Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 46


__ADS_3

"Sayang, kamu kenapa?", tanya Syarif yang melihat Emily gusar dari tadi, Emily mendongak pada Syarif, "Gak apa-apa kok mas", jawab Emily singkat, "Apakah kamu Masih mikirin tentang omongan orang?", Syarif berpikir Emily gusar karna mikirin tadi ada seseorang bertanya tentang anak pada Syarif dan Emily, karna sudah 2 tahun mereka menikah belum juga mempunyai anak, terkadang Emily sedih karna memikirkan hal itu, "Heemmm", Emily awalnya sukar bukan karna hal itu, tapi Syarif mengingatkannya menjadi hatinya tambah sedih. "sayang, mungkin Allah sedang menguji seberapa sabar kita menanti, dan kamu tahu kan di luar bahkan ada yang menikah lebih dari 10 tahun juga belum punya anak, aku menyayangimu sayang", Syarif mendekap Emily, tanpa terasa butiran air mata membasahi pipi Emily, segera Emily menyekahnya. Hening sejenak. "Mas, jika aku tidak bisa hamil apa kamu akan tetap sayang pada ku?", lirih Emily memecah keheningan. "sayang mas padamu tidak akan pernah pudar sayang", Emily menghela nafas, "walaupun aku tidak bisa memberikan keturunan mas?", syarif menatap Emily, "mas akan sabar menungguh sayang, jika Allah tidak memberikan keturunan pada kita maka mas ikhlas, mas tidak akan pernah membagi cinta mas pada siapapun". tegas Syarif.


Di rumah yang sama tapi di kamar berbeda dua insan memadu kasih, beberapa tahun Arya bersabar menungguh hari dimana dia dan najwa telah khalal untuknya, selesai sholat Isyak mereka berdua melanjutkan dengan sholat Sunnah 2 rakaat, mereka berdua mengagumi masing-masing saling menatap dan menyelami diri, begitu sempurna ciptaan maha kuasa yang telah menjodohkan mereka itulah kata yang tepat. "Emm.. Honney.. ", panggil Arya lirih, najwa bergeming dia tidak mengerti siapa yang di maksud Arya, "Honney..", panggil Arya lagi, Najwa menatap Arya, "kak Arya panggil siapa?". tanya Najwa polos. Arya tersenyum miris, "Ya panggil kamu dong", "kenapa panggilnya bukan namaku kak?", tanya Najwa polos. "Kan kamu sudah jadi istriku, jadi mulai sekarang aku panggil kamu Honney,". jelas Arya, Blusss... merah merona pipi Najwa. "Kamu kenapa?", tanya Arya melihat wajah Najwa, seketika jantung Najwa berdegup kencan, apalagi Arya mendekat dan meraih wajah Najwa, jantung Najwa serasa akan terbang. "wajah kamu kok merah? kamu sakit?", Najwa menunduk malu sambil menggeleng, "kenapa menunduk, lihatlah aku, aku sekarang sudah khalal untuk kamu lihat Honney". lirih Arya seraya memegang lembut dagu Najwa agar menatapnya. tatapan mereka bertemu saling mengunci dan saling mengagumi hasrat dalam diri Arya sudah tidak bisa tertahan lagi, bibir ranum milik Najwa memancing hasratnya untuk segera menikmati, di ciumnya bibir itu dan di lumatnya dengan lembut, awalnya Najwa hanya diam dengan tingkah suaminya, tapi lama kelamaan dia pun terbuai dengan buaian yang di berikan Arya, kedua insan itu kini telah memaduh kasih, menyatukan diri dan menjalankan ibadah yang sakral tak lupa doa mereka cantumkan dalam hati, saat mencapai puncak kenikmatan tak lupa Arya memanjatkan doa "Allahummaj'alnuthfatanaa dzurriyyatan thayyibah". Arya mencium kening Najwa dan membaringkan tubuhnya di samping Najwa lalu dia tak lupa bersyukur seraya berdoa "Alhamdu lillaahi dzdzii khalaqa minal maa i basyaraa".


***

__ADS_1


Menjelang subuh ibu bersiap memasak ibu hendak berkutip di dapur, ibu sengaja memasak lebih awal karna rencananya Najwa dan Arya akan pindah ke rumah orang tua Arya. Arya dan Najwa sudah bangun ketika bunyi talkim di masjid, Arya bergegas mandi mensucikan diri dari hadas besar, kemudian dia sholat subuh berjamaah di masjid, "Honney, maafkan aku ya! apa masih sakit?", Arya mendekati Najwa yang masih berbaring di tempat tidur, Najwa tersenyum, "gak apa-apa kok kak, kak Arya cepetan pergi ke masjid bentar lagi adzan", "sayang, kamu mandinya nanti setelah aku pulang dari masjid okey", Arya beranjak pergi ke masjid sementara Najwa masih terdiam di tempat tidur, mengingat kejadian tadi malam dimana dia dan Arya telah terbuai dalam kenikmatan surga dunia, terukir senyum di bibirnya.


Ceklek.. pintu kamar Syarif terbuka bertepatan Arya lewat di depan kamar Syarif. "Arya, kamu mau ke masjid juga?", tanya Syarif, Arya hanya mengangguk, "ayo kebetulan, kita pergi bareng", ajak Syarif, Arya hanya mengikuti di belakang kakak iparnya, sampai di depan dapur suara adzan terdengar, ibu yang mendengar suara adzan segera menghentikan aktifitasnya bergegas keluar dari dapur. "eh,, kalian, mau jama'ah di masjid?", tanya ibu pada anak dan menantunya, "iya buk", jawab Arya, sementara Syarif hanya mengangguk, "ya sudah, hati-hati ya!", ibu beranjak masuk kamar mandi mengambil air wudhu, Syarif dan Arya pun bergegas ke masjid.


***

__ADS_1


"Tuhan, aku mohon ikhlaskan hatiku menerima semua ini, walaupun cintaku padanya tidak bersatu tapi aku akan selalu menjaganya", lirih Joy berdiri di balkon apartemenya. "aku akan kembali Najwa untuk melindungimu", tegas Joy, ponsel yang di genggam dia pun mendial no. seseorang dan terhubung sama pemilik no. "apakah ada informasi yang belum aku mengerti?", tanya Joy, "sementara ini masih aman, tapi akan aku pantau terus seseorang yang bernama Gerry itu sepertinya ada hal yang aneh", Joy menghela nafas panjang, "awasi terus dia", pinta Joy, "oke".


***


Pagi menjelang, ibu menata hidangan untuk sarapan di meja, di bantu Emily, Najwa dan Arya menghampiri mereka dan bergabung untuk sarapan bersama, sementara Syarif hari ini akan ke bengkel menggantikan Arya yang cuti, Syarif berjalan menuju meja makan sudah rapi dengan pakaian kerjanya, "Mas, ayo kita sarapan", ajak Emily, Syarif mengangguk, dan duduk di samping Emily, Emily mengambilkan nasi sama telur goreng untuk Syarif, sementara Najwa mengambilkan untuk Arya, "kalian beneran mau pindah sekarang?" tanya ibu pada Arya dan najwa, "iya buk, mama sudah menanti", jelas Arya, ibu nampak sedih, "ibuk, Najwa akan setiap hari mampir kesini", lanjut Najwa, ibu mendongak menatap Najwa, "nduk, kamu sekarang sudah menjadi seorang istri, jadi kamu harus menganut imammu nduk", Najwa mengangguk, "Najwa akan selalu berdoa supaya imam Najwa mengerti Najwa", Najwa melirik Arya, "buk, kita akan selalu berkunjung jadi ibuk jangan khawatir", ibu pun mengerti. Syarif dan Emily hanya diam mendengarkan saja, ada rasa sedih Karna Najwa akan pindah tapi mereka sadar Najwa sudah besar dan akan pergi mengikuti suaminya.

__ADS_1


__ADS_2