Tuntun Aku Jadi Makmummu

Tuntun Aku Jadi Makmummu
Bab 33


__ADS_3

Joy memarkirkan mobilnya di depan pondok dia hendak masuk ke pondok tapi dia enggan karna dia merasa malu untuk masuk dan Joy berpikir dia tidak pantas masuk ke pondok, menurutnya pondok adalah tempat seorang muslim untuk belajar agama sedangkan dia adalah non muslim, sampai dia putuskan untuk menungguh Najwa di depan pondok.

__ADS_1


Tidak lama kemudian ada mobil mewah masuk ke pekarangan pondok, Joy mengernyit melihat mobil tersebut seperti tidak asing, Joy terus memperhatikan mobil itu, dan mobil itu berhenti di halaman pondok, seorang pemuda turun dari mobil dan membukakan pintu, keluarlah seorang wanita yaitu ustadzah Aini, pemuda itu berpamitan pada ustadzah Aini dan kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu keluar area pondok, Joy melirik ponselnya di lihat chat nya belum di baca oleh Najwa, Joy memilih pergi dari pondok dan menuju markas, sampai di gang sempit Joy memarkirkan mobilnya, dia melihat di depan gang mobil yang tadi dilihatnya di pondok parkir di sebelah jalan, dan turunlah seorang wanita dari mobil itu, Joy terus memperhatikan wanita itu dari kejahuan dia melihat wanita itu berterimah kasih pada orang yang mengantar, wanita itu berjalan menuju markas, sedangkan mobil yang mengantar tadi melaju melewati Joy, Joy berjalan menuju markas, Joy terus mengikuti wanita itu dan sesampai di markas wanita itu hendak masuk tapi di cega, "apa tak bisakah kau memberi tahu jika datang telat?", ucap Joy menghentikan Najwa, Najwa yang merasa kaget pun menoleh ke belakang mencari sumber suara yang tidak asing baginya "Maaf mas, ponsel Najwa tadi mati", Najwa tertunduk dia takut Joy akan marah pada nya. "anak-anak sudah menungguhmu", najwa menurut dia bergegas menuju kelas.

__ADS_1


Dua insan sedang di madu cinta, mereka menyalurkan hasrat yang telah di pendam kesekian kalinya Syarif mencoba mencumbu Emily, decapan kedua bibir mengisi keheningan di dalam kamar, lembut Syarif membelai Emily, "kamu sudah siap sayang?",tanya Syarif lembut di telingah Emily, Emily hanya mengangguk menikmati sentuhan yang di berikan Syarif, "tapi besok kita pulang, kalau kita melakukan sekarang aku takut kamu gak bisa jalan", lirih Syarif terus mendekap Emily dengan kecupan-kecupan yang dia ciptakan di dada Emily, Emily terus mendesa menikmati tiap tanda yang di berikan Syarif, "cukup dengan begini saja sayang, besok saja kalau di rumah kita lakukan yang lebih", Syarif membelai rambut Emily dengan lembut, "sekarang kita istirahat dulu, nanti setelah ashar kita bangun", Syarif membawa Emily tidur di dadanya, Emily pasra apapun yang di lakukan Syarif padanya.

__ADS_1


Mama Arya sedang menata vas bunga dia membantu ART membereskan rumah, mama Arya di kagetkan dengan pelukan Arya dari belakang, "mama, Arya senang banget", mama mengernyit dan berbalik menatap Arya, "kenapa? apa yang membuatmu se gembira ini?", tanya mama lembut, "mama Arya akan mengungkapkan perasaan Arya pada Najwa ma", binar bahagia terukir di wajah mama Arya, "mama seneng mendengarnya, mama akan bilang sama ayah besok kita akan melamar Najwa", Arya mencega mamanya karna dia baru ingin mengungkapkan perasaannya pada Najwa dulu,"jangan ma, Arya cuma mengungkapkan perasaan Arya saja dulu, soal melamar jika Najwa juga suka sama aku baru Arya akan melamarnya", terlihat kekecewaan di wajah mama Arya, "Lebih baik menikah dulu Arya baru pacaran", saran mama kecewa dengan ungkapan Arya, "Arya tahu ma, Arya gak akan pacaran mama, Arya akan menikahi Najwa jika Najwa juga mencintai Arya", lembut Arya menjelaskan pada mamanya, "mama percaya sama kamu nak, semoga Najwa mau jadi makmummu", doa mama untuk Arya, mama mengusap kepala Arya dengan lembut, "amin ma", mama Arya melanjutkan aktifitasnya dan Arya duduk di sofa di samping mamanya.

__ADS_1


Anak-anak begitu antusias ketika Najwa bilang kalau Najwa mau mengajari anak-anak yang muslim mengaji Al Qur'an, dan kebetulan disini semua anak-anak seorang muslim, jadi se usai mengajar membaca dan menulis Najwa mengajari mereka membaca Al Qur'an, mulai dari jilid 1, sementara ini Najwa baru memperkenalkan huruf-huruf Hijaiyah, dan besok Najwa akan membelikan buku untuk anak-anak metode membaca Al Qur'an, Joy yang memperhatikan di luar kelas merasa senang karna Najwa begitu telaten dan sayang pada anak-anak tersebut. Najwa mengakhiri pembelajaran hari ini karna sudah hampir malam, "Besok kita belajar lagi ya, maaf tadi kak Najwa terlambat karna kakak ada kendala, besok kakak akan kesini lebih awal, sekarang kita baca doa dulu sebelum ya", anak-anak mengangguk dan mengikuti doa yang di lafalkan Najwa, selesai doa Najwa mengakhiri dengan salam dan di jawab oleh anak-anak, mereka pun keluar kelas bersama-sama. melihat Joy di depan kelas anak-anak berpamitan pulang pada Joy, Joy melambaikan tangan, "Hati-hati di jalan", anak-anak mengangguk. bersamaan dengan itu Najwa keluar kelas, Najwa tidak menyangka Joy yang kaku dan tegas ternyata mempunyai sifat yang penyayang, Joy melihat Najwa yang terpaku, "EHEM", Dehem Joy membuyarkan lamunan Najwa, "kamu aku antar pulang, sekalian aku mau bahas sesuatu", Najwa mengangguk, menolak pun tak mungkin, karna perkataan Joy seakan perinta, itulah pikiran Najwa tentang Joy. najwa mengikuti langka Joy melewati gang sempit, karna mobilnya tidak bisa parkir di depan markas, jadi mobil di parkir di pekarangan rumah orang itupun Joy menyewa tempat itu untuk parkir, karna pemilik tanah tidak mau menjual tanahnya, "lebih baik kamu pinda ke depan", seru Joy tapi Najwa tidak bergeming, "kenapa tidak mau?", tanya Joy kepada Najwa, "mas, saja yang di depan aku di belakang saja", Joy geram, Najwa yang tahu segera memberi penjelasan pada Joy, "kalau wanita berjalan di depan lelaki yang bukan mahram tidak baik, karna bisa saja setan akan mempengaruhi dan menimbulkan mata berbuat zinah", Joy tambah geram, "aku bukan pria seperti itu", Najwa pun dengan telaten menjelaskan pada Joy, "zinah mata itu adalah dimana orang akan melihat sesuatu dan menimbulkan pikiran yang tidak senono, setan bisa saja dengan mudah menghasut manusia", Joy mendengus, dia sadar Najwa seorang muslimah, tidak seperti perempuan lain yang dengan mudah mau di sentuh dengan mudahnya. "Terus jika terjadi sesuatu padamu aku tidak tau jika aku yang di depan", lama mereka terdiam dengan keangkuhan masing-masing, "Begini saja kita jalan bersamaan apa itu juga tidak boleh", Joy memberi saran, Najwa pun menimang dan dia mengangguk, ahirnya mereka berjalan berjejeran tapi Joy dan Najwa tau batasan mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2