Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 67


__ADS_3

Joy dan mariya menuju rumah dokter Williams. sampai di kediaman dokter Williams, Joy memarkirkan mobilnya. Mariya bergegas turun dari mobil, disusul Joy yang berjalan di belakangnya. Tadi waktu Joy menghubungi resepsionis bilang kalau dokter Williams sudah 2 hari tidak masuk karna sakit. Joy dan mariya lalu bergegas mengunjungi dokter Williams ke rumahnya.


Tok.. Tok.. Tok..


Ceklek..


Pintu di buka, nampak dokter Williams memakai mantel, wajahnya sangat pucat. "Will, kenapa kamu gak hubungi aku atau Jo kalau kamu lagi sakit?". gerutu Mariya masuk ke dalam rumah di susul dengan Joy. "aku gak apa-apa cuma demam biasa". tutur dokter Williams duduk di sofa. "badan pucat gitu bilang gak apa-apa". Mariya bercedak kesal. dokter Williams tersenyum, "kamu mau minum apa? aku buatin". tanya dokter Williams pada Mariya dan Joy. "kami gak haus". tolak Mariya. "kenapa kamu gak nikah Will, kalau sakit kan ada yang rawat kamu?". dokter Williams hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Mariya. "Will, sebegitu dalam kah perasaanmu pada Aisyah?". tanya Mariya, dokter Williams memberi isyarat jika ada Joy, tapi Mariya tidak peduli dia tetap melanjutkan katanya. "jika kamu cinta sama Aisyah maka katakan perasaanmu sejujurnya, sekarang tidak ada penghalang lagi, mungkin ashar juga akan bahagia melihat wanita yang di cintai nya bahagia. jangan terus kamu pendam perasaanmu sendiri Will, karna aku tahu Ais masih menyimpan rasa untukmu". dokter Williams terdiam, memang ada betulnya perkataan Mariya, "kenapa kamu begitu yakin Aisyah akan menerimaku?". lirih dokter Williams. "karna kalian saling mencintai, cinta itu tidak pandang usia Will, mungkin takdir tuhan menyatukan kalian disaat kalian sudah sama-sama matang". Joy hanya terdiam dia beranjak keluar membiarkan Mariya dan Williams berdua dan Joy sadar jika dirinya berada di sana dokter Williams akan canggung. "apa menurutmu anak-anaknya mau menerimaku?". lirih dokter Williams. "CK!. kamu pikir anak-anak Aisyah tidak ingin melihat ibunya bahagia?". benar kata Mariya, hanya saja Williams dan Aisyah terlalu takut. "cepatlah sembuh dan lamar Aisyah pada anak-anaknya!". Mariya beranjak meninggalkan dokter Williams sendiri, dokter Williams masih termenung dengan ungkapan Mariya tadi. "Jo ayo pulang!". Joy yang lagi duduk di taman segera beranjak mengikuti mommynya. sebenarnya Joy berat meninggalkan dokter Williams sendiri. tapi Joy juga tidak mau membanta ajakan mommynya. Joy menghubungi, manajer rumah sakit agar mengirim perawat untuk merawat dokter Williams.

__ADS_1


Sementara Arya bergegas pulang, dia sempat mengirim pesan pada Najwa, jika dia akan segera pulang, 'kak aku masih di rumah sakit'. pesan dari Najwa. 'baik kalau begitu aku langsung ke rumah sakit saja'. balas Arya. 'ya kak, hati-hati'. pesan Najwa masuk. 'okey Honney. i love u'. balas Arya, dia bergegas masuk mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit. kurang lebih 2 jam Arya sampai di depan rumah sakit, dia mengirim pesan pada Najwa. 'aku sudah di depan rumah sakit'. Arya keluar dari mobil dan berjalan ke lobi, ingin dia bertanya pada resepsionis dimana kamar Emily. tapi langkahnya terhenti saat ada seseorang memanggil namanya. "kak Arya!". Arya berbalik arah dan meneliti siapa yang memanggilnya. dan Najwa lah yang memanggilnya, "Honney, kenapa gak balas pesan mas?". Najwa mencium punggung tangan Arya. "maaf kak, gak sempat balas". Arya mengulum senyum. "ya sudah ayo kita ke ruang mbak Amel". titah Arya Najwa mengangguk. mereka berdua berjalan beriringan sambil berpegangan tangan.


"assalamualaikum". salam arya dan Najwa bersama masuk ke kamar inap Emily. "waalaikum salam". jawab ibu dan Emily, sedangkan Syarif tadi pamit untuk sholat di masjid rumah sakit.


"ibuk, gimana kabarnya?". Arya mencium punggung tangan ibu. "Alhamdulillah nak". jawab ibu, Arya bergegas menghampiri Emily di brangkar. "maaf mbak, baru sempat jenguk". tuturnya pada Emily. Emily menggeleng, "gak apa-apa kok, dan terimah kasih banyak sudah sempatkan ke sini". Arya tersenyum membalas ungkapan Emily. "oh ya, dimana Syarif?". tanya Arya karna tidak melihat keberadaan Syarif. "tadi Syarif pamit untuk sholat di masjid". jawab ibu. Arya melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan waktu magrib hampir tiba. "kak Arya duduk disini dulu, kakak gak capek". ajak Najwa. Arya mengangguk. dan duduk di sofa bersama Najwa. sedangkan ibu beralih duduk di samping Emily.


"Syarif..". sapa seseorang di sampingnya. Syarif menengok ke arah sampingnya ternyata ada Arya. "kamu kapan datang?". Arya menarik nafas dalam, karna dia sangat lelah. "tadi, kata ibuk kamu lagi ke masjid". kata Arya, mereka masih berjalan bersama keluar masjid. "gimana pekerjaan? maafkan aku". tanya Syarif pada Arya. "udahlah, kamu gak usah pikirkan pekerjaan fokus saja dulu sama kesembuhan istrimu, tenang saja, aku bisa atasi kok, dijamin deh gak bakal kayak dulu". kekeh Arya. Syarif ikut tersenyum. "terimah kasih banyak". Syarif menepuk pundak Arya. Arya mengangguk. "kamu mau sudah makan?". tanya Syarif, Arya menggeleng. "sebaiknya kamu makan dulu". titah Syarif. "ya, ini sekalian nunggu najwa, nanti kita makan di rumah saja, kasihan bibi udah masak". Syarif mengangguk, "kalau begitu aku duluan ya". pamit Syarif. Arya mengangguk, dia duduk di serambi masjid menungguh Najwa keluar, sedangkan Syarif bergegas kembali ke kamar Emily, sesampai di lobi Syarif teringat jika Emily memesan roti, Syarif kembali ke arah keluar, dia berjalan ke mini market di sebrang jalan.

__ADS_1


Saat seusai memilih barang yang di beli Syarif tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita.


Bruk..


Barang yang di bawah Syarif terjatuh begitu juga dengan ponsel wanita itu.


"Maaf!!". ungkap Syarif sambil memunguti belanjaannya yang berserakan.

__ADS_1


"lain kali Kalau jalan itu hati-hati dong!". gerutu wanita itu mengambil ponselnya yang jatuh. Syarif menghela nafas, wanita itu melihat ke arah Syarif dia tersenyum manis. "ternyata kamu mas, kok kebetulan banget". ucap wanita itu pada Syarif. Syarif seolah tidak asing dengan suara wanita itu, dia pun berdiri dan menatap wanita itu. "ternyata anda nona". sarkas Syarif. "jangan-jangan kita jodoh". ungkap wanita itu mengedipkan matanya pada Syarif. Syarif dengan cepat mengelak dan berjalan menuju kasir. wanita itu tersenyum licik. "ayolah mas, minum kopi dulu disini denganku". godah wanita itu mengikuti Syarif. Syarif menggeleng. "terimah kasih nona, tapi saya sedang sibuk!". tolak Syarif, lalu membayar tagihannya dan bergegas pergi meninggalkan wanita itu. wanita itu masih mengejar Syarif. "Okey lah, kalau sekarang kamu sibuk bagaimana kalau Minggu depan, ada projek baru yang akan ku bahas!". kata wanita itu, Syarif berhenti melangkah, "jika soal pekerjaan, anda hubungi teman saya Arya, dia yang akan menghendel semua". terang Syarif pada wanita itu. "oke, nanti akan aku suruh asistenku menghubungi partnermu". Syarif lalu mengangguk. dia beranjak meninggalkan wanita itu. sedangkan wanita itu bersorak ria kembali ke mini market untuk membeli sesuatu.


__ADS_2