
"Ares tak ada?." Ulang Agam seolah tak percaya setelah mendengar laporan dari Nao, Agam melihat sekeliling di rogohnya handphone itu untuk menghubungi Ares.
Namun sama seperti Nao, Ares tak bisa dihubungi ia menonaktifkan handphonenya.
"Padahal tadi papa melihatnya sudah siap mengenakan jas." Lirih Agam melirik garasi yang memang mobil Ares sudah tak terparkir lagi di sana. "Kemana anak itu?."
Nao terdiam ia resah karena Ares pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Menyadari situasi itu Ishak menghela nafas berat. "Ada ayah, mungkin Ares ada urusan mendadak nanti juga pasti datang ke acara wisudamu."
"Ben juga tak mengangkatnya." Lirih Agam setelah menghubungi asisten pribadi Ares.
Nao tak bisa berbuat apa-apa ia merasa sedikit kesal dengan Ares, ia yang sebagai calon istrinya saja tak diberi tahu apalagi keluarganya. "Sudahlah mari kita berangkat."
Dua keluarga itu mau tak mau berangkat ke acara wisuda tanpa Ares.
"Baru saja dia ku kasih restu tapi sudah membuat putriku resah, haish awas saja kau Ares belum juga menikah!." Ujar Ishak.
"Sudah-sudah, Ares tidak mungkin macam-macam mas lihat perjuangannya dulu hanya untuk mendapatkan restumu." Timpal Maya berusaha agar Ishak tak overthinking.
"Iya-iya bu."
Setelah beberapa menit di perjalanan akhirnya mereka sampai di kampus, Nao dan Anna duduk di kursi sudah dengan toga di kepala masing-masing.
Sementara orang tua mereka di tempat lain yang diperuntukkan khusus.
Nao yang terus memikirkan Ares tak fokus kepalanya terasa pening, bahkan ia enek mau muntah.
Melihat Nao yang dari tadi terus memegangi perutnya Anna merasa cemas. "Are you oke Na?."
__ADS_1
Nao mengatur nafasnya agar bisa tenang, ia tampak menahan sesuatu.
Dalam waktu bersamaan Nao pun di panggil untuk penyerahan ijazah dan juga penghargaan atas prestasinya yang telah berhasil meraih cumlaude.
Semua yang ada di sana tepuk tangan begitu pun dengan orang tuanya, namun Anna di sini panik.
"Na kamu gak papa kan?."
Nao pun memaksakan diri untuk berdiri. "Aku masih bisa menahannya, tenang saja."
Anna menatap Nao yang melangkah maju ke depan, benar saja ia bersikap seolah tak terjadi apa-apa senyumnya begitu cantik sumringah.
Setelah selesai mengabadikan momen dalam sebuah foto dengan rektor dan juga dosen yang lain, Nao segera kembali ke tempat duduknya meletakkan ijazah dan penghargaan itu di kursi duduknya.
"Aku harus ke kamar mandi."
Perasaan Anna tak tenang, ia teringat waktu selesai sidang skripsi dulu. "Tidak mungkin kan? ah enggak-enggak.."
Agam, Sarah begitu pun juga dengan Ishak dan Maya mengikuti arah lari putrinya.
"Tunggu, apa Nao sakit?." Panik Ishak.
"Dia baik-baik saja kau tenanglah, mungkin Nao kebelet." Balas Agam yang merasa panik juga.
"Masa iya pah? Nao gak makan pedes atau pun punya riwayat sakit?." Ujar Sarah.
"Apa kita susul saja, Nao terlihat pucat dan loyo." Ujar Ishak yang menyadari wajah putrinya seperti menahan sesuatu yang tak mengenakan.
"Jangan dulu, lihatlah posisi kita berada di tengah-tengah ratusan orang, aku akan menyuruh anak buahku untuk mengawasi Nao." Timpal Agam.
__ADS_1
"Oke cepatlah."
Agam pun menghubungi seseorang.
Sementara itu di kamar mandi.
"Hoeeek!! hoeekkk!! hooeeekk!!." Nao memuntahkan semua isi perutnya.
Ia terengah-engah juga lemas, kepalanya pusing Nao tak peduli lagi dengan penampilannya.
Di usapnya dengan tisu bibir ranum yang dipoles itu, Nao menatap dirinya pada cermin. "Ini sangat menyiksa sekali."
Setelah dirasa aman, Nao keluar dari kamar mandi itu masih dengan keadaan lemas.
Tatapannya perlahan semakin rabun, pening pada kepala Nao semakin terasa hingga tubuhnya pun oleng dan...
GREP!
Sebuah tangan kekar menahannya di waktu yang pas, Nao dapat melihat jika pria itu pria yang ia cari keberadaannya sejak tadi pagi. "Ares...."
"Apa yang terjadi? kau sakit? kenapa bisa lemas begini!." Ares begitu panik melihat kondisi Nao yang hampir tak sadarkan diri. "Kita ke rumah sakit sekarang!."
"Aku hamil." Lirih Nao pelan setelahnya ia pun pingsan.
Mata Ares terbelalak saat mendengar itu bahkan ia tak berkedip sama sekali. "H-hamil!???."
.
TBC
__ADS_1