Tragedi Ranjang Kakak Tiri

Tragedi Ranjang Kakak Tiri
Episode 59


__ADS_3

"Buka kembali pada dua laman sebelumnya!." Timpal Ares.


Nao yang masih kesal patuh saja menekan remot.


"Lihat dari paragraf awal sampai tengah, itu penentu penelitian kenapa kau tak mengawasi persediaan barang atau jasa dan letak fasilitas operasional?." Ujar Ares.


"Ini bukan tanggungjawab dan tugasku bisa tuan tanyakan kepada bu Fara sebagai manager operasionalnya." Balas Nao.


Saat bu Fara berdiri hendak menjelaskan...


"Kau ternyata belum menguasai seluruhnya!." Potong Ares seraya berdiri dari kursi kebesaran. "Ben lanjutkan meeting ini, masih ada urusan yang harus ku selesaikan." Ares berlalu pergi dari sana.


Nao menghela nafas berat sementara timnya yang lain hanya bisa menunduk.


"Ini bukan presentasi ku yang seluruhnya salah hanya saja kebenciannya terhadapku terlalu besar, dasar pria angkuh!." Batin Nao memaki mantan kekasihnya itu.


"Oke baik kita mulai kembali dari awal." Ben mengambil alih memberi kode pada Nao untuk duduk.


Dengan raut wajah masih ditekuk Nao kembali duduk di samping bu Fara.


Ben melihat kembali pengajuan rencana proyek. "Tak sepenuhnya salah ini bagus hanya saja sudut pandang tuan Ares berbeda dengan cara kerja kalian."


"Bu Fara nanti anda bisa ke ruangan saya untuk menyempurnakan ini dengan syarat yang ditentukan, tinggal 5% lagi."


"Oke baik tuan Ben." Sungkan bu Fara.


Rapat selesai ditutup dengan saling berjabat tangan, Nao juga timnya keluar meninggalkan ruang meeting.


"Ah tadi itu menegangkan sekali." Lirih bu Fara.

__ADS_1


"Ya kakakku seperti wanita yang sedang menstruasi!."


"Hust! jangan begitu nanti kedengeran sama tuan Ben." Timpal bu Fara panik.


Nao hanya diam saja karena masih kesal, ia melirik Mondy yang sejak meeting tak bersuara malah jaga jarak dengannya. "Jangan takut seperti itu, kakakku tidak akan marah lagi kok."


Mondy terkekeh sekilas. "Kakakmu menakutkan, aku harus jaga jarak demi pekerjaan aman Nao."


"Lupakan, itu tak akan terjadi lagi." Yakin Nao.


"Baiklah." Mondy tak khawatir lagi untuk jaga jarak.


Interaksi keduanya terpantau dari layar cctv oleh Ares, pria tampan itu hanya mengetuk-ngetuk jarinya pada meja.


.


"Kumohon jangan berpisah cukup hubungan Nao dan Ares saja yang berakhir demi keluarga ini." Ujar Andrew penuh penekanan di hadapan Sarah dan Agam.


Agam tampak sedikit terkejut namun mama Sarah hanya menunduk menghela nafas berat.


"Berakhir?."


"Ya, Ares sendiri yang mengatakannya padaku. Apa setelah ini kalian merasa lega?." Sengaja Andrew seraya menatap intens orang tuanya.


Tidak ada yang bersuara tentu saja dapat ditebak mereka berdua merasa bersalah, apalagi Sarah.


"Di satu sisi mama lega tapi pada sisi lain hubungan keluarga ini tidak akan se-harmonis dulu, namun semoga saja mereka dapat berdamai kembali." Timpal Sarah penuh harap.


Andrew yang merasa itu mustahil hanya diam saja, karena masih merasa kesal saja ketika orang tua tak bisa mengalah untuk anak-anak mereka.

__ADS_1


Beda ayah dan ibu ternyata se-berpengaruh itu.


.


Sore hari..


Di kantor polisi


Ishak tak bisa berkata-kata lagi saat pihak keamanan melarang mereka untuk sekedar menjenguk Angel.


"Kita sudah meminta pengajuan kepada Ares sendiri, masa gak boleh masuk pak!?." Sewot Maya.


"Tidak ada konfirmasi dari beliau itu tandanya tak ada perubahan bu, kalian bisa letakkan kiriman untuk tahanan nanti kita antarkan. Sekarang pulanglah." Jawab polisi.


"Tapi pak!....


Ishak membawa istrinya untuk pulang. "Sudah, mungkin Ares tak mengijinkannya."


Maya cemberut tak terima. "Pasti Nao tak menyampaikan maksudmu dengan benar!."


"Putriku tidak seperti itu." Tegas Ishak, pikirannya menerawang kemana-mana. "Lagian Angel melakukan kesalahan yang begitu fatal bu."


"Haish!." Maya ingin sekali melihat keadaan Angel.


"Aku akan menemui Ares dan bicara langsung dengannya." Lirih Ishak serius.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2