Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 50


__ADS_3

"Lepas! sudah ku bilang aku hanya menyuruhnya untuk membawa Nao bukan untuk melukainya!." Berontak Angel yang dibawa dua pria bertubuh besar.


Orang-orang yang ada di rumah sakit terus bisik-bisik melihat pemandangan itu, namun Angel tak mempedulikannya terus berontak.


"Justru karena jika Nao berontak kau menyuruh orang suruhan melukainya! kau pikir aku tak tahu jangan mengelak jika kau masih ingin hidup Angel!." Tegas Ben merasa geram dengan kakak tiri Nao.


Angel diam dengan raut wajah tak terima tentunya.


Tidak berselang lama akhirnya mereka tiba di ruangan tempat Ares dirawat.


Angel merasa gemetar melihat sorot mata Ares yang menatapnya tajam.


"Sudah ku bawa." Lapor Ben seraya berdiri di samping Ares.


"A-Ares aku bukan bermaksud untuk mencelakainya, kau juga tahu dia adikku dan tentu saja aku menyayangi Nao." Lirih Angel dengan susah payah mengeluarkan air mata buaya.


"Uang, uang yang kau inginkan. Kau tak senang dengan apa yang dimiliki kekasihku, dengar Angel kau harus ingat dengan siapa kau berhadapan saat ini!." Dingin Ares to the point.


Angel tak menyangka jika Ares dapat dengan cepat mengetahui maksudnya. "Ya, memangnya kenapa? aku bukan siapa-siapa dibanding kau tapi Ares bagaimana jadinya jika aku menyebarkan hubungan rahasia kalian pada publik."


"Tak masalah lakukan saja, aku tak akan mengeluarkan uangku hanya untuk memohon kepadamu agar kau diam." Potong Ares tak peduli.


"What!??." Angel tak berkutik jika itu reaksi dari Ares.


"Kau harus menerima hukuman-mu karena telah mencoba melakukan pembunuhan!." Timpal Ben.

__ADS_1


Angel kembali berontak saat membayangkan kantor polisi. "Gak! yang benar saja?."


"Bawa dan urus." Suruh Ares yang diangguki kedua anak buahnya.


Angel diseret dibawa untuk diadili di kantor polisi.


Ares baru bisa menghela nafas setelah ruangannya hening. "Ada manusia seperti itu buang-buang waktuku!."


Ben melihat kondisi sahabatnya. "Nao dimana bro? lantas bagaimana kalian?."


"Dia di rumah, aku harus di sini untuk beberapa saat."


Melihat apa yang terjadi saat ini Ben juga sudah menduganya, namun ia tahu Ares paham harus bersikap seperti apa. "Oke kau bisa melewatinya."


.


Selama waktu itu Nao diam tak membahas hubungannya dengan Ares sesuai permintaan Agam, Sarah sendiri butuh waktu untuk meredakan rasa kekecewaan terhadap dua anaknya.


Hingga hari ini Nao dipanggil untuk menemui kedua orang tuanya itu, bersamaan dengan Ares yang baru pulang dari rumah sakit.


Tidak ada interaksi lebih diantara Ares dan Nao mereka jaga jarak hanya tatapan mata saja yang seakan berbicara.


"Bagaimana lukamu Ares?." Tanya Sarah.


"Sudah mendingan."

__ADS_1


"Oke syukurlah, jadi benar semua itu?." Mulai Sarah menatap intens keduanya.


"Iya." Jawab mereka bersamaan.


Alasan keduanya merahasiakan hubungan sudah dapat Sarah tebak, karena status keluarga juga pandangan orang sekitar.


"Jadi Ares kekasihmu yang kau sembunyikan selama ini putri mama? dan begitupun juga dengan Nao?." Lanjut Sarah.


"Iya." Jawab mereka untuk ke sekian kalinya.


Sarah mengalihkan pandangan tak melanjutkan ucapan, ia masih kecewa apalagi saat mengingat waktu di apartemen dan menemukan bra yang ternyata milik putrinya.


"Aku yang salah ma jangan melibatkan Nao. Sebelum kita bertemu pertama kali di mansion ini, kita lebih dulu sudah bertemu dan itu yang membuatku menghantarkan untuk memiliki hubungan dengannya." Timpal Ares.


Di sini Sarah juga merasa salah karena telah menjadikan Ares sebagai orang kepercayaan untuk menjaga Nao berhenti dari gonta-ganti pria, Nao memang berhenti tapi taunya malah sama penjaganya sendiri memiliki hubungan.


"Kalian tahu jika kalian saudara?." Ujar Sarah menatap intens mereka.


"Ya mam tentu saja, tapi saudara tiri." Balas Nao berharap mamanya mengerti apa yang ia rasakan saat ini.


"Bisakah kalian mengakhiri hubungan? atau mama dan papa yang berpisah!." Lanjut Sarah yang membuat mereka semua membelalakkan mata.


"Sayang!?." Potong Agam.


"Aku tidak memasukkan pilihan lain, dan untuk hubungan kita semua ke depan jadi pilihlah salah satunya!." Tegas Sarah.

__ADS_1


"Mama!." Potong Nao. "Aku anakmu seharusnya kau tahu bagaimana kebahagiaannya."


"Justru karena kau putriku Naomy!." Bentak Sarah dengan nada tinggi, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca.


__ADS_2