
Pagi yang cerah, hari ini adalah hari dimana Emily dan Syarif akan menemui dokter obgyn. mereka akan berkonsultasi.
"Buk, kita pergi dulu ya!". pamit Emily pada ibu. "nak, Allah menguji kita tidak akan melampaui batas, terus berikhtiar juga lebih baik, tapi kalian harus selalu bersabar, kamu tahu kan dulu ibu juga hampir 8 tahun baru memiliki seorang anak, dan ibuk harap kamu jangan terlalu sedih!", ucap ibu membelai pipih Emily, Emily mengangguk. "buk, doakan kita ya!", Emily mencium takzim punggung tangan ibu. "doa ibu selalu yang terbaik untuk kalian". ibu mengantar Emily dan Syarif sampai depan rumah. "assalamualaikum". pamit Emily dan Syarif. "waalaikum salam". ibu menatap nanar kepergian Syarif dan Emily.
"assalamualaikum...". Najwa mengetuk pintu rumah. ibu yang mendengar salam segera membuka pintu. "waalaikum salam". Najwa berhambur ke pelukan ibu, "ibuk,, Najwa kangen". ibu membelai punggung Najwa. "nduk, kok gak bilang mau kesini dan mana Arya?", tanya ibu menelisik ke semua penjuru arah mencari keberadaan Arya, "Kak Arya lagi beliin Najwa camilan buk". jelas Najwa, dia pun menggandeng ibu masuk ke dalam. "mbak Amel kemana buk?", "ke rumah sakit", Najwa terpengangah, "siapa yang sakit buk?", senyum simpul ibu terukir, "mereka sedang konsultasi dengan dokter obgyn". Najwa mengangguk mengerti, "semoga saja mereka cepat di beri momongan ya buk!". doa Najwa. "amin..". terdengar derap langka kaki menghampiri ibu dan Najwa yang berada di dapur, "assalamualaikum", Arya membawa begitu banyak camilan snak yang dia beli dari pasar. "waalaikum salam". jawab Najwa bersamaan dengan ibu. Najwa terpengangah melihat barang yang Arya beli, "Kak Arya, beli apa aja, kok banyak banget?", Arya meletakkan kantong plastik yang membungkus jajanan tersebut. "aku beli cimol dan snak, katanya kamu pengen nyemil jadi aku beli banyak untuk mu Honney". ulas Arya tersenyum. ibu hanya memperhatikan kelakuan mantunya dengan senyum.
Emily merasa gugup saat di priksa oleh dokter di dalam ruang praktik di bantu oleh seorang perawat dokter Zahra adalah teman Syarif dia memeriksa Emily, perawat mengoles jel di perut Emily, kemudian dokter Zahra mulai USG di lihatnya rahim Emily, nampak terlihat ada sesuatu yang aneh di dalam perut Emily terlihat seperti ada benjolan, dan terlihat dokter Zahra menatap Emily dengan serius. Emily makin takut dengan hasil USG nya. "Nyonya, apa anda sering sakit perut?". Emily mengangguk, dokter Zahra menghela nafas kasar.
__ADS_1
Syarif dan emily duduk di kursi di depan dokter Zahra, dokter Zahra melihat ke arah Syarif dan Emily bergantian. hening seketika.
"Jadi gimana dok dengan hasilnya". tanya Syarif memecah keheningan. dokter Zahra menarik nafas berat untuk menjelaskan pada mereka. "Dari hasil USG tadi istri mu di rahimnya ada sebuah benjolan, dan itu adalah miom".
Deg.
"tolong Zahra jangan bercanda!". titah Syarif pada dokter Zahra. "sabar Syarif, miom bisa di gempur dengan obat, dan beberapa terapi, sehingga kamu masih bisa mempunyai anak". tutur dokter Zahra. "aku ingin yang terbaik untuk istriku, lakukan apapun untuk mengobati nya!". tekan Syarif. Emily hanya diam, dia masih tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar. "kamu bisa membawa istrimu berobat ke luar negri jika kamu mau pengobatan yang maksimal". dokter Zahra menghela nafas dalam. "dokter jika tidak bisa di gempur dengan obat apa yang akan terjadi?". lirih Emily. "jalan satu-satunya adalah pengangkatan rahim". air mata Emily makin deras, jika rahimnya di angkat dia tidak bisa hamil. itu adalah kenyataan yang paling menyakitkan bagi Emily. Syarif memeluk Emily dengan erat. "sayang Allah mungkin menguji kita, dan akan menaikkan derajat kita, kita harus bersabar, pasti Allah memberikan jalan yang lebih baik".Emily terus terisak dia rapuh. tapi dia juga sadar jika semua telah di gariskan tuhan. Emily harus tabah dan menerima takdir, tapi Emily juga tahu jika takdir bisa di ubah lewat doa dan ikhtiar. "maafkan aku". lirih dokter Zahra. "ini bukan salah dokter, ini sebuah takdir tuhan untukku". Emily menyeka air matanya. "lakukan yang terbaik Zahra, aku mohon!". pinta Syarif. "aku akan melakukan yang terbaik Syarif, sementara istrimu harus meminum obat secara rutin, nanti obat ini kamu tebus di apotek", dokter Zahra menulis resep untuk Syarif lalu memberikannya. "besok lusa kalian kesini lagi untuk kontrol", tekan dokter Zahra. Syarif mengangguk, begitu juga dengan Emily. mereka beranjak pergi dari ruang tersebut. dokter Zahra mengantar kepergian mereka, "kamu tenang saja, banyak pasienku yang mengalami kasus sepertimu tapi mereka masih bisa punya anak, aku yakin kamu wanita yang tangguh seperti namamu jadi kamu harus kuat dan melawan penyakit ini ya nyonya Syarif!". Zahra memeluk Emily, emliy pun mengangguk, selesai menebus obat Syarif dan Emily bergegas pulang. Syarif menyuruh Abi untuk menghendel bengkel, lalu menghubungi tiap bawahannya untuk menghendel tiap-tiap usaha yang dia miliki bersama Joy.
__ADS_1
***
Joy menghela nafas dalam, setelah membaca pesan dari Syarif. mariya yang duduk di samping Joy pun angkat bicara, "mommy punya teman wanita dia dokter obgyn yang hebat, mungkin dia bisa bantu". saran Mariya, Joy menatap Mariya sejenak, "Zahra itu juga pandai, dia juga sudah beberapa kali menangani kasus seperti ini, tapi jika teman mommy mau membantu itu lebih bagus". mariya mengangguk. "aku akan mencoba menemuinya mudah-mudahan dia mau". mariya beranjak dari duduknya segera menemui teman seangkatan waktu sekolah di LA.
Di taman ibu duduk termenung, teringat kejadian tadi siang, sewaktu Syarif dan Emily pulang dari klinik, Syarif menjelaskan kepada ibu jika di rahim Emily ada benjolan, ibu sedikit tahu tentang penyakit itu karna dia dulu seorang perawat dia juga melanjutkan ke AKBID tapi terhalang kondisi jadi tidak sampai lulus. Ibu tahu pasti Emily sekarang sangatlah sedih, dia beranjak ke kamar Syarif.
Tok.. Tok.. Tok..
__ADS_1
Syarif membuka pintu, "ibuk,, ". lirihnya, ibu melihat Emily masih termenung duduk di tempat tidur. ibu masuk menghampiri Emily, "nak..". Emily menatap ibu, tanpa terasa air matanya membasahi pipinya, ibu duduk di samping Emily lalu memeluknya. "Nak, kamu sabar ya sayang, Allah ingin meninggikan drajatmu nak dengan ujian ini, karna Allah sayang sama kamu". lirih ibu menenangkan Emily, Emily makin terisak di pelukan ibu. "setiap cobaan yang Allah berikan pasti ada jalan nak, kamu harus kuat dan melawan penyakitmu, kami selalu ada untukmu nak, ibuk akan selalu bersamamu nak". Emily hanya menangis dia ingin menumpahkan semua rasa sedihnya di pelukan ibu. Syarif menyeka butiran air matanya dia tidak kuasa melihat Emily terus sedih dan menangis, dia memilih beranjak meninggalkan ibu dan Emily di kamar.