
Pukul 00:00 malam..
Maya yang baru keluar dari kamar mandi terdiam saat melihat Ishak masih berdiri belum tidur menatap ke arah luar jendela.
Pasangan suami istri itu menginap di rumah keluarga Leonardgo mengingat acara yang memang berlangsung khidmat.
"Ada apa mas belum tidur juga?." Tanya Maya.
Ishak menghela nafas panjang. "Tidak ada, hanya saja aku masih tak menyangka Nao kini sudah memiliki suami bu."
"Apa karena itu kau susah tidur?."
"Gini bu Ares ini menurut ayah agak brutal liar juga, jadi aihh rasanya aku masih tak rela jika putriku di sentuh orang." Timpal Ishak.
Mendengar itu Maya terkekeh. "Ya wajar mereka kan sudah suami istri juga, kau ini ada-ada saja. Mau cepet punya cucu bukan?."
Ishak mengangguk. "Tentu saja!."
"Nah itu, sekarang kita istirahat sudah malam juga jangan overthinking kemana-mana Nao tidak akan meninggalkanmu mas bedanya sekarang dia bersama Ares." Ujar Maya mengajak suaminya untuk tidur.
"Kau benar." Ishak naik ke atas ranjang untuk istirahat. "Awas saja jika putriku tak bisa jalan bujang Francis!."
Maya yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya.
.
.
Keesokan harinya..
Ares dengan perlahan membuka mata, tampak di hadapan dia Nao yang masih terlelap dengan wajah cantiknya yang menenangkan.
__ADS_1
Pria tampan itu mengembangkan senyum manis semakin mendekatkan wajah untuk menikmati pemandangan indah itu, apalagi Nao dan dirinya sama-sama masih telanjang hanya tertutup selimut.
"Sepertinya aku membuatmu kelelahan itik." Lirih Ares mengelus pipi Nao.
Mungkin dari mulai sekarang pemandangan pagi hari Ares akan terus seperti ini, ah membayangkannya saja sudah membuat pria itu kesemsem. Ares mengakui jika sangat mencintai sekaligus terobsesi pada istrinya.
Saat merasakan sesuatu yang hangat menerpa bibir, Nao membuka mata. Tampak Ares mengecup bibir sexy itu.
"Sudah bangun? apa aku menganggumu?." Tanya Ares.
Nao tak langsung menjawab, ia menatap lekat wajah tampan yang sehabis tidur itu. Rambut acak-acakan dengan suara seraknya yang khas membuat pipi Nao merona.
Di tariknya selimut, Nao bersembunyi di dalamnya membenamkan wajah. "Ya, kau menggangguku."
"Jangan ditutup aku ingin menatap wajahmu kemari." Balas Ares menarik selimut, ia sangat suka melihat wajah tersipu istrinya.
"Haish.."
"Nya.." Sambung Nao, yang kini beralih membalas tatapan Ares.
Keduanya bertatapan dalam jarak yang begitu dekat, Ares dan Nao sama-sama tersenyum.
"Apa semalam aku terlalu ganas?."
"Ya, tubuhku rasanya remuk semua!."
Ares tersenyum. "Namun kau suka bukan, baby?."
"Jangan menggodaku!."
Cup!
__ADS_1
Ares mengecup dagu Nao. "Tenang saja aku akan memijitnya."
"Aku ragu pijitan-mu akan benar kakak angkuh, kemarin saja yoga berujung di atas ranjang." Timpal Nao.
Ares terkekeh seraya menggigit bibir bawahnya, pria tampan itu menarik tubuh polos Nao memeluknya erat. "Ini benar, itu pun kalau tak kebablasan."
"Tuh kan!?."
Ares kembali terkekeh, sangat suka sekali menggoda istrinya.
"Haish dasar."
"I love you." Bisik Ares lembut.
Nao melingkarkan tangannya pada perut kekar Ares. "Love you too."
"Kita harus ke dokter Tantri aku takut anak kita kenapa-napa karena semalam." Ujar Ares khawatir. "Kau tidak merasakan sakit pada area perut sayang?."
Nao menggeleng. "Tidak sama sekali."
Ares menghela nafas lega, untuk selanjutnya ia akan lebih pelan-pelan.
"Apa kau merasakannya?." Bisik Ares.
Pipi Nao merona saat milik Ares ternyata berdiri tegak sempurna. "Aku lelah, kau terlalu liar kakak angkuh."
"Tak usah, cukup sentuh saja dia akan tidur kembali." Balas Ares menuntun tangan Nao menyentuh miliknya.
Jantung Nao berdebar kencang sekaligus merasa ngilu. "Aku menyukai ukurannya."
.
__ADS_1
TBC