
"Kau belum tidur?." Tanya Maya yang terbangun karena Ishak tak bisa diam bolak-balik badan kesana-kemari.
"Aduh Bu." Ishak merubah posisi menjadi duduk. "Tak biasanya perasaan ayah seperti saat ini kalut gak jelas."
"Memangnya apa yang ayah pikirkan?." Timpal Maya lagi.
"Nao.."
Maya mengerutkan kening. "Apa dia pulang malam sehingga kau tak bisa tidur karena khawatir?."
"Bukan, Nao jadi menginap di sini tapi ayah kalut terus memikirkannya bu." Potong Ishak resah.
"Apa dia membuat keputusan yang membuat kau tak bisa tidur begini?."
Ishak menggeleng. "Tidak ada yang terjadi, hanya saja ayah kepikiran anak itu terus."
"Mau kemana?." Lanjut Maya saat Ishak bangun dari tidurnya.
"Melihat Nao."
"Dia pasti sudah tidur."
Ishak tak peduli ia hanya ingin melihat putrinya saja untuk memastikan.
Setelah keluar kamar Ishak menatap sekeliling ruang tengah yang dimana kamar-kamar berjajar.
Pria paruh baya itu melihat Daniel keluar dari kamarnya menuju dapur dengan muka bantal. "Daniel?."
"Ya om?." Daniel mengucek-ucek mata. "Belum tidur? aku haus om."
"Minumlah, om hanya belum ngantuk saja." Balas singkat Ishak.
Daniel pun melanjutkan langkah ke dapur.
Ishak berniat melihat Ares terlebih dahulu sebelum melihat putrinya, karena pintu kamar tamu terbuka oleh Daniel, Ishak dapat membayangkan jika Ares kini sedang tidur terlelap seperti kebo.
Namun...
Kamar tamu itu kosong hanya selimut yang jatuh dilantai. "Kemana bujang Francis itu?." Ishak mengerutkan keningnya seraya melangkah masuk untuk mengecek kamar mandi, mungkin Ares di sana.
__ADS_1
Tapi setelah dilihat, kamar mandi juga kosong.
Perasaan Ishak mulai tak tenang ketika keberadaan Ares tak diketahui.
"Apa sedang mencari sesuatu om?." Tanya Daniel yang sudah kembali.
"Dimana Ares!?."
Daniel malah ikut celingak-celinguk melihat sekeliling. "Sebelum aku tidur dia masih duduk di sofa, kemana dia sekarang?."
"Apa Ares pulang tanpa pamit dulu om?." Timpal Daniel lagi yang kebingungan juga.
Tanpa bicara lagi Ishak langsung berjalan ke arah teras depan, melihat halaman rumahnya. Jika Ares pulang kenapa mobilnya masih terparkir di sana? berarti pria itu masih ada di rumah Ishak, tapi di mana dia?.
Mengingat sesuatu seketika Ishak mengepalkan tangan kuat, rahangnya mengeras. Ia balik badan melangkah cepat menuju kamar putrinya Nao. "Tidak mungkin! Yang benar saja, awas jika feeling ku benar Leonardgo!! tak akan ku ampuni kau!."
Tok tok tok!!
"Nao!??." Panggil Ishak.
Tok tok tok!!
Daniel merasa heran seraya menghampiri Ishak. "Bukankah om mencari Ares? kenapa membangunkan Nao?."
"Diamlah!."
Daniel menggaruk kepala tak gatal, namun ia kini tahu maksud Ishak.
Tok tok tok!
"Naomy buka dulu pintunya!." Ujar Ishak lagi. "Kenapa lama sekali?."
"Nao!.."
Cklek!...
Pintu dibuka dari dalam, tampak Nao menggeliat seraya menutup mulutnya yang menguap. "Iya yah kenapa?."
Ditatapnya tajam tubuh Nao dari ujung kepala hingga ujung kaki, Nao tampak ngantuk berat dengan menggunakan baju tidur Pororo.
__ADS_1
"Di mana Ares!."
"Ha??." Polos Nao seolah tak mengerti.
Ishak mendorong pintu kamar Nao seraya masuk ke dalam, ia cari-cari bujang Francis itu kesana kemari tanpa terkecuali.
Kamar mandi, lemari, bahkan isi guling sekalipun takutnya Ares bersembunyi di sana. Tapi ya tentu tidak ada.
"Ayah ini kenapa?." Ujar Nao.
"Ares tak ada, ayah kira dia di sini bersamamu." Balas Ishak merasa lega. "Lanjutkan tidurmu maaf ayah mengganggu."
Setelah itu Ishak kembali keluar dari kamar putrinya.
Kaki Nao seketika lemas ia menjatuhkan diri dari balik pintu kamar, dielus-elus dada itu agar bisa kembali tenang. "Menegangkan sekali."
Untungnya setelah istirahat dari pergulatan panas, mereka berdua mengenakan pakaian kembali.
Ares mengecup pipi dan bibir Nao sebelum kabur lewat jendela. "Good night sweetie."
Barulah Nao mempersiapkan diri untuk akting yang maksimal, walaupun ia tegang juga panik takut Ishak menyadarinya.
Kini Nao tenang setelah kejadian barusan, ia kembali teringat adegan panas yang dilakukannya dengan Ares. "Dia benar-benar tak akan melepaskan ku."
"Haish lupakan sekarang ayo tidur!." Nao kembali masuk ke dalam selimut dengan wajah tersipu.
Sementara itu...
Ishak menatap jengkel pada Ares yang baru masuk ke dalam rumah penuh keringat, tampak ia sehabis lari malam mengelilingi kediaman Ishak. "Kau ini yang benar saja Ares!."
"Ayah tahu jika aku atlet, dan ini bagus." Timpalnya.
"Terserah saja, ku kira kau menyelinap masuk ke dalam kamar putriku! sekarang istirahatlah!." Ujar Ishak dengan tegas.
Ares mengangguk seraya balik badan menuju kamarnya, tanpa sepengetahuan Ishak Ares menggigit bibir bawahnya menyunggingkan senyum manis bak sedang kasmaran. "Aku begitu nakal."
.
TBC
__ADS_1