Kini mereka berdua sampai di kamar Ares.
Pengantin baru itu terkejut karena kamar Ares berubah drastis menjadi kamar pengantin yang banyak ditaburi mawar-mawar merah, ruangannya semerbak wangi.
"Siapa yang melakukan ini?." Tanya Nao setelah turun dari pangkuan Ares.
"Pastinya bukan aku baby." Balas Ares.
Keduanya saling tatap dan beranggapan mungkin salah satu dari keluarga mereka.
Kini Nao duduk di pinggir ranjang. "Bisa bantu aku melepas riasan ini paksu?."
Ares menggigit bibirnya. "Tentu saja." Ia pun menghampiri Nao membantu melepaskan perhiasan yang dikenakan.
Cup!
Kecupan lembut mendarat pada leher jenjang Nao, Ares tak tahan untuk tak menciumnya. "Apa berdekatan denganku masih mual? aku sudah mengganti parfumnya."
Ares tersenyum, ia memeluk tubuh Nao dari belakang meletakkan wajahnya pada leher jenjang itu. "Terimakasih atas semuanya, aku akan membuatmu menjadi seorang istri yang paling bahagia di dunia, tidak ada kata pisah apalagi setelah memiliki anak, kita tahu rasanya menjadi broken home itu begitu menyiksa sayang."
"Aku tak mau anak-anak kita merasakannya." Lanjut Ares lembut terdengar begitu tulus, hati Nao tersentuh ia mengelus wajah tampan Ares.
"Ya benar." Lirih Nao.
Mata keduanya saling tatap.
"Aku tak akan melakukannya dan akan berusaha untuk tahan jika itu mengganggu hormon mu dan anak kita." Lanjut Ares tak memaksa.
"Memangnya bisa tahan?." Pancing Nao mengecup hidung mancung Ares.
"Haish kau ini!." Diraihnya leher jenjang itu, Ares menyatukan bibirnya mencium rakus bibir sexy Nao dengan l*matan nakal yang membuat darah keduanya berdesir.
Sebelum terlalu jauh, Nao mendorong dada bidang suaminya. "Aku tak nyaman dengan gaun pengantin ini, juga ingin cuci muka dulu."
"Baiklah ayo."
"Aku sangat kelelahan, apa tak masalah jika kita tak melakukannya sekarang?." Ucap Nao.
Ares yang sudah tahu itu mengangguk. "No problem baby, bisa lain kali walaupun sekarang milikku begitu berontak."
__ADS_1
Pipi Nao merona setelah melihat ke arah bawah milik Ares.
Keduanya kini ganti baju, lagi-lagi Nao dibuat tersipu karena Ares di hadapannya melepas pakaian. Beda hal dengan Ares ia terlihat santai dan duluan ke kamar mandi untuk cuci muka.
Setelah Ares selesai kini giliran Nao, Ares duduk di pinggir ranjang dengan perasaan yang masih bahagia, namun ia juga resah tak yakin jika tahan dengan godaan Nao yang semakin sexy dan cantik itu. "Ini menyiksaku, padahal baru sehari."
Dalam waktu bersamaan tiba-tiba pintu kamar Ares diketuk, pria tampan itu langsung melangkah melihat siapa yang datang.
"Ayah?."
Ishak berdiri di sana menatap lekat ke arah Ares. "Apa ayah mengganggu?."
"Tidak, ada apa? apa ayah ingin aku menangkap ikan lagi?."
Ishak berdecak sekilas. "Kau ini, ada sesuatu yang harus ku sampaikan, ikuti ayah!."
Agak sedikit berat tentunya bagi Ares meninggalkan kamar, namun ini ayah mertua tercintanya tidak mungkin dilewatkan.
Ares keluar kamar mengikuti langkah Ishak untuk membicarakan sesuatu.
Nao yang keluar dari kamar mandi celingak-celinguk mencari keberadaan Ares, namun Nao peka mungkin Ares ada urusan sebentar.
Wanita cantik itu kini hanya mengenakan baju tidur crop top, Nao berniat melakukan yoga sambil menunggu Ares kembali. Ini rutinitasnya sebelum tidur apalagi setelah mengetahui ada janin di perutnya. Tubuhnya harus fresh dan tetap kuat.
Selang 10 menit, tubuh Nao sudah berkeringat bersamaan juga dengan Ares yang kembali masuk ke dalam kamar.
Pria tampan itu menghampiri Nao.
"Dari mana?." Tanya Nao masih dengan posisi yoga, bahkan tubuh indahnya itu begitu molek saat diregangkan.
"Menemui ayah." Jawab Ares dengan tatapan mata tertuju pada bokong Nao yang sexy menggoda iman.
"Ayah?."
"Ya." Ares berdiri duduk di belakang Nao. "Aku banyak mengetahui yoga yang baik, kita coba."
Nao mengerutkan kening. "Seperti apa itu?."
Dengan posisi duduk Ares mengangkat satu tangan Nao ke atas, satu tangannya lagi memeluk erat perut ramping itu.
Hawa tubuh Nao seketika memanas saat Ares menggesekkan miliknya dari belakang, leher jenjangnya ia ciumi dengan liar. "A-aaakkh! Aressh..."
"Gerakannya seperti ini sayang.." Bisik Ares dengan suara seraknya yang sexy.
.
TBC
__ADS_1