Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 41


__ADS_3

Pagi pukul 06:15..


Nao keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, ia memakai kemeja Ares yang ada di lemari pria itu.


Masih sangat terasa sekali tubuh Nao pegal-pegal akibat pergulatan panas semalam. "Tubuhku remuk!."


"Kita kembali melakukannya?." Batin Nao ia sedikit tersipu mengingat perdebatan semalam yang berujung di atas ranjang.


Ares masih terlelap dengan tidurnya, Nao melirik sekilas setelahnya ia keluar dari kamar untuk membuat sarapan.


Sambil menyiapkan bahan makanan Nao membuka kembali handphonenya, tampak sekali Sarah menghubungi berkali-kali. "Ya tuhan apa mereka akan mencurigai?."


Wanita cantik itu meletakkan handphone mengatur nafas agar bisa tenang, setelah selesai pak pik pek di dapur Nao menghidangkan sarapan untuk mereka berdua.


Ares mengerjapkan mata saat mencium aroma masakan yang menggugah selera, ia raba bantal samping yang ternyata sudah kosong. Pria tampan itu tersenyum seraya merubah posisi jadi bersandar.


Nao yang sedang mengeringkan rambut basahnya dengan hair dryer sontak menoleh saat sebuah tangan kekar merebut alat itu.


"Kemari."


Ares membalikkan badan Nao agar menghadapnya, pria tampan itu hanya mengenakan handuk sepaha memperlihatkan jelas tubuh atletisnya yang banyak sekali bekas merah ulah Nao semalam.


"Masih membenciku itik?." Tanya Ares membantu mengeringkan rambut Nao.


Nao hanya menatap tajam ke arah Ares. "Sudah tahu jangan ditanya."


Sudut bibir Ares terangkat. ia meletakkan hair dryer menatap penampilan Nao yang mengenakan kemeja putih miliknya terlihat begitu sexy. "Kalau begini aku tak bisa berangkat ke kantor."

__ADS_1


Nao memutar mata malas ia usap wajah tampan Ares yang menatap dirinya dengan liar. "Bisakah kita tidak saling egois? maksudku jika kakak nakal ini melihatku sering bersama lawan jenis jangan beranggapan lebih karena itu hanya rekan kerja dan semacamnya."


"Maka aku juga akan beranggapan seperti itu terhadapmu." Lanjut Nao. "Walaupun sepertinya ulet keket itu mencintaimu!."


"Ulet keket?." Ares mengerutkan keningnya.


"Itu yang nempel sama kamu akhir-akhir ini." Kesal Nao.


Ares tersenyum ia membuka paha mulus Nao mendekati wanita itu melingkarkan tangannya memeluk Nao. "Oke maafkan aku juga itik yang begitu posesif, aku hanya takut kau dibawa pergi oleh pria lain."


"Cih!." Decak Nao memalingkan muka karena memang masih kesal. "Sudah tahu aku kekasihmu mana mungkin begitu."


Ares mendekap tubuh Nao memeluknya erat. "I love you itik, jangan marah lagi aku tak bisa diperlakukan seperti itu."


Ini terasa lucu sekali bagi Nao, ia membalas pelukan Ares. "Iya tapi milikmu menggangguku." Bisik Nao saat merasakan benjolan keras mengenai sel*ngk*ngannya.


"Bagaimana jika kita melakukannya lagi?." Bisik Ares seraya mencium leher jenjang Nao menyesap dalam aroma tubuh itu. "Namun tanpa pengaman."


Nao mendorong pelan tubuh kekar Ares takutnya ia ikut terbawa suasana dengan sentuhan kekasihnya. "Kau harus ke kantor, aku juga akan pulang dulu ke rumah sepertinya mama mencari kita."


Ditariknya Ares menuju meja makan. "Kita sarapan."


"Baiklah." Mengalah Ares.


Keduanya pun mengisi perut sebelum beraktivitas, Ares tak lepas memandangi wajah cantik wanita yang dicintainya. Rasanya ia ingin membawa kabur Nao dan memulai kehidupan bahagia tanpa mengingat status mereka sebagai saudara tiri.


Setelah selesai sarapan, Nao hendak mencuci piring dengan Ares yang terus memeluk dan menciumnya dari belakang. "Ayolah sebentar saja kak aku susah bergerak." Lirih Nao.

__ADS_1


"Diamlah, aku hanya memaksimalkan waktu kita yang sedikit itik."


Pipi Nao merona.


Ting tong ting tong!


Nao dan Ares terkejut saat bel berbunyi.


"Gawat!." Nao melepaskan diri dari dekapan Ares, ia lari kocar-kacir menuju kamar untuk bersembunyi.


Ares meraih kemejanya untuk menutup bekas cinta pada tubuh, setelah dirasa aman Ares menghampiri pintu apartemen lalu membukanya.


"Sudah ku duga kamu bermalam di sini Ares." Ujar Agam yang datang bersama Sarah.


"Ah iya pah aku sengaja karena lokasinya dekat dengan kantor, berhubung hari ini juga ada rapat penting." Bohong Ares walaupun sebenarnya memang ada rapat.


"Oke, papa mau mengambil jas juga dasi yang waktu itu tertinggal di sini." Ujar Agam. "Tidak mempersilahkan kami masuk?."


"Tentu, tentu silahkan!." Ares memberi jalan, ia begitu panik.


"Ares apa kamu tahu Nao menginap dimana? tumben dia tak memberi tahu mama?." Ujar Sarah seraya duduk di kursi ruang tamu.


"Entahlah aku tak tahu ma, mungkin bersama Anna."


"Ares!???." Panggil Agam dengan nada tinggi dari dalam kamar setelah mengambil apa yang dia cari.


"Ya?."

__ADS_1


"Ini bra siapa!?." Agam menunjukkan temuannya.


__ADS_2