
Melihat Ishak dan Ares mengobrol dengan terbuka, rasa khawatir Nao berkurang walaupun tak jarang Ishak naik pitam dengan apa yang Ares katakan.
Mengetahui Anna akan datang ke rumahnya, Nao pun pamit takutnya nanti Anna ditanya-tanya oleh Sarah karena kesana sendirian padahal malam tadi Nao menginap di rumahnya.
"Jangan sampai terjadi keributan!." Bisik Nao kepada Ares sebelum pulang. "Awas saja."
Pria tampan itu hanya mengangkat sudut bibirnya saja, menatap kepergian Nao dari rumah Ishak hingga hilang dari pandangan.
Ishak yang melihat itu dari dalam terdiam, pikirannya berkecamuk yang mengharuskan ia menghela nafas panjang. "Ada apa denganku? kenapa malah mempersilahkan anak Agam ini masuk hingga mengajarinya?."
Ya, jika dipikir-pikir Ishak tak terasa sudah berinteraksi lebih dengan Ares padahal ia berencana tak akan membiarkan itu terjadi. Namun sekarang?.
"Jika sudah tidak ada perlu lagi pergilah, om banyak urusan!." Ujar Ishak seperti biasa dengan wajah galaknya.
Ares melihat jam tangannya. "Oke ayah aku juga tidak bisa lama-lama di sini, terimakasih atas ikan juga baju batiknya ini terasa spesial."
Ishak memutar mata malas. "Ternyata ada sisi seperti ini dalam dirimu, ya ya pergilah!." Lanjutnya mengusir.
"Jangan galak-galak ayah."
"Diam, kau siapa mengaturku!?."
"Menantu-mu." Santai Ares.
Hampir saja blangkon yang dikenakan Ishak mengenai Ares, namun pria itu dengan sigap menghindar menuju mobilnya yang membuat Ishak semakin geram.
Ares terkekeh sekilas ia merasa dirinya dan Ishak bak tikus dan kucing. "Sampai jumpa om." Lanjut Ares yang tak ingin Ishak naik darah dengan ulahnya yang terus memanggil 'ayah'.
"Ya!." Timpal Ishak menatap kepergian Ares melaju dengan mobilnya.
"Haduh...." Lirih Ishak menghela nafas panjang seraya duduk di kursi teras depan. "Benar-benar menguras tenaga! untungnya aku mengidolakan mu bujang Francis!."
.
__ADS_1
.
Nao sampai di rumah, dan benar saja Anna tiba duluan di sana.
"Bukankah kamu nginep di rumah Anna kenapa datangnya beda waktu begini?." Selidik Sarah dengan tatapan mengintimidasi pada putrinya itu.
Anna memberi kode kepada Nao.
"Aku kan bawa mobil sendiri ma tadi juga mampir dulu ke rumah ayah." Balas Nao, ia tak mau berbohong lagi kasian mamanya itu.
Sarah tak langsung menjawab. "Apa kau ribut dengan ayahmu mengenai masalah Lucy waktu itu?."
Nao menggeleng. "Itu urusan kalian aku tak mau ikut campur ma, kita berinteraksi seperti biasa saja."
"Oke mama lega."
"Iya."
"Anna nginep ya di sini malam ini temani Nao, tante sama om mau pergi ada acara." Ujar Sarah ramah pada sahabat putrinya itu.
Dalam waktu bersamaan tiba-tiba Andrew keluar dari kamarnya hanya mengenakan kaos juga celana pendek. "Ekhem!..."
Sudut mata Anna melirik Andrew, namun wanita itu memilih fokus kembali pada obrolan.
"Bilangnya tak mau nginep." Batin Andrew mengoceh.
Malam pun tiba....
Sarah dan Agam yang sudah bersiap-siap untuk berangkat, dikejutkan dengan kedatangan Ares.
"Kau pulang? sejak kapan? kenapa tak memberitahu papa Res?." Tanya Agam.
"Ini bukan dari rencanaku hanya saja ada yang harus ku lakukan di sini, pertandingan berikutnya juga masih lama." Balas Ares.
__ADS_1
Sarah memicingkan mata melihat penampilan putra keduanya itu, baju batik yang dikenakan Ares tampak terasa familiar. "Tunggu, baju itu...."
"Apa kau?....
Ares mengangkat sebuah kresek yang dibawa. "Ya aku menemui Ishak, dan dapat baju juga bonus ikan ini."
Tanpa berucap lagi Ares berlalu menuju dapur meninggalkan Agam dan Sarah yang mematung saling tatap.
"Apa ini tidak salah? bagaimana bisa Ishak melakukan hal yang tak pernah terpikirkan! bagaimana interaksi mereka itu?." Sarah tak habis pikir Ares melakukannya sejauh ini.
Di sini sosok Ares pasti yang paling dibenci Ishak karena berniat mengambil Nao, tapi ini? baju batik dan ikan segar malah diberikannya.
Agam menggaruk kepala tak gatal, putra keduanya itu memang memiliki 1000 akal untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. "Mari kita lihat saja ma, ayo berangkat kita akan terlambat jika menundanya lagi.
"Tunggu, apa tak masalah membiarkan anak-anak di rumah tanpa pengawasan orang tua?." Potong Sarah yang merasa khawatir karena memang Ares dan Nao sedang dalam satu atap.
"Jangan berpikir kejauhan ma, mereka juga dapat kau lihat tak akur begitu, apalagi setelah semua yang terjadi pada hubungannya." Timpal Agam.
Sarah tak menghiraukan ucapan suaminya, ia memanggil kepala pelayan yang lewat.
"Iya nyonya ada apa?."
"Bi nanti kalau mendengar sesuatu ah eh oh kayak begitu cepat hubungi saya!." Tegas Sarah.
Agam menepuk jidatnya.
"Maksudnya?." Si bibi masih tak mengerti.
"Adegan ranjang!."
"Haha baik nyonya."
.
__ADS_1
TBC