Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 71


__ADS_3

Pada tubuh bidang itu Nao melepas lara hatinya selama ini, sangat nyaman sekali seolah beban terlepas.


Tangan kekar Ares mengelus leher jenjang Nao, membiarkan wajah cantik wanita itu terisak membasahi dadanya.


Tidak ada yang bersuara mereka sama-sama diam, berkecamuk dengan pikiran masing-masing.


Setelah hampir 20 menit Nao merasa tenang, ia tidak mungkin akan membasahi semua baju Ares dengan air matanya. Perlahan Nao melepaskan diri dari dekapan Ares.


"Terimakasih, aku mengganggu waktumu." Lirih Nao masih tak bisa jika lama-lama adu tatap dengan Ares.


"Diamlah, kau tak mengganggu waktuku." Ares tak suka komunikasi mereka saat ini benar-benar berbeda seolah terasa asing.


"Kenapa kau pulang? bukankah di Jepang masih banyak yang harus kau lakukan kak?." Tanya Nao dengan tangan masih menghapus bekas air matanya yang tersisa.


"Hanya rindu apartemen saja." Balas singkat Ares seraya berdiri.


Nao terdiam.


"Ingat kataku jangan pulang dengan kondisi seperti itu, jika kau membantah aku tak akan segan memecatmu dari perusahaan." Ujar Ares yang melangkah ke arah dapur.


"Sekarang kau semakin galak saja." Timpal Nao dengan wajah ditekuk mendengar ancaman Ares.


Namun tidak ada jawaban dari Ares, ia memilih membuka kulkas mengambil bahan makanan.


"Di sini aku akan merepotkanmu." Ucap Nao seraya berdiri masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya sehabis menangis.


"Maka dari itu bantulah kakakmu membuat makanan." Timpal Ares.


"Iya." Pasrah-nya.


Nao pun masuk kamar mandi, dari balik pintu Nao mengelus dadanya berkali-kali, terasa jantungnya berdebar kencang. "Ya tuhan aku tak tahu jika dia ada di sini."


"Oke tenang Nao, dia juga bersikap layaknya kamu adiknya."


Wanita itu membasuh wajah cantiknya yang tampak sembab, setelahnya Nao keluar menuju dapur menghampiri Ares yang sedang masak.


"Apa yang harus ku bantu?."


"Duduklah, sebentar lagi steak-nya matang." Lirih Ares.


Nao patuh saja duduk pada meja makan yang tidak jauh dari posisi Ares, ditatapnya pria tampan itu jika di perhatikan lagi pesona Ares makin menjadi-jadi apalagi gaya rambutnya kini berbeda.

__ADS_1


"Ini makanlah, isi perutmu." Ares menghidangkan masakannya pada Nao.



Keduanya kini duduk berhadapan, tanpa menunggu lama Nao langsung menyantap steak itu yang tampak menggiurkan.


Sudut bibir Ares terangkat melihat Nao lahap. "Bagaimana?."


"Aku tak menyangka seorang atlet lelaki pula, bisa masak seenak ini." Ujar Nao.


"Tak ada yang tak bisa ku lakukan!." Angkuh Ares.


"Ya itu memang dirimu."


Ares mulai melahap masakannya juga sesekali melirik Nao.


Ada rasa canggung di antara mereka berdua, namun tak bisa bohong hati keduanya hangat dengan momen seperti ini.


Setelah selesai makan, Ares meraih rokoknya ia hisap dan ia hembusan sembarang arah.


Nao memilih mencuci piring bekas mereka makan. Wanita cantik itu ingin bertanya mengenai tangan wanita yang di upload Ares beberapa hari yang lalu. Namun Nao mengurungkan niatnya karena ia tak mau ikut campur lagi, cukup dengan menyakiti Ares atas keputusannya.


Ares mengangkat bahunya. "Termasuk kebutuhan, sesuatu dariku hilang."


Nao menelan saliva ia teringat jika alasan Ares dulu berhenti merokok, karena bibir Nao sendiri yang sudah jadi candunya, dirasa mengarah pada hubungan mereka Nao memilih diam. "Ah begitu.."


"Jika ingin istirahat tempati lah kamar 1." Lanjut Ares.


"Oke." Nao pun cepat berlalu menuju kamar itu dengan membawa tasnya.


Tak terasa malam pun tiba.


Nao mengotak-ngatik laptop ia kirimkan dokumen skripsi pada pak Indra saat itu juga, kini ia bisa bernafas lega.


Dalam waktu bersamaan tiba-tiba handphone Nao berdering.


Tampak mama Sarah menghubunginya.


"Kamu dimana sekarang kenapa belum pulang? apa menginap di rumah Ishak?."


"Ah aku akan menginap di rumah Anna ma tanggung sekalian beresin skripsi." Bohong Nao, sebenarnya ia tak bermaksud.

__ADS_1


"Oke, kalau begitu mama tenang."


"Ya."


Panggilan pun berakhir, Nao langsung menghubungi sahabatnya.


"An kalau mama menanyakan keberadaan ku bilang saja seperti biasa nginap di rumahmu." Ujar Nao.


"Tunggu, Na kau sekarang dimana? jangan bilang nginap di apartemen Ares sendirian?." Balas Anna dari seberang.


"Besok ku ceritakan."


"Ah oke-oke."


Setelah selesai mengobrol panggilan pun diakhiri.


Nao tak keluar kamar ia dapat mendengar ada beberapa teman atlet Ares yang datang, wanita itu memilih membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Oh my good!." Resah Nao saat bra-nya kala itu masih tersimpan di sana, ia langsung meraih dan memasukkannya ke dalam tas. Pipi Nao merona karena malu.


Pukul 20:00 malam...


Setelah temannya pada pulang, Ares memilih membersihkan diri. Ia keluar dari kamarnya hanya mengenakan handuk sepaha untuk minum ke dapur karena haus.


Di tatapnya kamar Nao yang dari tadi tertutup juga sunyi, Ares mendekat untuk melihat. "Apa dia menangis lagi?."


Dengan perlahan Ares membuka pintu kamar itu yang kebetulan tak dikunci, tampak Nao tertidur dengan posisi miring dengan laptop di hadapannya.


Ares menghela nafas kasar, ia masuk ke dalam menonaktifkan laptop Nao yang masih menyala.


Kini Ares jongkok menatap lekat wajah cantik yang sedang tertidur pulas itu, tatapan mata Ares tertuju pada bibir ranum Nao yang sudah lama tak ia rasakan.


Namun tak lama Ares mengibas-ibas tangannya berusaha mengusir setan penggoda. "Oh ****! apa aku bisa tahan untuk tak menciumnya?."


.


TBC


Ayo jejaknya tinggalkan ya like di setiap episode, juga ketik komentar positifnya untuk membuat semangat thornim naik..🤗


Love you semuanyaaaa!✨

__ADS_1


__ADS_2