Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 88


__ADS_3

Setengah jam berlalu....


Agam tiba di sana, menghampiri Nao dan Ares yang tampak kalut dengan perasaan cemas.


"Papa." Ujar keduanya.


"Bagaimana mereka?." Panik Agam.


Ares menggeleng. "Penanganan masih berlangsung, belum ada kabar sama sekali."


Agam mengelus kepala Nao memeluknya agar putrinya dapat tenang. "Tak apa kita serahkan kepada tuhan, apapun yang terjadi itu yang terbaik percayalah mereka pasti selamat."


Nao menganggukinya penuh harap.


Mereka bertiga menunggu di luar, mondar-mandir dengan perasaan tak tenang.


Tak terasa sudah satu jam saja.


Ben datang ke sana setelah mengurus kejadian yang menimpa pada Ishak. "Masih dalam penelitian, karena mobilnya hampir setengahnya hancur agak lumayan sulit, tapi pihak bertanggung jawab menginginkanmu untuk mempercayai mereka."


Ares mengangguk berharap ada titik terang, apapun itu kronologinya. "Oke, lanjutkan saja."


"Iya."


Dalam waktu bersamaan pintu ruang operasi terbuka, keluarlah seorang dokter untuk menemui mereka.


Nao seketika berdiri. "Bagaimana dok keadaan ayah dan juga adik saya?."


"Masih dalam penanganan, tuan Ares transfusi darah untuk tuan Ishak tak memadai stok kami habis beliau masih membutuhkan banyak darah, ini di luar dugaan karena beliau banyak mengeluarkan darah."


"Golongan darah O masih dalam perjalanan dari Singapura, untuk menunggu itu tidak mungkin tuan Ishak sangat membutuhkan sekarang juga. Tuan Agam juga Ares memiliki kuasa untuk mencarikan pendonor darah, saya meminta kerjasamanya." Lanjut pak dokter.


Stok transfusi darah yang dimiliki rumah sakit itu bahkan masih tak cukup, ini diluar perkiraan.


Perasaan Nao semakin tak tenang. "Saya ikut mama golongan darahnya A bukan O."

__ADS_1


"Baiklah papa akan mencarikan pendonor darah sekarang juga." Agam hendak menghubungi kaki tangannya.


"Biar aku saja!." Timpal Ares yang memang memiliki golongan darah O. "Memakan banyak waktu jika mencari pendonor lain."


"Tapi Ares tak apa? kau tahu akibatnya?." Timpal Agam memastikan, ia khawatir.


"Bro pertandingan mu sebentar lagi, bagaimana dengan tubuhmu!?." Ujar Ben.


Nao yang melihat itu ikut khawatir juga. "Dok berapa waktu lagi untuk mencarikan pendonor darah?."


"Hanya tersisa 7 menit, transfusi darah semakin menipis."


"Sudahlah jangan khawatir tubuhku kebal, aku harus menyelamatkan ayah." Lanjut Ares tak mau dibantah seraya masuk ke dalam ruangan itu. "Ayo dok."


"Baiklah."


"Ares!." Pekik Nao yang tak digubris, pintu ruang operasi itu kini sudah ditutup.


Agam dan Ben menghela nafas berat, mereka berharap diperlancar semuanya.


"Tak apa tenanglah kita lihat saja nanti, ini keputusan Ares juga, dan papa akan menyiapkan pendonor untuk jaga-jaga." Agam menenangkan Nao.


Dengan perasaan tak karuan Nao kembali duduk, ia hanya bisa berharap pada tuhan.


Di dalam, Ares melihat kondisi Ishak yang begitu diluar dugaan, tak sesekali Ares mengalihkan pandangan hatinya bergemuruh. Mungkin jika Nao yang melihat wanita itu akan tak sadarkan diri.


Para suster dan dokter menangani setiap bagian tubuh yang terluka, dan mulai memasang perban.


"Berbaringlah tuan kita mulai." Ujar dokter siap men-transfusi darah Ares.


Di samping Ishak, Ares berbaring berharap jika ayah mertuanya itu selamat hingga ia memberikan cucu.


Sementara di luar..


Dari ruang sebelah seorang suster keluar memapah Sarah yang sudah siuman.

__ADS_1


"Mama." Nao langsung menghampiri.


"Sayang." Agam lega seraya menuntun langkah istrinya.


"Jangan khawatir aku tak apa, bagaimana dengan Lucy!?." Ujar Sarah masih terus menanyakan keadaan putri kecilnya.


"Lucy akan siuman kamu tenanglah." Lanjut Agam membawa duduk Sarah.


Sarah masih mengatur nafas berkali-kali. "Bagaimana juga dengan Ishak? dimana Ares?."


"Dia mendonorkan darahnya untuk Ishak."


"What!? kamu bisa mencarikan yang lain pah."


"Sudah, namun Ares menolak papa tak bisa apa-apa hanya berharap dia baik-baik saja karena Ishak membutuhkan banyak sekali darah." Balas Agam.


Sarah menunduk tangannya memegang kepala, ia begitu takut sangat takut. "Kemari Nao."


Ibu dan anak itu berpelukan dengan perasaan yang tak bisa diartikan.


.


Tak terasa malam pun tiba.


Suara monitor ICU terdengar mengisi seluruh ruangan, Ishak juga Lucy sudah ditangani hanya tinggal menunggu tuhan mengembalikan kesadaran mereka.


Di rasa sudah cukup malah berlebihan, Dokter menghentikan transfusi Ares terhadap Ishak.


Pria itu merasakan pening yang luar biasa, penglihatannya memudar hingga Ares tak kuasa untuk bangun dan kini ia ambruk tak sadarkan diri.


Dokter langsung menangani juga karena khawatir, Ares tak mau dibantah ia terus-terusan mendonor darah tanpa memperhatikan tubuhnya yang sudah melemah.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2