Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 79


__ADS_3

Sudut bibir Ares terangkat ia lega saat Nao dengan mudahnya berpindah tempat sebelum ketahuan. Kepala Ares kini terasa pening karena hasrat yang tak tersalurkan. "Oh damn it!."


Nao yang peka akan tatapan Ares hanya smirk. "Sepertinya dia tersiksa."


Ares pun masuk menutup jendela kembali, di kamar mandi itu mau tak mau ia menyelesaikan apa yang harus diselesaikan untuk menghilangkan rasa pening. "Naomy A-aaaaakkhh!..."


Sementara itu.


Anna berenang menghampiri sahabatnya yang kini duduk di tepi kolam. "Ini menegangkan sekali." Ujar Anna sambil melirik Andrew yang sibuk ngobrol dengan Agam juga tamu di teras depan.


"Kau tahu An mama datang ke kamar Ares, untungnya aku segera keluar setelah mendengar suaranya." Timpal Nao yang tak bisa berkutik. "Bagaimana denganmu?."


Anna tersenyum. "Pastinya tak se-intim dirimu Naomy Laura Gilbert, setelah mobil om Agam datang, kita bertindak seolah tak saling kenal."


"Haish kau ini! itu apa coba leher belakangmu merah-merah begitu kakak ipar?." Timpal Nao tak mau kalah.


Mereka berdua tertawa tak habis pikir dengan ketegangan yang baru saja di alami.


Nao sendiri menggigit bibir bawahnya mengingat jari Ares yang nakal. Hampir, hampir saja Nao mencapai puncak kalau saja Sarah tidak datang.


"Kau balikan dengannya Na?."


Nao menggeleng. "Tidak, saat ini kita bisa dikatakan sedang menjalani komitmen, mengingat restu yang belum didapat An."


"Sepertinya aku memang tidak akan bisa lepas dari Ares." Lanjut Nao.


"Ikuti kata hati, kita lihat saja akhirnya semoga sesuai dengan apa yang diharapkan." Timpal Anna akan selalu mendukung, selama Ares dan Nao sama-sama saling mencintai.


"Sebisa mungkin jangan dulu hamil." Bisik Anna yang membuat mata Nao terbelalak mengingat sesuatu.

__ADS_1


Wanita cantik itu mengingat malam kejadian saat hubungan mereka berakhir, dimana Ares melakukannya tanpa menggunakan pengaman karena pria itu menolak. "Ah semoga saja tidak." Batin Nao.


Ia sendiri sebentar lagi wisuda bersama Anna.


Sementara di dapur.


Ares duduk di meja makan, setelah beberapa kejadian barusan perutnya terasa lapar.


Bibi pelayan datang. "Nah ini den ikan bakarnya sudah siap." Hidangan itu diletakkannya "Silahkan.".



"Terimakasih bi."


"Sudah jadi tugas den." Sungkan bibi pelayan seraya berlalu ke belakang.


"Ikan macam apa ini?." Lirihnya heran saat merasakannya. "Tak salah, memang sangat spesial!."


Ares makan dengan lahap, Sarah melihat itu dari lantai atas.


Ada rasa lega dalam diri Sarah. "Sebenarnya apa yang Ares lakukan hingga membuat Ishak seperti itu?."


Mungkin ia akan bertanya langsung saja kepada Nao. Saat ini ia akan mulai memberikan kebebasan kepada mereka, takutnya jika terus membatasi Nao malah nekat melakukan hal yang tak diinginkan seperti kabur dan sebagainya.


Sarah tak mau itu terjadi, bagaimana pun ia seorang ibu yang menyayangi putrinya juga.


.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Nao dan Anna berangkat ke kampus bareng, mereka hari ini ada jadwal sidang skripsi bersama sebelum dinyatakan lulus.


Ares juga Andrew sendiri mereka berangkat menuju perusahaan masing-masing untuk memulai aktivitas seperti biasa.


Bukan saham di kota B yang Ares tuju, ia akan kembali setelah cutinya berhari-hari pada Airoo Company.


Setibanya di perusahaan sang ayah, Ares disambut hangat setelah kemenangan dalam pertandingan kemarin.


Banyak dari mereka akan datang untuk melihat pertandingan selanjutnya.


Ruang direktur utama.


Agam menyerahkan sebuah map tebal. "Ini."


Ares menerima dan mengeceknya. "Oke akan ku urus sekarang juga."


Sebelum Ares berlalu dari ruang direktur utama, Agam menahan pundak putra keduanya itu. "Papa tidak akan menyerahkan perusahaan ini sebelum kau memiliki seorang istri Ares."


Ares tak langsung menjawab. "Tidak ada yang lain selain Naomy hanya dia yang ingin ku jadikan pasangan hidup, papa jangan sampai menjodohkanku dengan wanita manapun lagi, lebih baik aku tak mengambil alih perusahaan ini."


Agam menatap intens putranya yang tampak serius.


"Berdamailah pah tidak ada lagi yang ku inginkan darimu selain itu." Setelah berucap Ares berlalu meninggalkan ruang CEO.


Pria paruh baya itu mematung menatap Ares hingga hilang dari pandangan. "Ishak ku harap kau bisa menerimaku sebagai besan."


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2