
Di pertigaan malam ibu melaksanakan sholat 2 rakaat, pikiran ibu bimbang, dia sadar usianya tidak lagi mudah, tapi kenapa ada seseorang yang mau melamarnya, jujur saja dalam relung yang dalam ibu masih mempunyai perasaan yang mati-matian di simpan untuk dokter Williams. semakin ibu mencoba melupakan tapi justru semakin sulit. ibu mengingat kata Mariya tadi siang saat makan siang di restoran.
"Ais, apa kamu ingin selamanya memendam perasaanmu?". tanya Mariya menatap dalam mata ibu, ibu terdiam, dia sadar cintanya pada dokter Williams masih sama seperti dulu waktu mereka bersama ketika SMA. memang benar kata orang cinta pertama sangatlah sulit untuk di lupakan, kebanyakan orang akan menyimpan sebagai kenangan, tapi ketika ibu melihat cinta suaminya begitu besar padanya dia bertekad membuang rasa cintanya pada dokter Williams, tapi semakin dia mencoba jujur semakin sulit pula, dia tahu perasaan itu salah, tapi sudah bermacam cara ibu lakukan untuk membuang perasaan itu tapi tetap sulit. ibu mencoba membuka perasaannya pada suaminya sedikit demi sedikit, nyatanya bukanlah perasaan cinta yang sama seperti rasa cintanya pada dokter Williams. mungkin yang hadir dalam perasaan ibu untuk suaminya adalah rasa kasih atas kesabaran suaminya, dan kewajiban sebagai seorang istri hingga dia memiliki 2 orang anak. ibu sadar dan menyimpan rasa cintanya untuk dokter Williams di relung hati yang dalam.
"kamu tahu, dulu suamimu meminta Will untuk menjagamu sebelum dia kecelakaan". ibu menatap Mariya dan Williams bergantian seolah meminta penjelasan lebih. "ya, suamimu bahkan sering menemui Williams, dia ingin melihatmu bahagia Ais, Williams awalnya menolak karna dia tidak mau mengganggu keluarga kalian, tapi suamimu memohon agar Williams bisa menjagamu dan anak-anakmu, dia menitipkan kalian pada Williams, setelah mengetahui suamimu meninggal Willi baru sadar jika itu adalah amanat suamimu, Williams rela meninggalkan kariernya dan kembali kesini untuk menjaga kalian dalam diam". Mariya menarik nafas dalam setelah mengungkapkan semua kenyataannya. dokter Williams hanya diam tanpa sedikitpun bicara, sedangkan ibu tanpa terasa sudut matanya berembun. "Ais, ashar pasti bahagia jika melihatmu bahagia dengan cintamu Ais, kamu jangan menyiksa perasaanmu, kalian berhak bahagia". kata Mariya melihat ibu dan Williams bergantian. "jika kamu takut anak-anakmu, kamu salah besar Ais, mereka pasti ingin melihat ibunya bahagia. mereka sudah pada dewasa Ais, mereka sudah mengerti apa yang terbaik untuk ibunya". ibu menghela nafas dalam, ya, memang yang di katakan mariya ada benarnya, "berikan aku waktu untuk berpikir". tutur ibu lemah. ibu mengusap air mata yang membasahi pipi mulusnya. "jika, kamu masih ragu, aku akan melamarmu pada anak-anakmu, kamu tenang saja, kalau mereka tidak menginjinkan. aku akan mundur". dokter Williams berkata dengan menatap ibu secara tulus.
"ya Rabb, berikanlah petunjukmu pada hambamu yang fana ini, jika memang kita jodoh, tolong mudahkanlah jalan kami, dan jika memang kita bukanlah berjodoh, hamba mohon hapus lah rasa cinta ini, yaa dzul jalaali wal ikraam.Allâhumma shalli wa sallim 'alâ sayyidina muḫamamdin, Alḫamdulillâhi rabbil 'âlamîn. Allâhumma innî astakhîruka bi 'ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa lâ aqdiru, wa ta'lamu wa lâ a'lamu, wa anta 'allâmul ghuyûb.
Allahumma fa-in kunta ta'lamu hâdzal amra khairun lî fî dînî wa dun-yâya wa 'âqibati amrî 'âjilihi wa âjilihi faqdurhu lî wa bârik lî fîhi tsumma yassirhu lî. Wa in kunta ta'lamu anna hâdzal amra syarrun lî fî dînî wa dun-yâya wa 'âqibati amrî 'âjilihi wa âjilihi fashrifnî 'anhu washrfhu 'annî waqdur liyal khaira haitsu kâna ainamâ kânû innaka 'alâ kulli syai-in qadîr. Wa shallallâhu 'alâ sayyidina muḫamamdin, walḫamdulillâhi rabbil 'âlamîn. Amin".
***
__ADS_1
Pagi ini arya dan Najwa berada di rumah sakit untuk memeriksa keadaan Najwa lebih lanjut. tadi pagi saat Najwa bangun Arya bertanya pada Najwa apakah Najwa masih datang bulan, dan Najwa baru teringat jika bulan lalu dia tidak datang bulan tapi 1 Minggu kemarin Najwa keluar bercak darah di bagian intimnya Najwa kira dia lagi datang bulan, tapi cuma sedikit keluarnya dan tidak keluar lagi. Najwa teringat kata ibunya jika orang hamil itu biasanya mengeluarkan bercak darah. Najwa ingin bertanya lanjut pada ibu, tapi Arya mengajak Najwa periksa ke dokter kandungan saja biar lebih jelas hasilnya. dan sekarang mereka sedang menunggu antrian, najwa menatap Arya sedari tadi tangan Arya gemetar, mungkin karna gugup.
"Kak, kakak gak kenapa-napa?". Arya mengulas senyum. "gak, cuma mas gugup". najwa melihat wajah Arya tersenyum lucu. "kakak ini aneh, nanti yang di periksa kan aku, kok kakak yang gugup?". Arya hanya tersenyum cengengesan.
"Nyoya Najwa". Najwa di panggil resepsionis. Najwa dan Arya melangkah menuju ruang dokter obgyn.
"permisi dok". Najwa membuka pintu.
"ya sudah, kita mulai saja priksanya, mari silakan masuk ke dalam!". ajak dokter Zahrah, Najwa dan Arya mengangguk dan mengikuti langkah dokter Zahrah. perawat membantu membaringkan Najwa di brankar lalu memberikan gel di perut Najwa dan di oleskan ya. setelah itu dokter Zahrah mulai USG nya, di lihatnya dalam rahim Najwa ada dua titik, yang kemungkinan embrio itu adalah kembar. "wah, anda beneran hamil mbak, dan lihat ini ada dua titik embrio, kemungkinan besar anda hamil anak kembar mbak". Arya begitu sok, mendengar jika Najwa telah hamil kembar, begitu juga dengan Najwa, "dok, anda bemeran?". tanya Arya pada dokter Zahrah. dokter Zahrah mengangguk, "usia kandungan anda sudah 6 Minggu". mata Arya berbinar, "Alhamdulillah honey, aku akan jadi seorang ayah". Arya mengecup kening Najwa. Najwa begitu bahagia melihat Arya sangat bahagia. "dokter, terimah kasih banyak". ungkap tulus Arya. dokter Zahrah mengangguk. "jangan berterimah kasih pada Tuhan, dia yang telah mengamanahkan seorang anak untuk kalian". wejangan pada Arya dan Najwa.
"mbak Najwa, harus rutin minum vitamin, dan kalau bisa jangan terlalu capek, karna trimester pertama biasanya itu masih rentan. jadi jaga kondisi anda baik-baik, jangan lupa bulan depan cek up lagi". ujar dokter Zahrah setelah memeriksa Najwa.
__ADS_1
"Baik dok, terimah kasih banyak". dokter Zahrah mengangguk.
"Bagaimana dengan Amel, semenjak 3 bulan ini aku belum pernah melihatnya?". tanya dokter Zahrah. "mbak Amel, baik-baik saja dok, dan sekarang dia mulai mengajar lagi, makanya dia gak sempat main kesini". tutur Najwa.
"salam buat Amel dan syarif ya!". Najwa mengangguk.
"Dok, kita permisi dulu ya, terimah kasih banyak". tutur Arya pamit, dokter Najwa mengangguk. "sama-sama".
"assalamualaikum". salam Najwa dan Arya bersamaan.
"waalaikum salam, hati-hati".
__ADS_1