
Sesampainya di ruang kerja..
Ares mendapati Tessa yang sudah menunggunya dari tadi, Ben memijit keningnya karena Tessa memang kukuh.
"Ares!." Dengan senyum sumringah Tessa menghampiri Ares langsung menggandeng tangan pria itu. "Selamat ya atas kemenangan kemarin."
"Hmmm." Balas singkat Ares seraya melepaskan tangannya dari genggaman wanita itu.
Tessa menghela nafas berat, selama ia di sini tidak ada yang berubah sikap Ares terhadapnya tetap dingin seperti biasa. Meluluhkan hati pria itu benar-benar menguras mental.
"Hari ini hari terakhirku di Airoo, kontrak kerja kita juga sudah berakhir." Ujar Tessa. "Sebelum pergi aku ingin bertanya dan kau harap jawab dengan jujur agar hatiku tenang Ares."
"Katakan saja."
"Mengenai wanita yang kau cintai siapa dia sebenarnya? apa aku juga kenal dengannya?." Lanjut Tessa.
Ares menoleh menatap Tessa. "Adikku, Naomy Laura Gilbert."
Mendengar itu Tessa tak berkutik tubuhnya mematung seolah tak percaya. "Apa!??."
"Kau juga sudah tahu kita saudara tiri jadi kita menyembunyikan hubungan itu karena alasan tersebut." Lanjut Ares memberi pemahaman.
Tessa syok ini diluar dugaan, mengingat dulu pernah meminta bantuan pada Nao untuk mendekati Ares taunya malah Nao sendiri kekasihnya.
Pantas saja Ares sangat sensitif ketika Nao selama di perusahaan berdekatan dengan pria manapun termasuk Mondy.
"Aku sudah menjawab jujur, silahkan pergi terimakasih sudah bekerjasama dengan Airoo company titip salam ku untuk ayahmu Tessa." Lanjut Ares seraya berjalan menuju kursi kebesaran.
Dengan perasaan hancur Tessa mau tak mau melangkah meninggalkan ruangan itu. "Oke sampai jumpa lagi Ares."
"Ya."
.
.
Restoran 1
__ADS_1
"Pak ada yang ingin bertemu." Lapor seorang anak buah yang memasuki ruang kerja Ishak.
"Siapa?." Ishak fokus mendata dengan kacamata di hidung.
"Tuan Agam Leonardgo." Balasnya.
Mendengar nama itu Ishak menoleh. "Bilang saja padanya aku sibuk!."
Tok tok tok!
Agam lebih dulu mengetuk pintu ruang kerja Ishak. "Kau pikir aku tak sibuk juga?."
Mendapati itu Ishak memberi kode pada anak buahnya untuk berlalu. "Pergilah."
"Baik pak."
Tanpa disuruh Agam duduk berhadapan dengan Ishak.
Ishak menatap tajam wajah Agam. "Apa seorang direktur tak memiliki sopan santun!?."
Agam menghela nafas panjang. "Ini kau, ayah dari putri yang anakku cintai."
"Katakan apa maksud kedatanganmu kemari? jangan membuatku mengusir!." Timpal Ishak tegas.
"Kesampingkan dulu rasa benci-mu terhadapku, ini tentang anak kita yang tanpa diduga telah memiliki perasaan yang sama Ishak." Mulai Agam serius.
Ishak tertawa terbahak-bahak. "Kau menginginkanku untuk merestui mereka ha? tidak akan pernah Agam! anakmu tak bisa mengambil anakku."
"Jangan egois! sebagai gantinya kau bisa membenciku sampai kapanpun."
"Kau yang untung berarti?." Sindir Ishak. "Anak dan bapak sama saja!."
Agam menghela nafas kasar, sebisa mungkin ia akan menahan amarahnya untuk tidak terbawa emosi. Ia akan melakukan ini demi kebaikan bersama. "Aku memang merebut istrimu dia juga memilihku karena kau yang salah duluan."
"Oke apa yang harus ku lakukan? niatku baik Ishak. Kau meminta Sarah untuk kembali juga itu tidak mungkin kau sudah beristri, lalu sampai kapan benci itu akan terus kau genggam? sampai Nao benar-benar nekat dan meninggalkanmu?." Lanjut Agam penuh penekanan.
Ishak terdiam dengan ucapan pria di hadapannya, hatinya bergemuruh.
__ADS_1
"Semua sudah berlalu tidak ada salahnya kita berdamai demi anak-anak juga."
Ishak memijit keningnya. Rasa benci, gundah, takut, tak terima, bercampur jadi satu. "Pergilah!.."
Agam menggerutu kesal, ia datang jauh-jauh hanya dapat respon seperti itu. "Oke aku memang harus pergi sebelum tinju-mu itu melayang, namun ingat kata-kataku Ishak anak-anak tidak ada hubungannya dengan masalah kita!."
Setelah berucap Agam berlalu pergi meninggalkan ruang kerja itu.
Perkataan Agam masih terbayang-bayang dalam benak Ishak, namun rasa benci Ishak malah semakin menjadi mengingat kejadian di masa lalu saat Sarah memilih Agam.
"Aaarrrgh!." Pekik Ishak frustasi, ia juga tak mau jika Nao enggan menemuinya lagi karena tak mendapat restu. "Anak sama bapak sama saja, sama-sama pintar merayu!."
Ini diluar kendali Ishak, ia sepertinya butuh waktu untuk mengambil keputusan.
.
Kampus
"Yeay!!!." Sorak Nao dan Anna keduanya tampak bahagia. "Kita lulus!."
Mereka kini hanya tinggal menunggu jadwal wisuda saja yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.
Banyak sekali buket yang diterima oleh mereka dari teman yang lain juga orang terdekat sebagai ucapan selamat.
Namun tiba-tiba Nao mundur saat bunga-bunga itu akan diberikan padanya, seketika ia tak menyukai aromanya yang membuat Nao berkali-kali mengelus dada.
"Ada apa Na?." Anna tampak keheranan.
Nao menggeleng. "Aku harus ke kamar mandi, tunggu di sini ya."
Anna menyaksikan sahabatnya yang berlari kecil. "Oke."
Sesampainya di kamar mandi Nao memuntahkan isi perutnya. "Hoeekk!!."
Pusing, mual yang Nao rasakan. Ia terengah-engah setelah isi perutnya keluar. "Untung saja sidang selesai, tapi ada apa denganku? tidak mungkin kan?."
.
__ADS_1
TBC
Ayo jejaknya tinggalkan ya like di setiap episode, juga ketik komentar positifnya untuk membuat semangat thornim naik..🤗