Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 93


__ADS_3

Mendapati Ares masuk dengan santai tanpa terjadi apa-apa, semua yang ada di ruang rawat inap sebelah terkejut.


"Kau baik-baik saja?." Khawatir Agam langsung memegang Ares takut putranya jatuh. "Kau ini kenapa? jika dokter belum mengijinkan untuk jalan jangan turun dari atas ranjang."


"Iya Ares." Timpal mama Sarah khawatir juga.


Nao sendiri menatap penuh tanda tanya, kenapa Ares ini agak sedikit tak peduli dengan keadaannya?.


"Haish jangan berlebihan aku sudah kuat, dokter juga sudah mengijinkan pah." Timpal Ares.


Barulah mereka semua merasa lega.


"Memang kebal." Timpal Sarah.


Tatapan Ishak dari tadi tertuju pada Ares, Ares melangkahkan kakinya mendekati ayah mertua yang masih berbaring dengan beberapa perban di tubuh.


"Apa kau tidak lupa ingatan ayah?." Tanya Ares.


Ishak menghela nafas panjang. "Tidak, dibenak ku kau masih bujang Francis yang suka kejar-kejar ikan."


Mendengar itu Ares tersenyum merasa lega karena Ishak tak hilang ingatan, jika dilihat-lihat ada beberapa luka jahitan pada tubuh pria paruh baya itu.


"Terimakasih atas semuanya, juga darah yang kini mengalir di tubuhku." Lanjut Ishak dengan nada lembut tak seperti biasanya, segalak-galaknya dia Ishak tahu memposisikan diri pada situasi yang berbeda.


"Aku tak bisa jika harus melihat Nao kehilangan dirimu." Lirih Ares seraya melirik keadaan Lucy juga.


Nao yang melihat pemandangan ini benar-benar tak menduga akan bisa terjadi, perseteruan Ishak dan Agam dari dulu sangat tegang tapi dengan perlahan Ares bisa menyatukan mereka untuk dapat bisa berdamai, dan itu tak terasa seolah mengalir seperti air saja.


"Aku tak bisa lama-lama di sini ada yang harus ku lakukan." Lanjut Ares.


"Hey nak kau baru juga siuman." Potong Sarah.


"Cancel dulu papa belum mengijinkan ini terlalu buru-buru, memangnya kau mau kemana?." Timpal Agam.


"Bukan hal berat, ini semacam memancing ikan."


Nao mengerutkan keningnya. "Apa kau akan...


"Latihan volly itik." Potong Ares sengaja, tanpa menunggu persetujuan mereka Ares pun melangkah berlalu pergi dari sana.


Agam hanya bisa menggelengkan kepalanya karena jika Ares sudah mengambil keputusan tidak ada siapapun yang bisa menghalanginya.


Ada rasa khawatir dalam diri Nao tapi ia berusaha untuk tetap tenang. Nao berdiri memilih mengejar Ares untuk menanyakan sesuatu.


Ishak dan Agam saling tatap melihat Nao menyusul Ares, keduanya menyadari sudah menentang hubungan mereka sudah sejak lama sekali.


Di ruangan itu seketika hening, mereka berkecamuk dengan pikiran masing-masing.


"Hey tunggu!." Nao menahan tangan Ares yang sudah mengenakan jaketnya hendak masuk mobil. "Kau mau kemana? tidak mungkin kan langsung berlatih untuk kompetisi."

__ADS_1


Sudut bibir Ares terangkat melihat raut wajah khawatir pada Nao.


"Itu tidak lucu aku benar-benar mengkhawatirkan kondisimu ya!." Lanjut Nao serius.


Ditariknya pinggang ramping Nao ke dalam dekapan, Ares memeluk tubuh itu dengan erat. "Aku harus menuntaskan kasus ini karena bukan kecelakaan murni."


Nao menghela nafas berat. "Oke berhati-hati lah."


"Don't worry aku akan kembali."


Mendengar itu Nao mengangguk.


Sebelum pergi Ares memiringkan wajahnya mencium bibir sexy Nao, tak peduli jika mereka berada di keramaian, orang-orang di sana bisik-bisik juga tersipu dengan dua sejoli yang tampak serasi itu.


Nao mendorong dada bidang Ares. "Aih kau ini aku malu.." Lirih Nao dengan wajah merona.


Ares terkekeh seraya mengelus pipi Nao. "Bukan seperti dirimu itik."


"Inikan keramaian!."


"I don't care." Acuh Ares santai.


"Haish."


Setelah berucap Ares pun masuk ke dalam mobil, Nao menatap kepergian Ares dari sana, berharap jika masalah dapat selesai dengan baik.


.



Di sana tampak dua orang pria terikat juga mulut dilakban sangat rapat, tiga orang penjaga juga Ben sudah ada di sana.


Tak lama Ares datang masuk ke dalam.


"Tuan." Sapa tiga penjaga dengan hormat.


"Hmm."


Ares menghampiri Ben dengan tatapan tajam tertuju pada dua orang pria itu.


"Masih belum mengaku Ben?." Tanya Ares.


"Ya begitulah."


Ares melangkah mendekati mereka berdua, di angkatnya dagu dua pria itu dilihat dengan seksama.


Mendapat kode dari Ares, penjaga di sana melepas lakban hitam pada mulut mereka dan dari mulut itu mereka mengeluarkan kaos kaki yang telah dimasukkan.


"Aku tak suka buang-buang waktu, jadi katakan siapa yang menyuruh kalian untuk menyabotase mobil Ishak!." Mulai Ares dengan wajah dinginnya.

__ADS_1


Dua pria itu masih terbatuk-batuk. "Sudah saya bilang, kami ini pebisnis yang tak terima melihat Ishak lebih maju!."


Ares melemparkan berkas ke hadapan mereka berdua, dimana berkas itu merupakan biodata lengkap keduanya yang merupakan mantan buronan polisi dan juga banyak kasus melecehkan anak dibawah umur. "Pebisnis dari mananya ha!?."


Mereka berdua menelan saliva panik, dengan mudah Ares dapat mengetahui identitas mereka.


"Cukup katakan siapa dalangnya, maka hidup kalian akan aman."


"Tidak akan! jika pun kami memberitahunya tetap saja kau tak akan melepaskan kami!." Potong mereka.


BUGH! BUGH!


"Aaaakkh!." Ringis keduanya saat tendangan Ares mendarat dengan cepat hingga hidung mereka berdarah.


"Sialan!." Ares murka.


Ben menyodorkan sebuah kotak dimana di sana terdapat pisau. "Sudah ku panaskan."


Mata dua orang itu melotot, saat Ares mendekat dengan pisau di tangan.


"Tidak! jangan! kau gila!." Pekik mereka berusaha menghindar.


Ares jongkok di hadapan mereka, dengan raut wajah bengis tanpa ampun Ares menancapkan kedua pisau yang dipegangnya pada paha orang suruhan itu.


"Aaaarrgh!." Pekik mereka merasakan sakit yang luar biasa, pisau yang begitu tajam juga sensasi panas menyakitkan bukan main.


Darah bercucuran pada lantai, mereka berdua meringis akan siksaan itu dengan keringat bercucuran. "S-stop! aaarrggh!."


"Katakan siapa dalangnya!." Bisik Ares sekali lagi penuh penekanan.


Srek!


Ditariknya pisau itu hingga mentok sampai area lutut, paha keduanya robek, suara rintihan terdengar memilukan pada seisi ruangan.


"Bram! Bram Bageswara! dia yang membayar kita untuk menyabotase mobil Nao, namun karena lengah kami malah menyabotase mobil yang satunya." Ungkap salah satu karena sudah tak tahan dengan siksaan itu.


Ares terdiam mendengar nama kolega bisnis perusahaannya di sebut.


"Aaaaaakkkh!." Pekik mereka tak tahan lagi. "Kita sudah mengaku tolong hentikan ini!."


Ares mencabut pisau itu meletakkan kembali pada kotak, tiga penjaga di sana langsung mengurusi orang suruhan.


"Tunggu, om Bram!?." Ulang Ben karena tak habis pikir. "Bukannya dia ayah Tessa!?."


"Hahahaha!!." Ares tertawa terbahak-bahak namun terkesan menakutkan. "Permainannya menggelikan, lihat saja nanti!."


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2