
Perhatian Agam dan Sarah tertuju pada Ares yang masih memeluk bibi pembantu. "Happy birthday? bukankah bibi ulang tahunnya masih lama?."
"Inggih nyonya." Jawab bi Rita yang tak mengerti juga.
Ares melepas pelukan itu. "Ulang tahun bibi yang kemarin aku lupa mengucapkannya ma, ya kan bi?."
Mendapat kode dari Ares bi Rita pun mengangguk saja. "Haha iya toh den."
"Oke, kalau begitu mama sama papa masuk kamar." Lanjut Sarah yang digandeng Agam, terlihat keduanya tampak kelelahan.
Nao sendiri melewati Ares untuk menuju dapur, ia ingin memasak sesuatu. Setelah kedua orang tuanya benar-benar masuk kamar, Ares menyusul kekasihnya.
"Itik..." Ujar Ares seraya duduk di meja makan sambil melihat Nao yang sedang membuat sesuatu dengan bahan-bahan dapur. Wanita cantik itu menguncir rambut indahnya membuat Ares lupa berkedip.
"Hmmm? kau pasti capek ku buatkan sesuatu, tunggu sebentar."
"Hanya butuh pelukanmu saja lelahku pasti hilang." Jawab Ares.
"Haish manis sekali.. Tak perlu diragukan lagi rayuan mantan Casanova." Sindir Nao.
Ares tersenyum menggigit bibir bawahnya, ia melihat sekeliling berharap tidak ada orang. Pria tampan itu menghampiri melingkarkan tangan kekarnya pada perut ramping Nao. "Sebentar saja." Lanjut Ares mencelupkan wajahnya pada leher jenjang Nao.
Nao terdiam ia merasa panik takut bagaimana jika ada yang melihat mereka.
Ares menggigit pelan telinga itu menciumi area leher dengan lembut, Nao sedikit merinding akan sentuhan benda kenyal yang seolah membangkitkan gairahnya.
"Kau harum sekali itik.." Bisik Ares mencium dalam-dalam aroma itu, benar saja setelah memeluk Nao energinya terkumpul kembali.
__ADS_1
"Hei aku tak bisa fokus memasak.." Ujar Nao yang mulai tegang sekaligus panik bercampur aduk.
Saat mendengar suara pintu terbuka Ares melepas pelukannya beralih berdiri di samping Nao melihatnya memasak. "Menegangkan bukan?." Sengaja Ares menggoda membuat Nao menatapnya tajam.
"Kau ini!." Pipi Nao bak kepiting rebus.
Sarah yang keluar dari dalam kamar melihat ke lantai bawah, memandangi Nao dan Ares yang sedang memasak. Keduanya tampak begitu akrab, Sarah tersenyum sekilas melihat itu.
"Sayang.." Agam muncul memeluk Sarah dari belakang. "Sedang melihat apa?."
"Anak-anak kita."
Agam mengikuti pandangan sang istri. "Mereka kini akur, jangan khawatir Nao dan Ares pasti sama-sama mulai menerima."
Selintas ada hal yang mengganjal muncul dalam benak Sarah. "Bagaimana jika mereka memiliki perasaan?." Spontan saja kata-kata itu keluar saat hati Sarah mulai tak tenang.
Sarah melihat interaksi keduanya dengan seksama. "Ini hanya perasaanku saja, lagian tidak mungkin juga Ares sendiri sudah memiliki kekasih."
"Ya itu tidak mungkin!." Timpal Agam. "Ini sudah malam ayo kita istirahat."
"Baiklah."
Keduanya pun masuk kembali.
Ares menoleh untuk melihat mereka. "Sudah tidak ada."
Nao menghidangkan pancake yang dibuatnya barusan. "Silahkan coba, ini pertama kalinya aku membuat pancake untuk kekasihku."
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Ares memakannya, ia sangat suka sehingga melahap pancake lagi dan lagi membuat Nao tersenyum. "Pelan-pelan."
"Kau harus menerima hukuman Laura Gilbert!." Timpal Ares.
Nao mengerutkan kening disela makannya. "Hukuman apa?."
"Beraninya membicarakan ku pada ayah mertua! kau pikir aku tak tahu?." Potong Ares.
"Tunggu apa maksudnya?." Nao masih tak mengerti.
"Aku bertemu dengan ayahmu Ishak di kota B." Jawab Ares masih mengingat pertemuan yang menegangkan itu.
Nao sedikit syok pasalnya ia tahu sikap ayahnya bagaimana. "What??."
Ares menceritakan semuanya dengan detail.
"Apa dia tahu hubungan kita?." Tanya Nao merasa takut.
"Belum, namun akan ku buat dia merestuinya."
"Itu mustahil." Lirih Nao yang membuat Ares menatap tajam ke arahnya.
"Ini yang ku takutkan dari jauh hari sehingga menepis perasaan terhadapmu Ares, mama tampak bahagia dan aku tidak mungkin merusaknya." Lanjut Nao.
"Kau pikir aku juga akan membiarkanmu pergi? tidak sampai kapanpun! hati kita saling terikat." Ujarnya yang tak mau kehilangan Nao lagi. "Berani membantah, ku buat kau hamil sekarang juga. Bagaimana itik?." Sengaja Ares.
__ADS_1