Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 99


__ADS_3

Melihat papinya di bawa anak buah Agam, Tessa dan mommy-nya panik.


"My gimana ini kok anak buah papa tak berdaya!?."Tessa cemas ia tak mau ditangkap.


"Mommy juga gak tahu, lagian kenapa kamu ini nyuruh papi buat mencelakai Nao!? lihat sekarang akibatnya mommy malu dengan Agam." Mommy cukup sadar diri karena bantuan sahabat dari suaminya.


"Kok mommy jadi nyalahin sih! harusnya bela putri sendiri bukan orang lain!." Tessa kesal, karena mommy-nya berkebalikan dari Bram.


"Tindakan kamu yang salah! ini yang membuat mommy marah kau keras kepala sama seperti papi Tessa!." Potong mommy tak suka.


Tok tok tok!!


"Buka pintunya!." Teriak bodyguard Agam menggedor pintu.


Mereka berdua semakin panik apalagi Tessa. "Mom gimana ini!!."


"Mommy juga gak tahu, kamu harus mempertanggungjawabkan ini Tessa." Mommy sadar, mereka jauh berlari pun pasti Agam dan Ares dapat dengan mudah menemukannya.


"Gak mom aku gak mau enak saja!." Tolak Tessa.


"Buka pintunya!!." Teriak bodyguard lagi.


Dengan satu kali tendangan, dua bodyguard yang bertubuh tinggi besar dapat dengan mudah mendobrak pintu masuk rumah Tessa.


Ibu dan anak itu mau tak mau dibawa menuju pengadilan untuk mengadili tindakan mereka yang harus dibayar dengan setimpal.


.


Alex yang sedang istirahat dapat mendengar jika handphone Ares berdering. "Res!.." Panggilnya.


Ares yang sedang latihan menoleh menghampiri Alex.


"Ada yang menghubungi."


Diraihnya handphone, Ares menerima panggilan dari Ben cukup lama mereka bicara setelah itu panggilan pun diakhiri.


"Kau akan pergi?." Tanya Alex melihat Ares mengelap keringatnya.


"Ya, selesaikan latihannya besok kita sudah berangkat, aku harus menyelesaikan kasus ini dengan baik." Balas Ares.


"Oke bro semoga beruntung."


"Ya."


Ares pun keluar dari gedung olahraga, ia masuk ke dalam rumah tampak Andrew juga sudah bersiap-siap begitupun juga dengan Nao dan Anna.


"Jangan lama-lama." Suruh Andrew yang ingin segera menuntaskan semuanya.


"Hmmm." Ares memasuki kamar untuk ganti baju.


Sementara itu mereka bertiga menunggu.


Setelah Ares siap mereka berangkat ke kantor pengadilan dengan mobil yang berbeda. Andrew dengan Anna, Nao dengan Ares.


Nao dapat melihat raut wajah geram Ares, pria tampan itu sangat emosi dengan sikap Bram yang tak tahu diri.


Sekitar 25 menit di perjalanan akhirnya mereka sampai di kantor pengadilan.


Ares dan Agam duduk berhadapan dengan dua orang suruhan yang kemarin Ares siksa, sedangkan di tengah-tengahnya Tessa dan Bram yang sudah diborgol.


Tessa menatap tak terima kepada Ares, sakit hatinya saat melihat pria yang selama ini ia cintai mati-matian menuntaskan kasus demi Nao.

__ADS_1


"Oke baik karena sudah hadir semuanya, kita mulai!." Ucap hakim mengetuk palu membuka sidang.


"Melihat bukti-bukti yang tertera apa benar pelaku melakukan tindak kriminal ini sesuai dengan arahan terdakwa?." Lantang hakim.


Dua orang suruhan itu melirik Bram yang hanya bisa menunduk dengan wajah berang kecewa dan sangat marah, lalu tatapan mereka beralih menatap ke arah Ares dan Agam.


Keduanya bergidik ngeri akan tatapan tajam Ares, mengingat penyiksaan yang kemarin mereka terima juga. "Ya, kita melakukan tindak kriminal itu atas utusan terdakwa, beliau juga memberikan uang berjumlah besar untuk membuat kita bungkam."


"Kau!!!." Bram emosi, ia sudah mengeluarkan banyak uang namun orang suruhannya itu dengan mudah mengaku.


"Duduklah!." Ujar petugas menahan tubuh Bram.


"Apa benar semua itu terdakwa?!." Lanjut hakim dengan tegas. "Melihat banyaknya bukti kau tidak perlu mengelak lagi, ini sudah akurat. Sebutkan motifnya merencanakan tindak kriminal ini!."


Bram benar-benar tak bisa mengelak, ia melirik Agam dan Ares yang tak bergeming seolah menikmati kehancuran diri Bram.


"Aku hanya seorang ayah yang tak terima melihat putrinya tersakiti karena Ares lebih memilih wanita murahan seperti Nao!." Sergah Bram. "Itu alasan utamaku!."


Darah Ares mendidih saat wanita yang dicintainya disebut murahan, ia berdiri namun tangan Agam menahannya. "Tahan, itu akan menyudutkan posisimu."


Ares mau tak mau duduk kembali. "Sialan!."


"Lanjutkan pak." Ujar Agam.


"Kau tahu tindakanmu ini salah pak Bram, akui dan terima konsekuensinya." Lanjut hakim.


"Gak pak!." Potong Tessa yang tak mau dipenjara. "Kita tak sepenuhnya bersalah, awal mula rasa benci ini karena sosok wanita j*lang itu!." Tunjuk Tessa kepada Nao. "Jadi dia penyebab utamanya yang harus dilenyapkan!."


"Aku!???." Nao tak terima, rasanya ia ingin merobek mulut lemes itu, namun Anna menahannya.


"Bukan ladenin Na." Timpal Anna.


"Ck! Haish.." Nao duduk kembali.


"Terdakwa dijatuhi hukuman penjara paling sedikit 15 tahun!." Ucap hakim dengan lantang.


TUK! TUK! TUK!


Tiga kali palu diketuk dan kini resmilah hukuman itu dijatuhkan.


Saking syoknya mendengar itu Tessa jatuh pingsan, di sini Bram mengamuk tak terima, bagaimana hidupnya ke depan jika seperti ini? namun semuanya sudah terlambat.


"Di sini yang bisa meringankan hukuman terdakwa dari keputusan pihak korban, bukan suapan uang! terimakasih." Ujar hakim seraya mengakhiri sidang.


"Agam kau harus memberiku kesempatan kedua, Agam kau sahabatku!." Ucap Bram menyesal.


Bram yang berontak dibawa petugas untuk dipindahkan ke tempat baru menjalani hukuman, begitu pun juga dengan Tessa dan dua orang suruhan.


Setelah semuanya selesai barulah mereka menghela nafas lega, Agam dan Ares bersalaman dengan hakim yang telah membantu dengan tuntas.


"Sudah jadi tanggung jawab pak Agam."


"Sekali lagi terimakasih banyak." Sungkan Agam.


"Dengan senang hati."


Mereka pun keluar, sementara itu ibu Tessa yang pingsan setelah mendengar hukuman anak dan suaminya, ia diurus anak buah Agam.


"Oke, papa tak bisa lama-lama harus ke perusahaan saat ini juga." Lanjut Agam pamitan dengan anaknya. "Kalian bisa langsung ke rumah sakit untuk mengabari kabar ini."


"Baik pah." Balas Ares.

__ADS_1


Agam pun berlalu dengan supirnya menuju perusahaan, sementara Ares dan yang lain juga pulang menuju rumah sakit.


"Aku hanya bisa bilang terimakasih banyak atas semuanya kakak angkuh." Lirih Nao seraya menggenggam tangan Ares ketika mereka sampai di rumah sakit.


"Asal gantinya dirimu akan ku lakukan apapun." Balas Ares hendak mencium bibir Nao.


"Ini keramaian, ayolah.." Potong Nao seraya menjauh.


Namun Ares tak peduli, dunia harus tahu jika Nao wanitanya.. Aaahh dia kini benar-benar bucin!.


Setelah kabar gembira itu diketahui, mereka semua lega dan tentunya Ishak berterimakasih kepada Agam juga Ares.


.


.


Hari berikutnya


Sore hari sekitar jam 4 lebih Ares tiba di Jepang, dan malamnya ia akan bertanding merebutkan semi final.


Hingga waktunya tiba, para atlet sudah siap dengan teriakan pendukung yang menggema mengisi seluruh stadion.


Namun Ares masih menatap handphonenya di ruang tunggu dengan raut wajah kalut, sementara yang lain sudah berkumpul menuju lapangan.


"Kemana Nao?." Batinnya resah, dari tadi panggilan atau pesan dari Ares tak terbalas hingga hampir 20 panggilan Nao tak menjawabnya.


"Ares kau sedang apa? ayo tunggu apalagi!." Ujar coach yang dari tadi mencarinya.


"Ya coach." Diletakkannya handphone itu, Ares mau tak mau keluar karena pertandingan sebentar lagi akan dimulai.


Stadion itu seketika riuh saat Ares keluar, sangat langka memang biasanya para atlet kebanyakan bapak-bapak atau orang berumur, namun Ares beda dari yang lain ia memiliki tampang yang begitu memikat juga skillnya yang tak perlu diragukan lagi.


Pertandingan di mulai, namun Ares mendapat kendala saat konsentrasinya terganggu ia terus memikirkan Nao khawatir dengannya yang tak berkabar dari kemarin.


"Bro ada apa!?." Ujar Alex yang tak paham saat beberapa kali spike Ares melenceng.


"Ck!."


"Ares fokus!." Teriak coach.


Ares mengatur nafasnya ia sudah sejauh ini tidak mungkin mengecewakan, namun hatinya benar-benar gundah.


Set pertandingan kedua dimulai.


"Areeeeeesssss!!!." Teriak seseorang.


Suara yang begitu familiar terdengar dari banyaknya penonton, Ares mencoba mencari sumber suara hingga ia terkejut saat menemukan sesuatu.


Dimana Ishak ada di sana dengan banner besar terbentang, bukan hanya dia Nao juga hadir, Andrew, Agam, Ben, Sarah, Maya juga Anna hadir tersenyum ke arahnya.


"What???." Ares tak habis pikir tentunya ia begitu terkejut sekaligus bahagia.


Ares membaca tulisan pada banner yang digenggam Ishak.


'Masuk final! ku restui hubungan kalian dan menikahlah.'


Bagai mendapat lautan berlian, semangat Ares memuncak energinya full akan tulisan banner yang dibentangkan Ishak. "Oke mari kita lihat ayah mertua!."


"Bagus Ares." Lirih Agam.


.

__ADS_1


TBC


Ayo jejaknya tinggalkan ya like di setiap episode, juga ketik komentar positifnya untuk membuat semangat thornim naik..🤗


__ADS_2