Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 9


__ADS_3

Emily mengurunkan niatnya turun dari mobil"ada apa?". tanya Emily, "Aku... ". kata Syarif terhenti, "Aku ingin bilang..." lagi-lagi Syarif menggantung katanya. "bilang apa??". tanya Emily penasaran. Saat mau melanjutkan katanya ponsel Syarif berbunyi di lihatnya tertera nama Joy dia pun mengangkat telephon


"okey tunggu gue di markas". Kata Syarif lalu menutup telephon dari Joy, dia melirik Emily yang menatapnya. Syarif pun menatap Emily balik seraya berkata "Terimakasih". Emily bingung "terimakasi, jadi kamu ingin bilang terimakasih". kata emily. 'bodohnya kamu Emil, aku kira dia mau bilang cinta sama aku' Batin Emily mendumel. Syarif mengangguk dan melanjutkan ungkapannya "Ya, karna kamu sudah bantu aku". Emily mengangguk "sama-sama, kalau begitu aku masuk ke rumah dulu ya" kata Emily keluar mobil, Syarif mengangguk. di dalam mobil Syarif mengerutuki dirinya karna dia tidak bisa jujur dengan perasaanya.


***

__ADS_1


Dirumah Najwa dan ibunya di buwat bingung karna ada paket untuk Najwa tapi tidak ada nama pengirimnya. "Buk, ini paket apaan sih, kok gak ada pengirimnya sih" keluh Najwa. "Lha Yo Ra ngerti tho nduk ibuk, tapi seng 2 Iki hadiah sakeng kakakmu kale nak Emily". (ya ibuk tidak ngerti, tapi kalau yang 2 ini hadiah dari kakakmu dan nak Emil)kata ibu. najwa mengambil 2 kotak yang di berikan oleh ibu, "Najwa buka ya buk". kata Najwa dengar binar. ibu mengangguk, Najwa pun membuka hadiah dari Syarif sebuah Bros cantik, Najwa tersenyum senang. lalu membuka hadiah dari Emily Najwa tersenyum hadiah dari emily adalah pasmina dan ada kertas bertuliskan 'hadiah dariku tak bernilai tapi aku harap kamu memakainya bersama dengan hadiah dari kakakmu, selamat ulang tahun Najwa'. Najwa memberikan kertas itu pada ibu, ibu pun membacanya tersenyum. " mereka terlihat saling menyukai". kata ibu pada Najwa. Najwa mengangangguk membenarkan kata ibu. " tapi Buk, mereka tidak seiman". lirih Najwa. Ibu terdiam sejenak dan kembali berkata "Jika mereka jodoh pasti bersatu".


***


Di rumah sakit Arya menunggu mamanya sendiri, karna ayahnya Masi di kantor ada tamu penting. Arya dengan telaten menyuapi mamanya bubur sampai habis. "Arya, kapan kamu Melamar Najwa nak??" tanya mamanya. "Najwa Masi kuliah ma, biar Najwa selesaikan kuliahnya dulu ma". jawab Arya. " kalian itu di jodohkan oleh ayahmu dan ayah Najwa, aku dan Mbak Aisyah Maisyaroh ibu Najwa hanya mengikuti ayah kalian aja". jelas mama Arya. "Arya tau ma, tapi Arya sudah bilang pada Syarif kalau Arya akan melamar Najwa setelah lulus". sela Arya. "mama takut kalau Najwa keburu di lamar orang lain, Najwa tidak tahu kalau kalian di jodohkan" lirih mama Arya. "ma jika Najwa jodoh Arya pasti kita akan bersama, mama jangan khawatir ya," Kata Arya menenangkan mamanya, " Tapi mama pengen cucu, menikahla dengan Najwa, kalian cocok" pinta mama Arya. Arya mengangguk " doakan ya ma". kata Arya. " doa mama untukmu nak" jelas mama.

__ADS_1


***


Di dalam mobil Joy menatap Syarif kesal, Syarif yang dari tadi di tatap risi "Ngapain lu lihatin gue terus". kesal Syarif. "gue itu heran sama lu, katanya lu Uda gak mau tau dengan dunia gelap". tanya Joy kesal. "Emang". singkat Syarif. "So,kenapa lu mau bantu Daddy". tanya Joy lagi. "Gue mau menegakkan keadilan" jawab Syarif. "Untuk Uncle" kata Joy. "Tapi sulit,kita kan sudah berkali-kali mencoba. uncle seolah terima atas tuduhan itu" Lanjut Joy. "Ada yang mengganjal Joy, bang Jacob sepertinya dia menyembunyikan sesuatu". kata Syarif, Joy menghela nafas kasar.


***

__ADS_1


Najwa dan ibu menunggu kedatangan Syarif guna untuk menanyakan kabar tentang ibunya Arya. Syarif membuka pintu seraya mengucapkan salam, "assalamualaikum...". Sarif masuk ke rumah. "waalaikum salam" jawab Najwa dan ibu bersamaan. Syarif menuju meja makan karna dia sudah di tunggu Najwa dan ibu untuk makan malam. "Kak, gimana kabar Tante?" tanya Najwa. Syarif terdiam sejenak. "Kata Arya sudah mendingan" jawab Syarif. "Besok antar ibuk dan Najwa menjenguk Tantemu ya nak!" pinta ibu. Syarif mengangguk. mereka melanjutkan makan malam.


Emily di kamar merenung akan hari yang tadi dia lalui, dia mengunjungi pondok yang membuat hatinya tentram, melihat anak-anak yang menghafal ayat-ayat suci yang menggetarkan jiwanya, berbeda dengan dia yang saat berdoa sembahyang di kuil hatinya tidak seperti ketika melihat orang sholat dan mendengar ayat-ayat suci Al Qur'an. "Ada apa denganku? Apa ini semua karna rasaku pada Syarif, hingga keinginanku untuk memeluk agamanya, apa yang harus ku lakukan tuhan?? apakah aku harus mencari jati diriku??" guman Emily sendiri di dalam kamar. emily mengambil tasnya dia mengambil patung Budha yang di berikan ayahnya saat ulang tahunnya yang ke 20 sejak saat itu patung itu selalu dia bawah di tasnya kemanapun dia pergi. "ayah, ibu, maafkan Emily, apakah Emily akan seperti bang Ale menjadi mualaf. kalian pasti sedih, aku harus gimana??". Emily gundah. pikirannya terasa rumit apakah karna rasanya pada Syarif saja hingga dia mau mengenal Islam, dan bagaimana kalau Syarif tidak mencintainya, apakah keinginan untuk mengenal Islam Masi ada dalam hatinya.


__ADS_2