
.
Suasana yang semula riuh kini tenang kembali, Ben mengurus semuanya sekaligus menegaskan kepada staf juga yang menyaksikan untuk tidak berasumsi lain atau pekerjaan taruhannya.
Sementara Mondy dibawa ke ruang UKS perusahaan untuk mengobati maha karya dari bogeman Ares.
Di ruang presdir Nao dan Ares duduk, Agam menatap kedua anaknya itu dengan tatapan jengkel juga kesal.
"Untuk hanya sekedar ingin menjaga Nao dari pria lain itu sangat berlebihan Ares, namamu pasti tercoreng karena telah bersikap kasar terhadap karyawan!." Ujar Agam.
Ares dan Nao yang masih marah dengan diri masing-masing, hanya saling melemparkan tatapan dingin.
"Aku hanya merasa pria itu tidak baik untuk adikku, tenang saja ini terakhir kali dan akan ku datangi Mondy." Lanjut Ares mengakui kesalahannya.
"Tidak harus se-cemburu itu padahal dia sendiri lebih sering dekat dengan ulet keket!." Batin Nao masih kesal.
"Oke papa percaya padamu jangan membuat ulah lagi, dan jangan sampai kalian tidak akur seperti sekarang." Sindir Agam menyadari sorot mata kedua anaknya.
Mau tak mau Nao dan Ares berdiri seraya bersalaman setidaknya Agam tak mencemaskan hubungan mereka.
Ada rasa sakit dalam hati Ares saat melihat sorot mata Nao. "Lupakan yang tadi, profesional lah dalam bekerja!."
"Iya." Jawab singkat Nao.
Ia tak mau lama-lama di sana dan memilih pergi duluan meninggalkan Agam dan Ares.
Setibanya di ruang kerja Ares memijit pusing kening, dua kancing kemeja ia buka.
"Tahan bro kau tak harus seperti itu yang ada Nao malah takut, untung saja sudah ku atasi walaupun orang-orang akan berpikiran aneh." Ujar Ben.
"Nao membuatku hilang kendali Ben kau tahu itu, aku tak mau ada yang mendekati wanitaku!."
"Tenang setelah hubungan kalian go publik tidak ada yang berani mendekati Nao lagi, kau harus tahan ingat hubungan kalian yang saat ini disembunyikan." Timpal Ben menyadarkan.
"Cih!." Decak Ares masih emosi juga cemburu. "Nao saat ini pasti masih marah."
"Kalian bisa bicara baik-baik nanti."
__ADS_1
"Hmmm."
Dalam waktu bersamaan Tessa tiba-tiba masuk ke sana. "Ares.."
"Kau juga harus peka penyebab Nao semakin marah karena wanita ini juga." Bisik Ben.
Sebenarnya Ares sudah menduganya hanya saja ia tak bisa menolak kerjasama Agam juga ayah Tessa.
"Tidak ada waktu untuk kita bicara aku akan menemui Mondy." Sergah Ares yang mengambil jasnya seraya berlalu pergi.
"What!??? aku bahkan belum bicara." Kesal Tessa yang tak dihiraukan.
"Bukankah pekerjaanmu juga sudah selesai dua jam yang lalu kenapa masih di sini? pulanglah jangan mengganggu Ares!." Timpal Ben seraya pergi menyusul sahabatnya.
Tessa menggerutu kesal ia menghentakkan kakinya. "Sial Ben!."
***
Pukul 19:00 malam...
Nao yang hendak menancap gas mobilnya untuk pulang, meraih handphone saat mendapati pesan masuk.
Nao membuang nafas perlahan, ia pun menancap gas mobilnya menuju apartemen Ares. Namanya masalah harus diselesaikan walaupun Nao masih emosi juga cemburu.
Hanya 10 menit Nao tiba, ia mengetuk pintu itu dan tak lama terbuka.
"Masuk!." Suruh Ares.
Tanpa berucap Nao pun masuk ke dalam.
Nao menatap sekeliling apartemen megah Ares.
"Nao..."
"Ares langsung saja aku sangat membenci caramu yang menyelesaikan semuanya dengan kekerasan! apa yang kau lakukan? sedangkan kau sendiri banyak menghabiskan waktu dengan Tessa." Kecam Nao.
"Dibalik itu semua kau sendiri memberi celah untuk pria lain agar masuk! kau tahu aku dengan wanita itu hanya demi pekerjaan?." Potong Ares dengan langkah terus maju menyudutkan posisi Nao.
__ADS_1
"Lantas denganku apa? Mondy juga rekan kerja!." Balas Nao yang terus mundur.
Tidak ada yang mau mengalah diantara mereka berdua.
"Aku tak tahu kau membuatku gila Nao, sebelumnya aku tak seperti ini dan kau harus tanggung jawab!." Ares menarik leher Nao dengan paksa, pria itu menyatukan bibir keduanya mencium dengan rakus.
"Mmmhh!.." Nao sempat berontak namun tenaganya kalah telak.
Tanpa melepas pagutan panas tangan kekar Ares menarik rok sepaha kekasihnya, meremas bagian bawah yang menggoda iman itu.
"Ares kauuhhh!..."
Saat dirinya dikuasai amarah juga nafsu tentunya Ares tak bisa menahan diri, pria tampan itu menjatuhkan tubuh Nao ke atas kasur menindihnya dan kembali menggerayangi tubuh indah itu dengan liar.
Nao berusaha menahan d*sahannya namun tetap saja lolos, Ares melucuti pakaian Nao hingga tubuh sexy itu hanya menyisakan c*lana dalam. Nao benar-benar tak bisa menolak sentuhan Ares.
"I hate you Ares Leonardgo." Bisik Nao seraya menggigit telinga Ares.
Sudut bibir Ares terangkat, mata keduanya saling tatap dengan gairah masing-masing yang sudah meminta lebih. Nao dapat merasakan milik Ares yang terus menggeseknya.
Sementara bibir juga tangan Ares tak diam menjamah dua gundukan kencang yang indah nan sexy itu. "Teruslah membenciku sweetie agar seterusnya seperti ini!."
Keduanya kembali berciuman menyesap dalam menyatukan indra perasa masing-masing, tangan Ares melepas penutup dari inti kenikmatan dunia sang kekasih.
Ares jil*t jarinya lalu ia arahkan pada milik Naomy, wanita cantik itu tegang menggigit bibir bawahnya. "A-ah.. Aressh.."
"Jangan digigit, gigit bibirku saja." Ares kembali melahap rakus bibir Nao.
"I hate you!." Kecam Nao kesekian kalinya saat tubuhnya menggelinjang hebat ketika mencapai puncak akan ulah tangan Ares.
Ares mengembangkan senyum manis tat kala melihat Nao terengah-engah. "Yeah, i hate you too baby." Tangan kekar Ares mengambil pengaman dari atas nakas, ia gigit bungkusan itu dan meniupkan-nya pada wajah cantik Nao.
.
TBC
Hihi ngeri ya kalo cemburu sama nafsu bercampur jadi satu.. 🤫ðŸ¤
__ADS_1
Ayo jangan lupa tinggalkan jejaknya ya sebagai dukungan buat othor, kasih rate nya jangan setengah-setengah sedih jadinya thornim.😣
Sehat-sehat epribadihhh!✨😉