
Rumah sakit
Ares ditangani, lukanya cukup parah bahkan wajahnya tampak pucat karena telah kehilangan banyak darah, Nao yang tiba di sana berlari hendak menyusul kekasihnya yang dibawa oleh dokter ke dalam. "Ares!."
Papa Agam menahan Nao membawanya menjauh dari sana.
"Papa?."
"Papa tahu kekhawatiran-mu terhadap Ares tapi saat ini tolong jangan memperlihatkannya Nao." Pinta Agam serius dengan sudut mata melirik Sarah yang diam berdiri di sana.
Nao menunduk, akhirnya apa yang ditakutkannya telah terjadi tanpa ia duga. "Pah aku, a-aku...
"Papa sudah menyadarinya dari jauh hari dan ternyata benar saja.." Lanjut Agam dengan raut wajah kecewa yang tak bisa diartikan.
"What? papa tahu darimana?." Timpal Nao.
"Papa melihat kalian saat di kolam renang malam itu." Jawab Agam mengingat malam dimana saat dia menelpon dengan kolega bisnisnya di halaman belakang, ketika ia hendak masuk kembali betapa terkejutnya Agam melihat Nao dan Ares bercumbu dengan posisi yang begitu intim.
Nao meremas ujung bajunya kuat ia merasa takut, cemas, khawatir, campur aduk dalam dirinya apalagi melihat raut wajah Sarah yang tampak datar tak mengeluarkan sepatah katapun. "Iya pah ku akui selama ini kita memiliki hubungan, tapi bukan bermaksud untuk.....
"Bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya sekarang, papa paham maksudmu." Potong Agam seraya melangkah kembali menuju ruang tunggu dimana Sarah berada.
Batin Nao menjerit ingin menghilang saja sekarang juga, namun ia harus mengerti situasi saat ini. Nao hanya boleh mengkhawatirkan Ares sebagai seorang kakak bukan sebagai kekasih.
Ares meringis menahan sakit saat lukanya dijahit, walaupun dibius tetap saja terasa karena tikaman sangat dalam.
Setengah jam berlalu...
Barulah keluarga dipersilahkan masuk ke dalam untuk melihat pasien, Nao merasa bersalah ia khawatir saat melihat tubuh atletis Ares dibungkus perban.
__ADS_1
"Sudah aman tuan, tuan Ares jangan dulu beraktivitas selama lukanya belum sembuh." Saran Dokter yang diangguki Agam, setelahnya ia keluar.
Dengan tubuh yang masih lemas Ares menatap Nao yang juga menatap ke arahnya, pria tampan itu sudah peka dengan perubahan kekasihnya.
"Apa sekarang sudah baik-baik saja?." Tanya Nao sedikit jaga jarak.
Ares tersenyum. "Sure."
Sarah yang melihat menghela nafas berat, ia pun melangkah melewati Nao untuk menghampiri Ares. "Terimakasih Ares sudah melindungi Nao untuk mama, cepat sembuh dan kita perlu bicara!."
Setelah menepuk-nepuk pundak anak tirinya, tanpa berucap lagi Sarah berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
Agam tak bisa berkata apa-apa ia melihat keduanya bergantian.
"Pah jangan membuat Nao tertekan aku yang salah telah memulai semuanya." Ujar Ares.
"Itu sama saja itik." Potong Ares yang membuat bibir Nao sedikit cemberut.
"Sudah-sudah!." Ujar Agam yang membuat keduanya terdiam. "Papa syok saat melihat kalian kala itu, terutama terhadapmu Ares papa kecewa! sudah sejak kapan ha? menyembunyikan hubungan rahasia ini?."
"Sejak projek di pesisir." Jawab jujur Ares ia akan memperjelas semuanya. "Bukan tak ingin jujur tapi status saudara kita yang menghalanginya pah."
Baru saja masalah Andrew selesai dan sekarang tambah lagi ke level yang lebih rumit dan tak terduga.
Agam memijit pusing kening ia benar-benar frustasi. "Pulihkan dulu tubuhmu baru kita bicara Ares, Nao ikut papa pulang!."
"Apa?."
"Papa tunggu di luar jangan lama-lama!." Lanjut Agam tak mau dibantah seraya berlalu dari sana.
__ADS_1
Nao juga Ares saling tatap, tanpa pikir panjang wanita cantik itu langsung berhambur memeluk kekasihnya. "Are you oke? aku harus pulang, apa kau tidak masalah dengan itu?."
Ares menggeleng ia mengelus wajah cemas Nao. "No problem, yang ku khawatirkan di sini kamu. Pulanglah duluan setelah sembuh aku menyusul."
Sebelum berpisah Ares meraih bibir sexy Nao mencium dan menyesapnya dalam. "Ku mohon jangan berpikir untuk mengakhiri itik."
Tok tok tok!
Agam mengetuk pintu kamar itu dengan sengaja. "Nao???."
"Iya pah." Pasrah-nya.
"Baiklah get well soon." Bisik Nao mengecup kening Ares lalu meninggalkan pria itu di sana yang masih harus menjalankan perawatan.
Setelah sang kekasih hilang dari pandangan Ares meraih handphonenya, tidak lama panggilan tersambung.
"Siapa dalangnya!."
"Menggelikan, dia kakak tiri Nao sendiri Angel dan sekarang akan ku bawa ke sana sesuai permintaanmu." Balas Ben dari seberang.
"Bagus, dua pria botak itu?."
"Sudah ditangani polisi dan hukumannya dijatuhkan tadi juga tuan." Lanjut Ben.
"Oke, kau tidak pernah mengecewakan."
.
TBC
__ADS_1