
"Aaaaaakkkh!!!." Jerit dua orang suruhan yang tak kuasa menahan sakit pada pahanya yang ditusuk Ares, darah bercucuran dan mereka pun akan diamankan sebelum nanti diadili seadil-adilnya.
Dari kejauhan seseorang mengintip aksi itu, sebelum ketahuan ia pun masuk mobil bergegas menuju suatu tempat.
Bram yang duduk seketika berdiri saat mendengar laporan itu, perasaannya mulai panik. "Tidak mungkin mereka mengakui jika aku dalangnya!."
Tessa mondar-mandir menggigit jarinya.
"Tapi setelah melihat kejadian tadi dengan luka sobekan pada paha mereka, kurasa tak mungkin mereka tahan tuan." Timpal anak buah yang satu.
"Aku sudah membayar mahal mereka untuk bungkam! itu tidak mungkin!." Bantah Bram. Namun jika begitu kenyataannya itu bisa saja terjadi, mereka masih menyayangi nyawanya.
"Papi bagaimana ini? aku tak mau jika nanti Ares melaporkan kita!." Resah Tessa.
"Pergilah." Suruh Bram pada anak buahnya.
Anak buah itu berlalu pergi dari sana.
"Sudah salah target, malah gak becus lagi!!." Bram murka, ia merangkul putrinya menenangkan. "Jangan takut ada papi, Ares juga harus merasakan sakit yang kamu rasakan setelah semua yang terjadi."
Tessa mengangguk. "Iya pih."
.
.
Rumah sakit
Ares kembali dengan pakaian yang sudah diganti, dua hari lagi Ares sudah harus berangkat ke Jepang dan sebisa mungkin ia akan menstabilkan metabolisme tubuhnya sebelum kompetisi penentu semi final dimulai.
Dokter yang memeriksa tubuh Ares menghela nafas lega. "Memang kebal, kau bisa beraktivitas seperti biasa tuan Leonardgo."
"Oke baik terimakasih dokter."
"Sudah jadi tanggung jawab."
Ares kini melangkah menuju ruang sebelah.
Tampak Ishak sedang berlatih jalan begitu pun dengan Lucy. Melihat itu Ares tersenyum.
__ADS_1
"Kau sudah kembali?." Tanya mama Sarah.
"Iya ma."
Nao melirik Ares yang juga menatapnya, wanita cantik itu merasa lega.
"Tidak terjadi sesuatu? wajahmu tampak habis emosi begitu Res." Tanya Agam dengan tatapan mengintimidasi.
Ishak beralih menatap Ares.
"Tidak ada apa-apa, don't worry."
Ares mengatur nafas seraya duduk di samping Nao, menghilangkan jarak diantara keduanya.
"Ares om belum memberi restu nak jadi jangan nempel-nempel begitu ya." Lirih Ishak.
Ares menekuk wajahnya karena kata restu itu belum ia dapat juga, namun sejauh ini banyak yang berubah, Ares juga tak mau memaksakan kehendak bukan ikhlas namanya.
Ia akan dengan perlahan dan sabar menunggu. "Oke ayah mertua apapun untukmu."
Agam cemburu melihat putranya begitu amat patuh pada Ishak. Ia pun duduk menengahi diantara Nao juga Ares. "Mereka kakak adik tidak ada yang salah jika duduk berdampingan."
"Sudah jangan berantem terus, kalian ini sudah pada tua, enak dilihat anak-anak?." Timpal Sarah.
Agam dan Ishak melihat sekeliling dan benar mereka jadi pusat perhatian Ares Nao juga Andrew dan Lucy. Namun itu tidak mempan keduanya seolah tak peduli.
"Tua juga belum punya cucu ma jadi gak tua-tua amat." Potong Agam pada Sarah.
Mendengar kata cucu sesuatu terlintas pada benak Ishak. "Cucu?."
"Ya, jika Nao dan Ares sudah menikah mungkin saat ini aku sudah memiliki cucu." Ujar Agam.
Ares dan Nao terkejut mendengar itu apalagi Sarah, Agam termasuk menentang tapi perkataannya saat ini seolah tanpa sengaja ia mengizinkan hubungan mereka.
"Dia akan ikut marga ku (Leonardgo)." Lanjut Agam lagi, ia tak peduli dan memilih mengutarakan keinginan hatinya.
"Enak saja harus ikut marga ku (Gilbert)." Potong Ishak tak mau kalah, cucu pertamanya harus ikut marga dia.
"Kita bertaruh saja!." Timpal Agam.
__ADS_1
"Siapa takut, bertaruhnya dari bentuk rambut!." Potong Ishak mengutarakan.
Maya dan Sarah saling tatap melihat suami mereka, keduanya pasrah saja memilih menonton.
"Jika rambutnya nanti ikal maka ikut margaku, dan jika nanti lurus maka boleh ikut marga mu." Jelas Ishak.
"Jika sebaliknya?." Timpal Agam lagi.
"Tak bisa, kau harus mengalah Agam." Santai Ishak puas.
"Mana bisa begitu!?."
"Ya suka sukaku, kenapa suka sukaku? ya suka sukaku!." Sewot Ishak menjelaskan.
Mendengar itu Nao menepuk jidatnya, sementara Ares terkekeh tak menyangka jika mereka akan terus rebutan layaknya Tom and Jerry. Maya dan Sarah sama-sama menggelengkan kepalanya.
"Jadi ayah sudah merestui hubungan kita? melihat rencana marga untuk anakku dan Nao barusan?." Lanjut Ares.
"Tidak, kata siapa?." Bantah Ishak.
"Tapi ayah kita sudah membuatnya."
"Ha!!??." Pekik Ishak.
Semua yang ada di sana terkejut memelototi Ares termasuk Nao.
"Maksudku setting tempat pernikahan." Lanjut Ares sengaja.
Mereka kini menghela nafas lega.
"Kirain!!.."
Mata indah Nao masih menatap tajam Ares dengan ucapannya barusan yang hampir keceplosan, namun pria tampan itu acuh saja. "Simulasi itik." Bisik nya lembut.
.
TBC
Ayo jejaknya tinggalkan ya like di setiap episode, juga ketik komentar positifnya untuk membuat semangat thornim naik..🤗
__ADS_1