Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 103


__ADS_3

Mata Ares terbelalak saat mendengar itu bahkan ia tak berkedip sama sekali. "H-hamil!???."


Diam beberapa saat namun Ares mengesampingkan rasa terkejutnya, ia mengkhawatirkan Nao yang tak sadarkan diri setelah keluar dari kamar mandi.


Jantung Ares masih berdebar kencang, dalam benaknya terus bermunculan kalimat hamil, hamil dan hamil.


Pria tampan itu tanpa basa-basi langsung mengangkat tubuh Nao, untuk dibawa ke rumah sakit untuk periksakan.


"Tuan Ares!?." Dua orang suruhan Agam untuk memantau Nao tiba di sana, mereka terkejut saat Nao sudah tak sadarkan diri di gendong Ares.


"Kalian?."


"Ada apa dengan non Nao?." Panik mereka juga. "Kami di suruh tuan Agam untuk menjaga sekaligus memantau non Nao."


Ares peka maksud anak buah ayahnya itu. "Ah bilang saja, Nao bersamaku jangan khawatir." Ares sengaja tak akan memberitahu tujuannya yang akan menemui dokter di rumah sakit, kabar kehamilan Nao ini jangan dulu sampai keluarga tahu.


Anak buah itu saling tatap. "Mungkinkah tuan akan ke rumah sakit? kami akan melaporkannya pada tuan Agam."


"Tak, tak usah. Nao tidak apa-apa dia aman, laporkan saja seperti kataku!." Lanjut Ares yang diangguki mereka.


"Baiklah tuan."


Dengan langkah cepat Ares berlalu pergi dari aula kamar mandi kampus Nao, menuju parkiran.


Di letakkan nya dengan perlahan tubuh Nao, Ares pun menyusul ikut masuk ke dalam mobil. Dengan perasaan yang masih tak karuan Ares melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


"Sama Ares??." Tanya Ishak mengerutkan kening mendengar laporan dari dua anak buah Agam. "Dibawa kemana putriku? lantas kita di sini untuk apa? sedangkan Nao nya saja tidak ada!?."


Agam dan Sarah merasa keheranan juga.


"Mungkin mereka mengabadikan momen, tunggu saja pasti mereka kembali." Balas Agam.


"Duduk bersama kita saja, dasar bujang Francis itu.." Ujar Ishak menggelengkan kepalanya, pasti menurutnya Ares ingin berduaan dengan Nao tanpa diganggu siapapun.

__ADS_1


"Kita tunggu saja mas, sudahlah." Timpal Maya.


"Iya."


Sementara itu...


Di rumah sakit.


Ares yang sudah berhasil menyerahkan Nao pada dokter hanya mondar-mandir dengan perasaan campur aduk di luar ruangan.


"Aku sangat bahagia mendengar ini, tapi ayolah sadarlah itik." Lirih Ares masih belum tenang jika Nao masih tak sadarkan diri.


Selang 10 menit.


Pintu ruangan dibuka, seorang dokter wanita paruh baya mempersilahkan Ares untuk masuk ke dalam.


Kini terlihat Nao sudah siuman, Ares tersenyum penuh haru langsung menghampirinya. "Are you oke? apa ada yang sakit lagi atau apa?."


Nao dengan perlahan menggeleng. "Nanya nya satu-satu."


"Jangan khawatir aku tak apa." Balas Nao mengelus tangan kekar Ares yang menggenggamnya kuat dari tadi.


Dokter wanita itu hanya tersenyum saja melihat interaksi mereka.


"Jadi bagaimana dok?." Lanjut Ares serius.


Ditatapnya secara bergantian wajah Ares dan Nao. "Selamat nona ini tengah mengandung, usia kandungannya sudah memasuki 4 minggu." Ujar dokter itu dengan ramah. "Tidak ada yang terjadi hanya saja beliau muntah-muntah serta mual karena hormon yang mempengaruhinya, jadi jangan khawatir tuan."


Ares menghela nafas lega, kini rasa bahagianya benar-benar membludak. Pria tampan itu menciumi wajah Nao memeluknya erat. "Aku tak pernah sebahagia ini, thank you so much baby."


Nao tersipu dengan dokter wanita itu yang tersenyum.


"Tak apa silahkan." Ramah bu dokter tersenyum memaklumi. "Kalian juga sudah suami istri bukan?."

__ADS_1


Ares dan Nao saling tatap.


"Ya ya benar! kita sudah suami istri." Potong Ares sengaja bohong.


Nao hanya tersenyum kikuk saja karena faktanya mereka belum menikah, dan pernikahannya akan dilangsungkan 4 hari lagi.


"Oke baiklah." Lanjut dokter. "Ini ada vitamin yang harus diminum istrimu, datanglah tiga kali dalam sebulan untuk mengecek perkembangan janin."


Ares menerimanya. "Tentu saja, terimakasih dok."


"Sudah jadi tanggung jawab." Ramahnya.


Setelah selesai, Ares dan Nao kembali masuk ke dalam mobil untuk pulang. Ares menatap lekat Nao, pantas saja auranya semakin terpancar dan memanjakan mata taunya Nao tengah hamil. "Kenapa kau menyembunyikan ini dariku itik?."


Nao menjitak pelan kening Ares. "Aku menunggu waktu, dimana pernikahan kita sudah dekat. Kamu akan tahu sendiri bagaimana reaksi orang tua kita bukan?."


Apa yang diucapkan Nao ada benarnya, apalagi reaksi Ishak yang sudah membuat Ares merinding membayangkannya. "Oke namun aku benar-benar bahagia karena mu."


Ares mencium bibir ranum itu dengan lama.


"Kita sembunyikan dulu." Lanjut Ares seraya mencium perut Nao yang masih tampak rata itu.


"Iya."


"Tapi jangan dekat-dekat ya." Timpal Nao dengan raut wajah memohon.


Ares mengerutkan keningnya. "Why? tentu saja aku ingin selalu berada di dekatmu itik!."


"Aroma tubuhmu membuatku mual, aku kan lagi mabok p*nis-mu!." Bisik Nao.


Ares terdiam matanya tak berkedip sama sekali.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2