
Andrew yang baru tiba di sana melihat mobil Ishak berlalu pergi meninggalkan rumah itu, tampak Nao juga melangkah menuju garasi mobil untuk berangkat ke kantor. "Dik tunggu!."
Nao menoleh. "Ya kak?."
Andrew menghela nafas kasar melihat mata Nao dibalik kacamata hitamnya yang tampak sembab. "Kalian mengakhiri hubungan!?."
Nao diam sejenak tak langsung menjawab. "Iya."
Di hadapan Nao Andrew mondar-mandir terlihat sekali ia menyesali keputusan Nao. "Kakak tahu siapa Ares, kenapa mengambil keputusan secepat ini kau bisa memikirkannya Nao."
"Dia sangat mencintaimu, saat-saat terpentingnya kini kau malah pergi entah bagaimana dia mengikuti kompetisi internasional itu. Kamu bisa bicara sama kakak kita cari solusi tanpa harus ada yang dirugikan." Lanjut Andrew merasa tak tega melihat kondisi Ares saat ini, bahkan saat tadi ia ke apartemennya Ares banyak sekali minum-minum melampiaskan amarah.
"Sudah terlanjur kak dia juga kini sangat membenciku." Pasrah Nao. "Aku melakukan ini agar keluarga kita utuh."
"Ck!." Decak Andrew yang jengkel juga kepada kedua orang tuanya yang tak mau mengalah. "Oke semuanya sudah telat, kalian sama-sama butuh waktu. Kakak juga akan bicara kepada mama papa."
Nao menunduk tak tahu harus bicara apa lagi.
"Harmonis bagaimananya jika begini?." Andrew masih kesal dengan keluarganya yang mulai aut-autan. "Maaf kakak marah-marah hanya saja menyayangkan."
"Kalian hanya butuh waktu, setelah keadaan membaik berdamailah kembali." Lanjut Andrew menepuk kepala Nao.
Nao tersenyum hambar. "Oke, kalau begitu aku berangkat kak."
"Ya hati-hati fokuslah."
__ADS_1
Nao masuk mobil menancap gas meninggalkan pelataran rumah besar itu dengan perasaan gamang. Sementara Andrew hanya menghela nafas kasar.
Di apartemen...
Ares keluar dari genangan air setelah membenamkan wajahnya lama pada wastafel, di tatapnya wajah itu dari pantulan cermin.
Ini bukan dirinya Nao dapat membuat kewarasan Ares hilang, handuk Ares raih untuk mengelap wajahnya. "Ck sial!." Pening sekali kepala Ares setelah tadi ia minum-minum.
Melihat kondisi sahabatnya Ben yang ada di sana menggelengkan kepala. "Jika seperti ini jangan dulu ke kantor aku bisa menggantikan mu."
"Kau meremehkanku Ben?." Potong Ares dingin.
"Oke terserah kau saja kalau begitu." Ben lebih baik mengalah akan kacau membuat mood orang patah hati semakin buruk.
Tidak ada reaksi dari Ares ia hanya fokus mengenakan dasi.
"Nao meminta peraturan Angel di kantor polisi di ubah, berikan keringanan untuk keluarga menjenguk." Lanjut Ben. "Sepertinya Ishak datang kepadanya, aku tak ikut campur dan menunggu keputusanmu."
"Aku tak peduli lagi biarkan saja seperti itu!." Timpal Ares tegas. "Sampai Ishak yang datang ke hadapanku."
"Apa ini tidak akan membebani Nao?."
Ares tersenyum sinis. "Membebani ya? dia lebih menyiksaku!."
Ben terdiam tak melanjutkan ucapan. "Baiklah."
__ADS_1
Setelah selesai keduanya berangkat menuju perusahaan.
.
Nao lari terbirit-birit saat mengetahui jika dirinya telat sudah 10 menit. "Oh my good Nao!."
Wanita cantik itu tak peduli dengan orang-orang di lantai utama yang berlalu lalang menatapnya, ia langsung menekan lift berkali-kali. "Kenapa lama sekali?." Lirih Nao takut kena protes atasan.
"Nao?." Sapanya.
Suara yang tak asing menyapa Nao, wanita itu menoleh mendapati Ben juga Ares yang sedang menunggu lift pada lift sebelah.
Nao menelan saliva mendapati itu namun ia tersenyum ramah membalas sapaan balik Ben. "Hallo kak."
"Why! kenapa harus berpapasan sih?." Batin Nao menjerit.
Beda halnya dengan Ares ia hanya diam dengan raut wajah dinginnya tak menoleh sama sekali.
Ting!
Lift terbuka, Nao masuk duluan meninggalkan mereka berdua. Setelah lift berjalan barulah Nao menghela nafas lega. "Aaaahh ya tuhan..."
.
TBC
__ADS_1