Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 62


__ADS_3

Nao tak ambil pusing walaupun memang Ares se-menyebalkan itu baginya.


Andrew berdiri dari duduk. "Ada yang harus dibicarakan, kakak ke gedung olahraga dulu menemui Ares."


"Oh iya silahkan kak." Nao sendiri akan melanjutkan skripsinya yang memang dia sengaja bawa laptop ke dapur sekalian nongkrong di sana.


"Sudah jangan kesal mulu takutnya nanti jatuh cinta lagi." Goda Andrew sengaja seraya berlalu pergi tanpa menunggu reaksi dari Nao.


"Haish." Nao menggelengkan kepalanya, ia pun kembali mencoba fokus untuk melanjutkan skripsi.


Namun benak Nao seketika terbesit menyayangkan jika Ares kembali merokok. "Ah lupakan bukan urusanku lagi." Nao kembali mengotak-ngatik laptop.


Selang 15 menit ketika Nao lagi fokus-fokus nya, dering handphone mengejutkan Nao. Wanita itu menatap handphone Andrew yang ternyata ketinggalan, kelihatannya orang penting menghubungi Andrew.


Ditatapnya sebentar Nao pun meraih handphone Andrew, mau tak mau ia melangkah untuk mengantarkannya ke gedung olahraga di belakang.


"Kak!." Panggil Nao mencari keberadaan Andrew.


Semua yang ada di sana menoleh termasuk Ares, namun tak lama pria itu kembali fokus berlatih.


"Ya ada apa?." Ujar Andrew yang ternyata ikut latihan juga sudah mengenakan Jersey.


Nao menyerahkan handphone, terlihat ada panggilan dari kontak yang bernama 'Bu Kokom'. Nao mengerutkan kening saat Andrew menyunggingkan senyum tipis.


"Dia Anna sengaja ku beri nama seperti ini agar tak ketahuan." Bisik Andrew seraya meraih handphone lalu mengangkatnya.


"What?." Nao melongo tak menduga dengan nama panggilan Andrew terhadap Anna, kirain beneran kolega bisnisnya sampai-sampai Nao masuk ke gedung olahraga itu taunya malah sahabatnya sendiri. "Haish."


Andrew sibuk mengobrol dengan Anna tampak romantis sekali.


Nao memilih untuk kembali ke luar dari sana, sudut mata wanita cantik itu melirik Ares yang sedang fokus latihan.


__ADS_1


...(ilustrasi)...


Pesona Ares benar-benar mampu membuatnya betah memandang walaupun ia sedang latihan di penuhi keringat "Tak bisa dipungkiri kakak angkuh itu memang tampan." Batin Nao tak bisa bohong.


Saat Ares hendak meliriknya Nao segera buang muka melangkah pergi dari ruang latihan, mendapati itu Ares mengangkat sudut bibirnya.


"Bukankah buang-buang waktu memuji pria menyebalkan seperti dia!?." Gumam Nao yang sudah keluar dari gedung, namun tak bisa bohong perasaan sedih muncul kembali dalam diri Nao.


Ia rindu sosok Ares saat menjadi kekasihnya.


"Aaarrrgh! ini menyiksaku ya tuhan." Pekik Nao dengan wajah ditekuk. "Lupakan Nao, bukankah kita saling membenci? ya, teruslah ingat itu."


Setibanya di dapur Nao meriah laptopnya, ia menaiki anak tangga menuju kamar.


.


.


.


Mengetahui jadwal Ares yang sangat padat, Ishak segera menghubungi orang terdekatnya Ben setelah mendapatkan nomornya dari Nao.


"Saya Ishak ayah dari Nao, Ares juga sudah tahu. Bisa katakan padanya jika saya ingin bertemu sebelum ia berangkat ke Jepang?." Ujar Ishak serius saat telepon tersambung.


Ben tak langsung menjawab ia melirik Ares.


"Suruh saja datang ke apartemenku." Balas singkat Ares yang sedang melepas perban pada punggungnya.


Ben menyampaikan itu pada Ishak.


"Oke saya akan ke sana sekarang."


Panggilan pun berakhir.

__ADS_1


"Bukankah katamu om Ishak sangat galak?." Tanya Ben.


"Lihat saja nanti."


"Oke."


Ben kembali melanjutkan tugasnya memindahkan beberapa data pada laptop.


Benar saja ketika hari menjelang malam Ishak dan Maya tiba di apartemen Ares.


Mereka duduk di kursi ruang tamu, tak lama Ares keluar dari ruang pribadinya.


Ishak merasa bersalah mengingat Angel menusuk punggung pria itu. "Apa sudah baikan?."


"Hmmm."


"Syukurlah." Lirih Ishak.


"Langsung saja apa maksud kedatangan kalian?." Balas Ares padahal ia sendiri sudah tahu.


"Maafkan putriku Ares dia gegabah." Ujar Maya tak enak hati.


"Om minta keringanan agar peraturan Angel di kantor polisi di ubah, ini mungkin kembali merugikan-mu tapi Maya merindukan putrinya." Mulai Ishak tak tahan dengan desakan istrinya.


"Apa ada imbalan yang tidak membuatku merasa dirugikan?."


Ishak mengerutkan kening, jika uang Ares sepertinya tak butuh melihat berkuasa dirinya saat ini. "Katakan saja apa yang kau inginkan?."


Ares menatap intens wajah Ishak. "Naomy Laura Gilbert, putrimu."


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2