
'Maaf kak, baru baca pesan kak Arya, ada apa kak', Arya membaca pesan Najwa di lihatnya sudah sore, "kamu tadi ngapain aja Najwa sampai jam 5 kamu baru membalas pesanku" Arya berguman sendiri, 'apa kamu sibuk nanti malam?', pesan Arya terkirim, 'ya kak, ada apa', balas Najwa, 'aku mau ke rumahmu bosen di rumah sendiri', Arya menatap ponselnya menungguh balasan dari Najwa, 10 menit kemudian baru di balas, 'Ting', bunyi notivikasi pesan masuk, buru-buru Arya membuka pesan balasan dari Najwa, 'maaf kak, mungkin aku pulang agak telat, tapi dirumah ada ibuk, kak Arya ke rumah aja dulu gak apa-apa kak', Arya mendengus kesal, "sesibuk apa sih kamu Najwa, kenapa tadi sama Joy" Arya pun menghubungi Najwa, "Assalamualaikum" salam Najwa dari sebrang, "Waalaikum salam, najwa kamu dimana?", sarkas Arya, "Najwa di rumah umi Mariya kak" Arya merasa kesal, benar yang dia duga Najwa bersama Joy, "tumben kamu ke rumah Joy" ketus Arya, "ya kak, tadi Najwa bantuin mas Joy, lalu mampir ke rumahnya mas Joy", jawaban Najwa dari sebrang, "Owwh", ungkap Arya males, "katanya kak Arya mau kerumah ya? kak Arya ke rumah aja ada ibuk, mungkin Najwa pulangnya agak malam karna umi menyuruh Najwa makan malam disini", Arya makin kesal, mungkin karna rasa cemburu pada Joy, "okey" di matikan ponselnya sepihak,
Najwa heran tumben Arya mengahiri panggilannya begitu saja tanpa salam, Joy memerhatikan Najwa dari dalam, umi mariya memanggil Joy, "Jo", Joy menghampiri umi Mariya, "ada apa mom?", umi Mariya menyuruh Joy memanggil Najwa, "Najwa mana? panggil dia, mommy mau ajak dia sholat jama'ah udah adzan magrib", Joy mengangguk dan menemui Najwa di teras depan rumah. "kak Arya kenapa ya, aneh", lirih Najwa, dia hendak balik ke dalam rumah, tapi dia di kagetkan dengan Joy yang berdiri di belakangnya. "Astagfirullah hal adzim", ungkap Najwa terkejut, "di panggil mommy di ajak sholat berjamaah" tukas Joy seraya kembali masuk ke dalam rumah, najwa hanya mengangguk dan mengekor di belakang Joy, "arya ya tadi yang nelfon?" tanya Joy, Najwa mengangguk, Joy tersenyum sinis, "mungkin dia cemburu", Najwa terdiam sejenak, "gak mungkin mas", jawab Najwa melanjutkan langkahnya, Joy berhenti mendadak mendengar penuturan Najwa, spontan Najwa kaget menabrak Joy dan mereka berbenturan Najwa oleng dia di tahan sama Joy, sesaat tatapan mereka bertemu, Joy terpana pada najwa, begitu juga dengan Najwa siapa yang tidak mengagumi Joy wajahnya yang tampan dan blasteran wanita manapun pasti kagum. Umi Mariya menungguh lama di ruang tengah, dia pun beranjak menemui Najwa dan Joy umi Mariya terhenti ketika melihat Joy dan Najwa yang layaknya berpelukan, umi Mariya tersenyum, "EHEM", Dehem umi Mariya menyadarkan mereka, Joy membantu Najwa duduk di sofa, Joy merasa gugup, "Maaf mas", lirih Najwa, "kamu tidak apa-apa", Joy takut kaki Najwa kenapa-napa, Joy reflek hendak menyentuh kaki Najwa untuk memeriksanya, tangan Joy di cegah Najwa, "Najwa gak apa-apa mas". Joy tersadar, Najwa bukanlah Selin yang mau di sentuh, "Maaf, mungkin aku terlalu khawatir kakimu kenapa-napa", lirih Joy, umi Mariya menghampiri mereka berdua, "kamu kenapa Najwa?", tanya umi Mariya lembut, "Gak kenapa-napa umi, tadi cuma kaget karna mas Joy berhenti mendadak, jadinya Najwa menabrak mas Joy", ungkap Najwa, umi Mariya melihat Joy sejenak dan duduk di samping Najwa, Joy bangun dari duduknya, "tapi kakimu tidak terkilir kan nak? sini biyar umi lihat", tatapan umi Mariya tertuju pada Joy, dan Joy sadar dia pun pergi meninggalkan mereka berdua, umi Mariya menyingkap gamis Najwa dan mengecek keadaan kaki Najwa, "umi, Najwa tidak apa-apa kok, tadi mas Joy membantu menyangga Najwa", Najwa tidak enak hati pada umi Mariya, "Kamu tahu nak, dari tatapan Jo, dia sangat khawatir, makanya umi mengecek kondisi kakimu nak", celah umi, "jujur sama umi, ada yang sakit gak?", Najwa menggeleng, umi Mariya tersenyum, "ya suda, kalau gitu kita sholat yuk", ajak umi Mariya, Najwa mengangguk dan di bantu umi Mariya untuk berdiri, "najwa bisa jalan sendiri umi", umi Mariya tersenyum, "kita sholat di musholah bawah aja" mereka menuju musholah yang terletak di samping dapur, Para ART memperhatikan majikannya dan Najwa, mereka memberi hormat pada Najwa dan umi Mariya.
__ADS_1
***
Malam yang indah, bertabur bintang-bintang dan cahaya rembulan yang memancarkan sinarnya langsung ke bumi, begitu elok lukisan tuhan yang terpancar di bumi ini, gebyuran ombak menjadi lagu Sahdu panorama alam yang harus kita syukuri. Suasana remang-remang dan pemandangan yang elok menjadi tempat dinner dua insan yang sudah sakral menjadi suami istri, mereka menikmati malam yang romantis dengan buaian kata-kata lembut yang terlontar dari Syarif, "ih, mas ternyata bisa gombal juga", Emily menanggapi kata kiasan dari Syarif, "tapi kamu suka kan?", Emily tersipu malu, waiters mengantarkan makanan mereka, mereka sengaja memesan ruang VIP, di restoran hotel milik Joy tersebut, waiters pun beranjak seusai meletakkan makanan yang mereka pesan di meja, "Sini mas suapin kamu", Emily mengangguk, dia pun membuka mulut dan Syarif menyuapinya, Emily hendak menyuapi Syarif namun tangan Syarif mencegahnya, "kamu habisin dulu, satu suapan lagi", Syarif menyuapi Emily pun mengangguk dan menerima suapan dari Syarif, "Alhamdulillah", Emily senang, dia pun mengucap syukur, "Mas gak makan?", tanya Emily, "Mas melihat kamu makan mas jadi kenyang", ungkap Syarif meneguk air putih, "ih,, mas ledekin aku ya", umpat Emily, Syarif tersenyum manis, "siapa yang ledekin si, Mas Mala seneng lho bisa menyuapi kamu dengan lahap", Emily tersipu malu, "mas, maafin aku ya?", lirih Emily, merasa bersalah, harusnya di Bali ini mereka gunakan untuk hooney moon, "maaf untuk apa?", tanya Syarif bingung, "harusnya kita disini kan_", kata Emily terhenti ketika jari telunjuk Syarif menutup mulut Emily, "kita disini untuk senang-senang sayang, jadi kamu jangan merasa bersalah, ini bukan salahmu", tutur lembut Syarif pada Emily, Emily pun mengangguk, "kita nikmati saja malam ini", Syarif mengecup lembut kening Emily. Selesai dinner mereka kembali ke kamar dan menikmati malam yang indah dengan buaian hangat nan lembut yang di berikan Syarif. Rasa itu seakan menuntut lebih, tapi Syarif sadar diri belum saatnya mereka melakukan Malam pertama, Syarif pun membelai lembut Emily, hingga dia tertidur, melihat Emily yang sudah tertidur Syarif beranjak, menenangkan gejolak yang ada di dirinya, dia pun menuju toilet dan mengambil wudlu dia melakukan sholat Isyak, dan melanjutkan dengan membaca musaf Al Qur'an.
__ADS_1
***
"Assalamualaikum", salam Arya mengetuk rumah ibu Syarif, "waalaikum salam", terdengar sautan dari dalam.
__ADS_1
Ceklek... ibu membuka pintu, "Eh, nak Arya, masuk", ajak ibu, Arya menyalami ibu, dan masuk bersama ibu, "Tumben kesini, apa ada masalah?", tanya ibu lembut, Arya duduk di sofa depan seraya menyalakan TV, "bosen aja bi, di rumah sendiri", ibu membuatkan teh untuk Arya, "Mamamu ada tugas di luar kota?", tanya ibu sambil mengaduk teh, "bibi tahu sendiri kan ayah dan mama sibuk dengan pekerjaan mereka", ungkap Arya, ibu memberikan teh pada Arya, Arya pun menerimanya, "apa yang membuatmu kesal?", tanya ibu duduk di samping Arya, "bibi paling mengerti Arya", Arya meminum teh nya, "Bi, Arya takut, Najwa gak suka sama Arya", ungkap Arya jujur, ibu merasa bingung dengan ungkapan Arya, "emang kamu tau dari mana?" tanya bibi, "aku takut aja bi, Najwa suka sama orang lain", tatapan Arya sendu, "Kamu ini cemburu ya, karna Najwa pergi sama Joy?", goda ibu, Arya mendengus, "bibi kok tahu", ibu menatap Arya, "bibi itu lebih mengerti kamu dari pada ibumu sendiri, bibi kan yang merawat kamu dari kecil", Arya sangat bersyukur karna ibu sangat menyayanginya, dari kecil dia sama Syarif berteman, apalagi jika mamanya pergi bekerja Arya selalu di titipkan di rumah ibu Aisyah, "Bibi, apa aku lamar Najwa aja biar gak ada yang deketin Najwa", tutur Arya ambigu, "Joy tadi izin sama bibi kalau boleh Najwa bantu mengajar anak-anak jalanan membaca dan menulis, karna Joy belum mendapatkan guru pengganti untuk mengajari anak-anak jalanan itu, dan kebetulan Najwa mau mengajari mereka, jika bibi tidak menginjinkan maka Joy akan mencari guru lagi, bibi ya izinin, kan demi kebaikan nak".Arya tertegun mendengar penuturan ibu, Arya merasa bersalah karna sudah berpikir negatif sama Najwa.